Qurratul Aini
Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Aceh

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERGESERAN DESAIN BANGUNAN DALAM MASA PERKEMBANGAN ARSITEKTUR DI INDONESIA Qurratul Aini
Arsitekno Vol 8, No 2 (2021): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v8i2.4394

Abstract

Arsitektur Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangannya terlihat dalam bentuk fasad dan respon terhadap lingkungan, di mana mengalami pergeseran desain dari masa tradisional hingga masa modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran desain secara fisik, yang terjadi dalam periode perkembangan arsitektur Indonesia, dengan metode kualitatif deskriptif. Dalam perkembangannya terdapat beberapa pergeseran desain bangunan yang terlihat pada pergeseran penggunaan material, pergeseran prinsip penerapan material, perubahan desain elemen pembentuk ruang, yaitu lantai dan atap. Style bangunan juga mengalami pergeseran dari style tradisional, style modern hingga style yang kembali mempertimbangkan pengaruh lingkungan dalam desainnya.
ARSITEKTUR KONTEKSTUAL Qurratul Aini; Sayed M. Khatami
Rumoh Vol. 8 No. 15 (2018): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.814 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i15.34

Abstract

Konteks merupakan batasan yang berkaitan erat dengan lokasi sebuah obyek arsitektural, karena arsitektur bisa didesain sesuai atau tidak dengan konteks. Konteks penting karena pengguna rancangan adalah mereka yang terelasikan oleh konteks arsitektural. Konteks arsitektural bisa berarti sejarah, lokasi, arkeologi maupun ekologi disekitar lokasi arsitektur. Arsitektur Kontekstual gedung harus dirancang dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur dan lingkungan yang ada di sekitarnya, serta harus mempertimbangkan perwujudan kualitas bangunan gedung dan lingkungan. Beberapa ciri Arsitektur Kontekstual adalah adanya pengulangan motif dari desain bangunan sekitar, Pendekatan baik dari bentuk, pola atau irama, ornament, dan lain-lain terhadap bangunan sekitar lingkungan, hal ini untuk menjaga karakter suatu tempat, meningkatkan kualitas lingkungan yang ada .
PERPUSTAKAAN MODERN DI SABANG: Arsitektur Postmodern Nasruna Usman; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 8 No. 16 (2018): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.979 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v8i16.55

Abstract

Pengunjung perpustakaan di Kota Sabang berdasarkan badan perpustakaan daerah sangat minim, yaitu mencapai 11% dari jumlah penduduk per tahunnya. Perpustakaan yang ada di Kota Sabang berupa perpustakaan keliling, perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa yang pengelolaannya kurang maksimal. Kondisi ketidaknyaman untuk membaca pun tidak tercapai serta media pelayanan masih menggunakan sistem manual atau belum menggunakan sistem teknologi digital. Untuk itu diperlukan perencanaan perpustakaan yang dapat menumbuhkan kembali budaya membaca di perpustakaan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Lokasi perencanaan Perpustakaan Modern terletak di Sabang hill, Sukakarya, Sabang, Aceh, Indonesia.Perpustakaan modern yang akan didirikan termasuk kedalam klasifikasi Perpustakaan Umum dan tergolong kedalam perpustakaan Terotomasi. pendekatan tema Arsitektur Postmodern yang bertujuan untuk mengangkat kembali nilai kontekstual dan lokalitas yang ada di lingkungan sekitar. Pada perencanaan ini disertai dengan Analisis-analisis yang di pakai berupa analisis fungsional, analisis tapak atau lingkungan dan analisis bangunan.Bangunan perpustakaan modern ini ditransformasikan dari bentuk buku serta adanya penambahan bentuk setengah dan seperempat lingkaran di sisi kiri dan kanannya. Luas lahan untuk perpustakaan modern di Sabang ini 29.100 m², Massa bangunan yang direncanakan menggunakan pola massa tunggal. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 80% yaitu 23,280 m² dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 2,4 dikali dengan luas lahan tersedia yaitu 69,840 m². Dengan fasilitas-fasilitas seperti taman baca terbuka, ruang koleksi buku, ruang digital, pustaka langka, dll.
EVALUASI TERHADAP PENGARUH PENGHAWAAN DAN PENCAHAYAAN PADA MUSEUM TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH Qurratul Aini; Imam Aulia Rani
Rumoh Vol. 9 No. 17 (2019): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.774 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v9i17.70

Abstract

Pencahayaan dan penghawaan memiliki dua sistem yaitu buatan dan alami. Sistem ini sangat berpengaruh terhadap ruang yang akan di rencanakan, seperti ruang-ruang pada sebuah rumah sebaiknya memanfaatkan sistem pencahayaan dan penghawaan alami agar dapat menghemat energi listrik sedangkan pada bangunan seperti museum sebaiknya menggunakan pencahayaan dan penghawaan buatan, karena pada museum terdapat barang-barang yang harus terjaga dari pancaran sinar matahari langsung. Pencahayaan merupakan kebutuhan penerangan pada suatu ruang agar dapat menghindari ruang yang gelap dan pengap, penghawaan merupakan aliran udara yang di alirkan ke dalam ruangan agar pengguna merasakan kenyamanan.
ARSITEKTUR POST-MODERN Qurratul Aini; Hayatullah Hayatullah
Rumoh Vol. 9 No. 18 (2019): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.728 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v9i18.79

Abstract

Kebangkitan revolusi industry yang dimulai pada awal abad XIX telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam skala besar pada pola hidup dan pola pikir masyarakat pada saat itu. Perubahan ini turut memberikan pengaruh besar dalam perkembangan arsitektur dan membawa perubahan tersendiri pada beberapa karya arsitektur. Dipelopori oleh Le Corbusier, arsitektur modern dengan tiga tahap perkembangannya mulai ditinggalkan pada tahun 1960-an. Sebagai penyempurnaan, lahirlah arsitektur post modern yang digagas oleh Charles Jencks. Beberapa bangunan yang mengaplikasikan design arsitektur post modern diantaranya adalah gedung bank nasional Georgia yang terletak di Tbilisi,Bangunan Hotel Asia yang terletak di Surakarta serta Museum Tsunami Aceh yang terletak di Banda Aceh. Arsitektur post modern selalu berusaha mempertahankan bangunan lama yang memiliki nilai sejarah tinggi dengan cara membuatnya berdampingan dengan bangunan baru sehinga keduanya akan saling mendukung. Meskipun tidak sepopuler gaya arsitektur lainnya, arsitektur post modern masih terus berkembang dan digunakan hingga saat ini.
ISLAMIC CENTER DI KABUPATEN NAGAN RAYA: Tema: Green Architecture Heri Safriadi; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.325 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.97

Abstract

Kecamatan Suka Makmue merupakan salah satu Kecamatan yang sedang mengalami pemekaran dari 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Nagan Raya.Oleh karena itu sangat cocok untuk pembangunan sebuah sarana dan prasarana Islamic Center yang diharapkan bisa menampung segala jenis kegiatan yang bergerak dibidang Informatika Islam sperti; Masjid, Museum peninggalan bersejarah Islam, Perpustakaan Islam serta kegiatan pendidikan yang bersifat formal seperti; Sekolah Informatika Islam tingkat SMP dan Sekolah Informatika Islam tingkat SMA, dan pendidikan yang bersifat informal seperti; Perlombaan TPQ, MTQ serta tempat perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Konsep rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya menerapkan konsep holism yaitu penerapan keseluruhan prinsip-prinsip green architecture yang ramah lingkungan dan sedikit menkonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta sedikit menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sehingga mampu memberikan citra bagi masyarakat Kabupaten Nagan Raya serta karakter tersendiri bagi bangunan Islamic Center Kabupaten Nagan Raya itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya diawali dengan pendekatan studi literatur dari studi objek sejenis, studi lapangan (survey) dan penekanan tema pada bangunan sehingga dapat menghasilkan satu desain rancangan yang sesuai dengan kondisi tapak, lingkungan dan potensi tapak serta jumlah pemakai bangunan itu sendiri. Rancangan Islamic Center di Kabupaten Nagan Raya memiliki luasan lahan 3 Ha (Hektar) dan jumlah pemakai bangunan Islamic Center 5% dari jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Nagan Raya yaitu 8.356 jiwa.
REDESAIN PASAR INDUK LAMBARO DI ACEH BESAR: Tema: Arsitektur Neo Vernakular Dhany Safandi; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 19 (2020): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2126.539 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i19.106

Abstract

Redesain Pasar Induk Lambaro di Aceh Besar dilatar belakangi oleh kondisi pasar yang kumuh dan tidak teratur, terbatasnya ruang untuk berjualan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam proses jual beli. Maksud dari perencanaan ini adalah menciptakan sebuah pasar yang bersih, nyaman dan aman bagi pejual dan pembeli dengan tujuan menghilangkan kesan pasar tradisional yang kumuh lewat penataan pembangunan yang lebih baik. Rumusan masalah merencanakan kembali Pasar Induk Lambaro yang sesuai dengan standar dan menerapkan tema Arsitektur Neo Vernakular. Pasar Induk Lambaro terletak di Desa Lambaro Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Tema Arsitektur Neo Vernakular dipilih berkeinginan untuk menciptakan bangunan yang berangkat dari adat istiadat dan budaya setempat, guna mempertahankan kebiasaan/tradisi masyarakat Aceh yang secara turun temurun dan penguatan identitas lokal. Klasifikasi perancangan tergolong kedalam jenis Pasar Induk dengan lingkup pelayanan Pasar Regional, dan kepemilikan pasar adalah Pemerintah. Analisis – analisis yang dilakukan ialah seperti analisis lingkungan, analisis fungsional dan analisis bangunan. Penerapan rancangan di angkat dari unsur budaya dengan mempertahankan gaya Arsitektural Rumoh Aceh serta mengatur pola ruang bangunan yang sesuai, guna menghindari kebiasaan masyarakat Aceh dari segi ketidak teraturannya. Pasar Induk Lambaro memiliki luas lahan ±37.353 m² (3.7 Ha). Massa bangunan merupakan massa tunggal yang teridiri dari 2 lantai, dengan luas lantai dasar 13.086 m² dan luas lantai keseluruhan 25.124 m². Fasilitas yang akan direncanakan pada Pasar Induk Lambaro yaitu Kegiatan Utama (Pasar Basah dan Kering), Kegiatan Penunjang (Kafetaria, Ruang Laktasi, Musholla, Atm Center, dan Klinik), Kegiatan Pengelola (Kantor Pengelola) dan Kegiatan Servis (Pos Keamanan, Cleaning Servis, Gudang Barang, dan Cassier Of Parking).
RENTAL OFFICE DI BANDA ACEH: Tema: Arsitektur Neo Vernakular Uci Faradilla; Qurratul Aini
Rumoh Vol. 10 No. 20 (2020): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.478 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v10i20.116

Abstract

Rental Office di Banda Aceh di khususkan untuk perusahaan dalam bidang jasa konstruksi dan jasa notaris. Di Banda Aceh, bidang jasa konstruksi dan jasa notaris banyak menjadikan pertokoan dan rumah tinggal sebagai tempat usaha, sehingga menyebabkan bangunan di Banda Aceh beralih fungsi. Perencanaan Rental Office di Banda Aceh berlokasi di jalan T. Hasan Dek, Simpang Surabaya, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Maksud dari perencanaan ini adalah agar tidak terjadinya perubahan fungsi bangunan secara berkelanjutan di masa yang akan datang, serta tersedianya kebutuhan ruang usaha yang mampu menampung kegiatan perkantoran sesuai dengan standarisasi. Pendekatan tema pada rancangan menggunakan Arsiektur Neo-Vernacular, dengan alasan ingin menampilkan identitas lokal daerah Aceh, yang dikombinasikan dan disesuaikan dengan perkembangan pembangunan pada masa sekarang. Klasifikasi desain yang diterapkan menggunakan, modul ruang sewa yaitu Small Space, Medium dep Space dan Large Space. Berdasarkan peruntukannya, klasifikasi kantor berfungsi majemuk dan berdasarkan tipikal pencapaian menerapkan klasifikasi tipe koridor terbuka. Analisis yang dipakai dalam bangunan ini yaitu analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Rental Office di Banda Aceh berorientasi ke arah timur dan barat, sebagai adopsi orientasi rumah tradisional Aceh. Menerapkan bentuk panggung sebagai pilotis dan menerapkan folosofi kebiasaan sosial masyarakat Aceh pada konsep ruang. Luas Lahan 3.0291 m2. Massa bangunan merupakan masa tunggal, dengan Koefesien Dasar Bangunan 7.134 m2, dan luas keseluruhan bangunan 34.614 m2. Rental Office di Banda Aceh menampung 54 perusahaan jasa konstruksi dan jasa notaris serta memiliki fasilitas penunjang yaitu ruang seminar, coffe shop, restoran, ruang laktasi, fitness center, bank unit dan mini market.
IDENTIFIKASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADA PASAR IKAN DI KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Henny Marlina; Qurratul Aini; Hazanul Fuady; Riskan Fauzy; Hijrah
Rumoh Vol. 11 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.849 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v11i2.171

Abstract

Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan kampung, diperlukan sarana perekonomian melalui pasar kampong sebagai pusat interaksi sosial masyarakat perkampungan. bentuk interaksi sosial di Kecamatan Baiturahman juga hadir pasar kampong, baik yang yang direncanakan secara permanen maupun pasar dadakan. Kecamatan Baiturahman memiliki beberapa pasar yang bersifat permanen yaitu; pasar pagi Setui, Pasar Mini Kampong Baro dan pasar pagi Peniti. Ketiga pasar inilah yang menjadi objek pengamatan. Objek pengamatan difokuskan pada pasar ikan dengan mengamati sistem pengolahan air limbah pada ketiga pasar ikan tersebut. Metode yang dilakukan melalui pengamatan dan wawancara terhadap pelaku pasar baik pengelola, pedagang dan pembeli. Berdasarkan Identifikasi Sistem Pengolahan Limbah pada ketiga Pasar Ikan di Kecamatan Baiturrahman ini, dapat disimpulkan bahwa: Terdapat dua jenis limbah di pasar ikan, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa bagian ikan yang tidak dipakai seperti: tulang, kepala, ingsang, kulit, usus, perut dan sisik. Limbah cair berupa darah ikan serta air dari hasil penyiraman dan pembersihan ikan. Sistem pengolahan limbah pada masing-masing pasar berbeda-beda. Sistem pengolahan limbah pada Pasar setui dilakukan dengan memisahkan limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diolah menjadi kompos dan limbah cair dialirkan melalui bak kontrol ke bak penguraian kemudian ke bak pengolah dan terakhir dibuang ke drainase. Pada Pasar Gemilang Kampung Baru dan Pasar Pagi Peniti, pengaliran limbah cair langsung dialirkan ke saluran yang ada di lingkungan tanpa pengontrolan jenis limbah, sedangkan limbah padat langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah. Proses pembuangan limbah cair pada pasar pagi peniti dilakukan melalui proses penyaringan namun tidak melalui proses pengolahan dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kondisi ketiga pasar tersebut sudah tersedia drainase khusus untuk mengalirkan limbah cair ke luar bangunan pasar. Namun proses pengolahan limbah baik padat maupun cair hanya dilakukan oleh Pasar Pagi Setui.
IDENTIFIKASI PENERAPAN KONSEP NEW NORMAL PADA KAFE DI ACEH: Identification of Application of the New Normal Concept at Cafes in Aceh Qurratul Aini; Henny Marlina; Febria Ningsih; Irval Huzairi
Rumoh Vol. 12 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.725 KB) | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.193

Abstract

Jumlah kafe di Aceh semakin hari semakin bertambah, sehingga menambah wadah berkumpul bagi masyarakat dalam bersosialisasi secara langsung. Saat kondisi pandemic Covid-19, kafe menjadi salah satu area publik yang dihimbau untuk mengatur pembatasan sosial. Berbagai kebijakan untuk menekan penularan virus dilakukan, yaitu; pembatasan waktu, pembatasan jarak dan pembatasan kuantitas pengunjung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan konsep new normal pada beberapa kafe di Aceh. Jumlah sampel adalah 21 kafe, yang berada di beberapa wilayah Aceh. Hasil yang diperoleh bahwa sebagian besar kafe yang berada di Aceh belum menerapkan konsep new normal secara signifikan, di mana 43% dari 21 kafe belum menerapkan konsep new normal. Penerapan konsep new normal yang paling banyak diterapkan adalah dengan memberi jarak lebih jauh antar set furniture yaitu mencapai 57%. Konsep lain yang juga diterapkan adalah mewajibkan memakai masker, sistem layanan take away dan mempertimbangkan penghawaan dan pencahayaan yang baik.