Sarbidi Sarbidi
Pusat Litbang Permukiman, Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum Jl. Panyawungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Metoda Penerapan Zero Run Off pada Bangunan Gedung dan Persilnya untuk Peningkatan Panen Air Hujan dan Penurunan Puncak Banjir Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 10 No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2015.10.106-117

Abstract

Bangunan dan persilnya, terutama yang atapnya luas berpotensi menghasilkan air baku, air hujan yang besar dan memicu genangan air (banjir) pada waktu musim hujan. Oleh karena itu, tata air hujan zero run off (ZRO) perlu diterapkan pada bangunan dan persilnya serta diperlukan metoda penerapannya. Tahun 2011 – 2013 telah diteliti dan diterapkan drainase kawasan berwawasan lingkungan dengan sistem tampung, resapan, manfaat dan alirkan (TRMA) kelebihan air hujan ke luar kawasan. Kajian ini dimaksudkan untuk mendapatkan metoda ZRO pada bangunan dan persilnya. Metode kajian mencakup analisis data hidrologi dan hidrolika menggunakan data pustaka dan data hasil kajian yang telah ada, diskusi dengan pakar, pembahasan dan perumusan. Hasil kajian menunjukkan dengan luas atap bangunan 714 m2 diperoleh hasil : (1) metode zero run off merupakan integrasi antara intensitas hujan (I), sarana tampung (T), seperti subreservoir dan kolam retensi, resapan (R), seperti sumur resapan, manfaat (M), aliran (A) air kelebihan limpasan ke luar kawasan atau persil serta operasi dan perawatan. (2) ZRO adalah fungsi (I, T, R, M, A); (3) dipanen air hujan ± 2.382,8 m3/tahun, volume limpasan (input) dapat ditahan hingga 100% dan volume limpasan mengalir ke luar (output) sebesar nol persen atau maksimum 3%, sehingga efektif untuk peningkatan panen air hujan dan penurunan atau pengendalian puncak banjir atau air genangan.
Kriteria Desain Drainase Kawasan Permukiman Kota Berwawasan Lingkungan Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2014.9.1-16

Abstract

Sistem drainase konvensional kawasan atau kota sudah tidak kondusif untuk menangani genangan air atau banjir saat ini. Konsep drainase berwawasan lingkungan harus segera diterapkan di lingkungan permukiman. Untuk itu harus didukung dengan kriteria desain yang cukup lengkap. Sasaran penelitian antara lain untuk mendapatkan kriteria umum dan teknis desain drainase kawasan atau drainase kota berwawasan lingkungan. Kegiatan dilaksanakan dengan metode deskriptif dan hasil deskripsi data sekunder dan data primer hasil survei disusun dalam tabel dan matrik data, yang sudah diisi dengan rumusan konsep kriteria, kemudian dibandingkan dengan standar terkait. Hasil kajian : (1) kriteria umum terdiri atas 2 (dua) parameter penentu, sebagai landasan kebijakan dan pembuatan master plan drainase berwawasan lingkungan, 10 (sepuluh) elemen penentu dan 29 (dua puluh sembilan) kriteria penentu, (2) kriteria teknis terdiri atas sekitar 3 (tiga) parameter penentu, 20 (dua puluh) elemen penentu dan 56 (lima puluh enam) kriteria penentu, (3) penerapan drainase kawasan atau kota berwawasan lingkungan perlu didukung dengan subsistem tampungan, resapan, manfaat dan alirkan (TRMA) sisa limpasan keluar. 
Aplikasi Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan Zero Run Off pada Kawasan Permukiman Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 8 No 3 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.128-135

Abstract

Indonesia mempunyai curah hujan tinggi antara (1.000 – 4.000) mm/tahun. Penduduk dan urbanisasi tinggi menyebabkan alih fungsi lahan besar-besaran. Drainase konvensional sudah tidak mampu mengimbangi dampak yang ditimbulkannya. Hal itu diperlukan sistem drainase yang mampu menciptakan limpasaan air nol (LAN). Inilah alasan tahun 2012 diterapkan prototipe drainase berwawasan lingkungan, subreservoir tampung, resap, manfaat dan alirkan (TRMA) kelebihan air hujan ke badan air penerima. Tujuannya untuk mendapatkan kinerja prototipe drainase ramah lingkungan metode subreservoir TRMA dalam mereduksi limpasan air hujan dan genangan air dari ruang terbuka hijau (RTH) halaman kantor. Kegiatan dilaksanakan dengan metode eksperimental pada prototipe drainase berwawasan lingkungan subreservoir TRMA di RTH Pusat Litbang Permukiman Bandung. Kinerja prototipe dirumuskan dari simulasi matematis dan observasi operasi prototipe pada beberapa kali kejadian hujan deras (maksimum). Hasil kegiatan antara lain (1) prototipe drainase berwawasan lingkungan, subreservoir TRMA dapat diterapkan untuk menghasilkan limpasaan air nol (LAN), (2) kedalaman genangan air hanya 1 – 5 cm, setelah hujan reda, masih ada genangan selama 30 – 60 menit atau kurang dari 2 jam (3) volume pemanenan air hujan besar dan konsumsi air minum kantor terpenuhi dengan baik.
Kajian Subreservoir Air Hujan pada Ruang Terbuka Hijau dalam Mereduksi Genangan Air (Banjir) Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 7 No 3 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.176-184

Abstract

Perubahan fungsi lahan perkotaan sangat besar menyebabkan tanah kedap air semakin meluas, air limpasan lebih besar, debit banjir lebih tinggi dan bencana banjir yang besar di wilyah hilir. Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tetang Penataan Ruang menetapkan kota wajib menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) 30% dari luas wilayah. Tahun 2011 telah diteliti kriteria teknis desain subreservoir pada RTH untuk penampungan, peresapan dan pemanfaatan air hujan. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui kapasitas subreservoir pada RTH dalam mereduksi genangan air (banjir). Penelitian menggunakan metoda Gumbel, rumus Talbot, Ishiguro, Sherman dan Mononobe, rumus rasional, analisis luas kota dan RTH serta analisis reduksi debit banjir. Data dikumpulkan di Kota Bandung, Bogor dan Jakarta. Hasil penelitian: (1) semakin luas RTH menerapkan subreservoir air hujan, semakin besar genangan air (banjir) dapat direduksi di permukiman kota. (2) Seluruh RTH (30% wilayah kota) dapat digunakan untuk pencegahan banjir preventif dan mereduksi genangan hingga 48%. (3) Semakin kecil RTH kota semakin besar kecenderungan terjadi genangan air hujan di perkotaan, (4) RTH 16% diprediksi peluang terjadi genangan banjir mencapai 74% dan RTH eksisting sekitar 9% peluang terjadi genangan banjir mencapai 86%. (5) Subreservoir pada RTH berpotensi menahan air limpasan mencapai 100% dan mengalirkan kelebihan air ke drainase kota hingga nol persen atau zero runoff.
Kajian Ketersediaan Air Tawar untuk Air Baku di Pulau Kecil - Studi Kasus : Pulau Miangas Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 5 No 3 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.139-146

Abstract

Pulau Miangas adalah salah suatu pulau kecil di Indonesia mempunyai luas 3,15 km2. Pulau umumnya untuk permukiman, kebun kelapa, kebun campuran, hutan, rawa dan pantai. Suhu maksimum 35 °C dan minimum 20°C. Curah hujan antara 1581 mm – 4313 mm. Tahun 2005 berpenduduk 645 jiwa diproyeksikan menjadi 872 jiwa pada tahun 2030. Sumber air tawar untuk air bersih sangat terbatas. Tulisan menyajikan air tawar untuk air baku. Kajian mencakup identifikasi permasalahan, pengumpulan data klimatogi dan curah hujan dari stasiun hujan terdekat. Evapotranspirasi dianalisis dengan rumus Penman, debit andalan dan debit rata-rata menggunakan metode Dr. F.J. Mock. Kajian menyimpulkan Pulau Miangas mempunyai kemampuan kecil dalam menyimpan cadangan air tawar, evapotranspirasi sangat mempengaruhi fluktuasi potensi air, debit andalan 80% setengah bulanan maksimum 4,31 m3/dt, minimum 0,06 m3/dt dan rata–rata 0,1955 m3/dt serta debit rata-ratanya maksimum 0,529 m3/dt, minimum 0,076 m3/dt dan rata-ratanya 0,258 m3/dt, trend ketersediaan debit air tawar terus menurun menghadapi kebutuhan air bersih yang terus meningkat hingga tahun 2030, potensi air yang tersedia hanya mampu memenuhi kebutuhan air baku untuk air  bersih.  Untuk menjaga kelestarian potensi air disarankan agar melestarikan kawasan hutan untuk konservasi air, mengolah air laut untuk kebutuhan air baku non domestik dan melibatkan   masyarakat mengelola sumber daya air.
Pengendalian Kerusakan Lingkungan Permukiman Kawasan Pantai Pulau Miangas dengan Pencegahan Erosi dan Abrasi Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 5 No 2 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.58-66

Abstract

Pulau Miangas adalah pulau kecil terluar di wilayah bagian utara Negara Indonesia berbatasan denganwilayah Negara Filipina. Oleh karena itu, setiap meter pengikisan pantai Pulau Miangas akan menggeserpula wilayah laut beserta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya dari klaim penguasaanteritorial Negara Indonesia. Penelitian menyoroti kerusakan pantai Pulau Miangas yang diakibatkan oleherosi dan abrasi. Kajian mencakup identifikasi permasalahan, pengumpulan data batimetri, data pasangsurut, peta Miangas dari citra satelit, peramalan gelombang signifikan dari data angin lima tahunan danobservasi kawasan pantai secara langsung. Gelombang signifikan dianalisis dengan metode SverdrupMunkBretschneider. Kerusakan pantai menggunakan gambar jaring elemen yang disimulasikan denganprogram Surface Water Modeling System dan pembacaan peta citra satelit.  Kajian menyimpulkan pantaiPulau Miangas sebelah Utara, sebelah Barat-Barat Laut, sebelah Selatan ke arah Barat dan Selatan kearah Timur sudah mengalami kerusakan akibat erosi dan abrasi. Lahan pantai bagian Barat-Barat Lautdikikis sekitar 3 m per tahun. Kerusakan pantai bagian Utara, Barat-Barat Laut dan Selatan ke arahBarat dan bagian sebelah kanan dermaga dapat dikendalikan dengan penerapan beberapa pemecahgelombang sejajar pantai dan penanaman pohon bakau; bagian Selatan ke arah Timur, khususnya disebelah kiri dermaga dapat menerapkan konstruksi tembok laut atau revetmen di sepanjang pantai yangmengalami kerusakan.
Kajian Regionalisasi Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Sampah Menggunakan Metoda Analisis SWOT (Studi Kasus TPA Benowo Surabaya) Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.1-9

Abstract

Lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA) sampah mulai sulit diperoleh, terutama di wilayah kota besar dan metropolitan. Pengelola harus membuangnya ke dalam TPA kota lain. Beberapa kota telah merintis kerjasama regionalisasi TPA, tetapi banyak yang belum terlaksana secara optimal. Kaitan dengan itu telah dianalisis data dan informasi regionalisasi pen gelolaan TPA Benowo Surabaya. Metodologi pelaksanaannya dimulai dengan identifikasi permasalahan, pengolahan data sekunder dan data primer menggunakan teknik analisis manajemen SWOT (strengths, weaknesses, opportunities and threats). Analisis ini men ghasilkan faktor kunci keberhasilan (FKK) dan peta kekuatan organisasi berada pada kwadran-2. Oleh karena itu perlu mendayagunakan kekuatan lingkungan internal organisasi saat ini, dan men gantisipasi ancaman dari lingkungan eksternal. Selain itu, analisis menghasilkan beberapa tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program, dan beberapa kegiatan. Supaya TPA regional lebih realistik, masing-masing pihak terkait, perlu menetapkan dan menyepakati skenario kerjasama, secara bersama-sama, dan disusun berdasarkan teknik analisis manajemen memanfaatkan sumber daya masing-masing
Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Terhadap Lahan Kawasan Pantai Menggunakan Program Genesis Studi Kasus: Kawasan Pantai Dadap Indramayu Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 3 No 4 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.294-312

Abstract

Infrastruktur sipil berupa jeti, seawall dan pelabuhan PPI yang dibangun pada kawasan pantai Dadap Indramayu dapat menimbulkan dampak perubahan atau kerusakan pada lahan kawasan pantai. Metodologi analisis dampak  dimulai dengan identifikasi permasalahan, pengolahan data sekunder dan  data primer, menggunakan  program Genesis (generalized model for simulating shoreline change) menghasilkan bahwa kawasan pantai dapat mengalami sedimentasi sepanjang sekitar 700 m dan akrasi berbentuk salien sekitar 117,1 m yang terjadi tepat pada testle pelabuhan. Pantai sebelah barat pelabuhan mengalami erosi sepanjang sekitar 320 m, dengan kejadian garis pantai mundur terbesar sekitar 79,1 m. Pada kasus ini, infrastruktur pantai menyebabkan dampak kerusakan lahan kawasan pantai sepanjang 1.020 m. Sejalan dengan perubahan tersebut terdapat debit litoral drift yang bergerak sejajar pantai dari arah Timur ke Barat sebesar antara 1 m3/detik - 20 m3/detik. Untuk mencegah kerusakan lahan pantai yang lebih besar dapat memperpanjang seawall ke arah barat menggunakan kombinasi antara revetment, detached breakwaters dan tanaman bakau.
Kajian Nonteknis Penerapan Uprating Instalasi Pengolahan Air Pada Sistem Penyediaan Air Minum Sarbidi, Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2018.13.1-12

Abstract

Sampai saat ini, pelayanan air minum  di Indonesia baru tercapai sekitar 70%. Perlu tambahan 30% untuk mencapai target layanan 100% pada akhir tahun 2019. Salah satu solusi  percepatan layanan air minum  adalah mengembangkan dan menerapkan  teknologi uprating instalasi pengolahan air (IPA), karena dapat dihasilkan debit produksi (2-3) kali lipat dari debit  semula,  air olahan memenuhi kualitas air minum dan dapat dikerjakan dengan biaya (4-5) kali  lebih murah dibanding membangun instalasi yang baru. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan baru, berupa  penerapan uprating dengan ketentuan: (1) Uprating adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). (2) Uprating adalah sebahagian dari pekerjaan rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). (3) Uprating didukung dengan kebijakan, program khusus dan skema pembiayaan dari pemerintah pusat dan daerah serta PDAM. (4) menerapkan teknologi hasil inovasi yang handal dan (5) menjadikan air tak berekening (nonrevenue water, NRW) hingga batas yang ditoleransi secara nasional.