Miftahus Saadah
Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi komparatif reformasi pendidikan di Singapura dan Indonesia Miftahus Sa'adah
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 7, No 1 (2019): June
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.415 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v7i1.25273

Abstract

Perubahan zaman menuju era globalisasi menuntut dunia pendidikan untuk berkiprah secara aktif mempersiapkan generasi muda dalam menyongsong tantangan zaman. Kerangka pendidikan yang selama ini diterapkan juga harus beradaptasi dengan tuntutan zaman. Dalam menghadapi tantangan ini, sejumlah Negara telah menginisiasi diberlakukannya reformasi pendidikan. Artikel ini membahas tentang program-program refomasi pendidikan di dua Negara dengan latar belakang dan kondisi serta ideologi yang berbeda yaitu  Singapura dan Indonesia. Diantara program refomasi pendidikan di Singapura adalah Teach less, Learn More; Thinking School, Learning Nation, dan School Excellent Model. Sedangkan kebijakan refeormasi pendidikan di Indonesia diantaranya diselenggarakan dengan desentralisasi pendidikan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Kurikulum 2013, serta program sertifikasi guru. Dari hasil pembahasan, dapat diketahui bahwa Singapura telah berhasil menyelenggarakan reformasi pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari kualitas pendidikan Singapura yang masuk dalam ranking teratas Negara-negara dengan pencapaian standar pendidikan internasional. Sementara itu, Indonesia nampak masih harus berjuang untuk mencapai tujuan reformasi pendidikan. Hasil implementasi pendidikan yang berbeda di kedua Negara ini tentu dikarenakan perbedaan latar belakang, serta kondisi sosial, ekonomi, politik budaya dan geografis kedua Negara tersebut. Dengan demikian, dapat  disimpulkan bahwa banyak factor yang mempengaruhi keberhasilan penyelengaraan reformasi pendidikan di sebuah Negara.  AbstractGlobalization requires education to actively take part in preparing the young generation to face the challenges. The educational framework which has been implemented should also adapt to the existing new challenges. To deal with this, a number of countries have initiated the implementation of educational reform. This article discusses educational reformation programs conducted in two countries which have a different background as well as different ideology, social, economic, political, and geographical circumstances i.e., Singapore and Indonesia. Some of the main educational reform agendas in Singapore are Teach less, Learn More; Thinking School, Learning Nation, and School Excellent Model. Meanwhile, educational reform programs in Indonesia are conducted through educational decentralization within the framework of school-based management, School-level Curriculum, and the 2013 curriculum and teacher certification. It can be understood that Singapore has succeeded in conducting educational reform. This can be seen from the quality of Singapore's education which has been ranked high in achieving the benchmark of international education standard. Meanwhile, Indonesia still needs to struggle to achieve the desired outcomes of educational reform agendas. The differing result of educational reform revealed in these two countries resulted from different backgrounds of the countries. Thus, it can be concluded that there are a number of factors influencing the success of educational reform agendas in a country.
Kepemimpinan sekolah berbasis pendidikan multikultural Miftahus Sa'adah
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 6, No 2 (2018): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.409 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v6i2.22602

Abstract

Pendidikan multikultural yang diintegrasikan dalam pendidikan formal di sekolah urgen diterapkan di Indonesia mengingat keragaman budaya yang dimilikinya. Sekolah hendaknya menjadi wadah yang efektif bagi penanaman sikap multikultural siswa sebagai generasi penerus bangsa. Akan tetapi dalam kenyataannya, sekolah masih belum mampu secara efektif menumbuhkan jiwa multikultural siswa terbukti dengan maraknya fenomena perkelahian antar pelajar. Disisi lain, kepala sekolah merupakan ujung tombak dan pelopor bagi penciptaaan lingkungan dan budaya multikultural dalam sekolah. Artikel ini membahas tentang model kepemimpinan sekolah yang diharapkan dapat merancang, menumbuhkan, mengimplementasikan dan memelihara budaya multikultural di sekolah yang pada gilirannya dapat membentuk pribadi-pribadi siswa yang ramah dan menghargai perbedaan dan keragaman. Kesimpulan dalam artikel ini menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional diharapkan dapat membawa perubahan, menginspirasi sekaligus menjadi role model bagi terciptanya budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dalam keragaman yang sesuai dengan tujuan pendidikan multikultural di Indonesia.Kata kunci: kepemimpinan transformasional, kepala sekolah, pendidikan multikultural SCHOOL LEADERSHIP BASED ON MULTICULTURAL EDUCATIONAbstractConsidering the massive diversity of Indonesian cultures, multicultural education integrated within schools as the arrangement of formal education is urgently implemented. Preferably, schools should develop into an effective place for building students’ multicultural attitude. However, it is a contrasting fact that schools have not been able to effectively establish students’ awareness of multicultural reality. This is evidenced by the growing number of students’ brawls taking place throughout Indonesia. Nonetheless, school’ principal is expected to be the pioneer in creating values and practices of multiculturalism in school context.  This paper discusses the anticipated model of school leadership that likely to be able to design, build, implement, and foster multiculturalism in school which further develops into shaping students’ attitude demonstrating high respect toward pluralism and diversity. It is concluded that transformational leadership is expected to make changes, inspire as well as be the role model for the creation of multiculturalism appreciating the value of unity among diversity appropriate to the purpose of multicultural education in Indonesia.Keywords: transformational leadership, school principal, multicultural education
Urgensi Peta Pengetahuan bagi Pengembangan Organisasi Miftahus Saadah
MANAGERIA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Prodi Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.072 KB) | DOI: 10.14421/manageria.2016.12-08

Abstract

Recently, the discussion on knowledge management particularly on the field of knowledge map has received considerable attention among theorists and pratitioners of management. Knowledge map has been considered as important tool to improve organization performance as it provides thorough pictures of organization assets, either the tangible or the intangible resources. This article attempts to discuss the significance of knowledge map implementation within organization by firstly defining knowledge and knowledge map, and then the “who” of knowledge map, the underlaying assumption of knowledge map creation, the technology of knowledge map, the dynamic knowledge map, and lastly knowledge map in academic world. It is concluded that knowledge map is an overarching device urgently needed by organization including academic institutions.