Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONGHUCU DI KOREA KONTEMPORER DAN SUMBANGANNYA TERHADAP KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA Dian Nur Anna
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 12, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v12i2.691

Abstract

Confucianism is a minority religion in Korea and Indonesia, but the spiritual movement of Confucianism can be accepted by some religions and may also be practiced. This study aimed to uncover how did Koh Byong-ik on Confucianism in South Korea in the future and how was this contemporary contribution to religious harmony in Indonesia critical analysis. Results of this study indicated that a statistically Confucian minority turned out after a deep study, a dominating ideology Korea. Though a minority, they had the spiritual strength to embrace a religion. The Confucian doctrine turned out to support the harmony of religious life and this was the initial capital to strengthen brotherhood among religions.
PERAN PENDIDIKAN NILAI DALAM MENATAP MASA DEPAN ISLAM (STUDI ATAS PEMIKIRAN ABDULLAH NASIH ULWAN) DIAN NUR ANNA
Edutainment Vol 5 No 2 (2017): Edutainment : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kependidikan
Publisher : UNMUHBABEL Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.64 KB) | DOI: 10.35438/e.v5i2.70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara diskriptif kritis tentang bagaimana pemikiran Abdullah Nasih Ulwan tentang pendidikannilai dan bagaimana perannya terhadap masa depan Islam saat ini. Sampai saat ini, Pendidikan Islam telah mengalami perkembangan dan tidak luput dari kendala pengaruh modernisme, yang menyebabkan lunturnya nilai moral agama. Tujuan Pendidikan Islam itu belum sepenuhnya dapat dicapai, bila pendidikan tersebut hanya mengembangkan aspek kognitif dan psikomotorik saja, tanpa memperhatikan perkembangan aspek afektif secara seimbang. Dari penelitian ini, pendidikan nilai dari Abdullah Nasih Ulwan tersebut dapat mengisi kekurangseimbangan dalam Pendidikan Islam saat ini. Abdullah Nasih Ulwan menawarkan usaha untuk mendidik Umat Islam yang menekankan pada aspek akhlak atau afektif yang harus dilandasi oleh nilai moral Agama Islam, sehingga akan terwujud akhlak mulia seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw untuk hidup bermasyarakat. Pendidikan nilai yang ditawarkan Abdullah Nasih Ulwan tersebut dapat menjadi jalan untuk tetap mengokohkan Pendidikan Islam yang bukan hanya pada aspek kognitif dan psikomotorik saja tetapi juga berlandaskan pada nilai moral Agama Islam yang dapat dipraktekkan oleh Umat Islam dalam mengarungi kehidupan untuk masa mendatang.
Harmonisasi Harmonisasi Manusia dengan Alam pada Praktik Ekologi Masyarakat Pesisir Paciran Ahmad Silmi Daroini; Dian Nur Anna; Lalu Naufal Ahsan Thofhani
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/mjsi.v10i2.4739

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana komunitas pesisir di Paciran, Jawa Timur membangun harmoni ekologis melalui praktik-praktik budaya, pengetahuan lokal, dan nilai-nilai spiritual. Meskipun penelitian tentang ekologi pesisir Indonesia umumnya berfokus pada degradasi lingkungan dan penurunan biofisik, hanya sedikit perhatian ilmiah yang diberikan pada mekanisme sosial-budaya yang membentuk perilaku ekologis berbasis komunitas. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana praktik ekologis muncul dari interaksi sehari-hari, ingatan kolektif, dan pandangan keagamaan dalam komunitas nelayan. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara informal dengan nelayan dan tokoh masyarakat, serta analisis dokumen-dokumen komunitas. Temuan menunjukkan tiga dinamika utama. Pertama, terjadi pergeseran dari eksploitasi ekstraktif menuju konservasi partisipatif ketika para nelayan menilai ulang risiko jangka panjang dari praktik-praktik destruktif. Kedua, kearifan lokal yang diekspresikan melalui ritual, pantangan musiman, dan norma etis masih berfungsi sebagai kerangka ekologi adaptif yang menegosiasikan tradisi dengan modernitas teknologi. Ketiga, solidaritas sosial-ekologis yang kuat membantu mempertahankan aksi kolektif, didukung oleh kesadaran spiritual yang memandang laut sebagai wilayah moral yang diamanahkan, bukan sekadar sumber ekonomi. Ketiga dimensi ini menggambarkan model terpadu dari humanisasi ekologi di mana pembebasan dari logika ekstraktif, solidaritas sosial, dan kesadaran moral transenden beroperasi secara bersamaan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskusi yang lebih luas tentang pengelolaan pesisir berbasis komunitas dengan menunjukkan bahwa praktik ekologis yang berkelanjutan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi teknis. Sebaliknya, revitalisasi budaya, pewarisan pengetahuan antar generasi, dan integrasi spiritualitas dengan etika lingkungan memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan ekologi lokal.