R. Masri Sareb Putra
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Fog Index dan Keterbacaan Berita Utama (Headline) Suara Merdeka 03 Mei 2013 Sareb Putra, R. Masri
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.44 KB)

Abstract

Keterbacaan dapat diukur dengan berbagai variable. Variabel yang paling utama adalah bagaimana jumlah huruf, jumlah kalimat, dan kata-kata sukar yang disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pendidikan pembacanya. Robert Gunning menemukan formula untuk mengukur keterbacaan yang dikenal dengan istilah The Gunning’s Fog Index atau Fog Readability Formula atau Fog Index. Kemunculan rumus ini butuh proses dan tidak muncul begitu saja. Gunning menemukan media cetak di Amerika susah dicerna sehingga susah laku di pasaran. Artikel ini menggunakan formula Fox Index sebagai alat untuk membedah keterbacaan headline Suara Merdeka versi cetak terbitan 3 Mei 2013..
Memahami Makna Simbol dalam Komunikasi dengan Dayak Jangkang Sareb Putra, R. Masri
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.339 KB)

Abstract

Abstract: Dayak Jangkang is one of the Dayak’s sub-ethnics that inhabits the Jangkang district, Sanggau regency, West Kalimantan and directly borders with Sarawak, Malaysia. Jangkang Dayak population reaches 45,000. Dayak Jangkang nowadays still maintains and continue the tradition of the ancestors, as reflected in the structure of society, social relations, customs, and culture. Therefore it still maintains and continues the tradition of the Dayak Jangkang’s ancestors in their way of life. Many people, especially those outside Dayak, lack of understanding of their own culture. Therefore, the social conflicts caused by social relations between Dayak Jangkang and migrants (outsiders) are due to the insufficient understanding of the meaning of the symbols.
Memahami Makna Simbol dalam Komunikasi dengan Dayak Jangkang Sareb Putra, R. Masri
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.339 KB) | DOI: 10.24002/jik.v7i2.193

Abstract

Abstract: Dayak Jangkang is one of the Dayak’s sub-ethnics that inhabits the Jangkang district, Sanggau regency, West Kalimantan and directly borders with Sarawak, Malaysia. Jangkang Dayak population reaches 45,000. Dayak Jangkang nowadays still maintains and continue the tradition of the ancestors, as reflected in the structure of society, social relations, customs, and culture. Therefore it still maintains and continues the tradition of the Dayak Jangkang’s ancestors in their way of life. Many people, especially those outside Dayak, lack of understanding of their own culture. Therefore, the social conflicts caused by social relations between Dayak Jangkang and migrants (outsiders) are due to the insufficient understanding of the meaning of the symbols.
Fog Index dan Keterbacaan Berita Utama (Headline) Suara Merdeka 03 Mei 2013 Sareb Putra, R. Masri
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.44 KB) | DOI: 10.24002/jik.v10i1.152

Abstract

Keterbacaan dapat diukur dengan berbagai variable. Variabel yang paling utama adalah bagaimana jumlah huruf, jumlah kalimat, dan kata-kata sukar yang disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pendidikan pembacanya. Robert Gunning menemukan formula untuk mengukur keterbacaan yang dikenal dengan istilah The Gunning’s Fog Index atau Fog Readability Formula atau Fog Index. Kemunculan rumus ini butuh proses dan tidak muncul begitu saja. Gunning menemukan media cetak di Amerika susah dicerna sehingga susah laku di pasaran. Artikel ini menggunakan formula Fox Index sebagai alat untuk membedah keterbacaan headline Suara Merdeka versi cetak terbitan 3 Mei 2013..
Fog Index dan Keterbacaan Berita Utama (Headline) Suara Merdeka 03 Mei 2013 R. Masri Sareb Putra
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.44 KB) | DOI: 10.24002/jik.v10i1.152

Abstract

Keterbacaan dapat diukur dengan berbagai variable. Variabel yang paling utama adalah bagaimana jumlah huruf, jumlah kalimat, dan kata-kata sukar yang disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pendidikan pembacanya. Robert Gunning menemukan formula untuk mengukur keterbacaan yang dikenal dengan istilah The Gunning’s Fog Index atau Fog Readability Formula atau Fog Index. Kemunculan rumus ini butuh proses dan tidak muncul begitu saja. Gunning menemukan media cetak di Amerika susah dicerna sehingga susah laku di pasaran. Artikel ini menggunakan formula Fox Index sebagai alat untuk membedah keterbacaan headline Suara Merdeka versi cetak terbitan 3 Mei 2013..
Memahami Makna Simbol dalam Komunikasi dengan Dayak Jangkang R. Masri Sareb Putra
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 7 No. 2 (2010)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.339 KB) | DOI: 10.24002/jik.v7i2.193

Abstract

Abstract: Dayak Jangkang is one of the Dayak’s sub-ethnics that inhabits the Jangkang district, Sanggau regency, West Kalimantan and directly borders with Sarawak, Malaysia. Jangkang Dayak population reaches 45,000. Dayak Jangkang nowadays still maintains and continue the tradition of the ancestors, as reflected in the structure of society, social relations, customs, and culture. Therefore it still maintains and continues the tradition of the Dayak Jangkang’s ancestors in their way of life. Many people, especially those outside Dayak, lack of understanding of their own culture. Therefore, the social conflicts caused by social relations between Dayak Jangkang and migrants (outsiders) are due to the insufficient understanding of the meaning of the symbols.
Literary Journalism dan Perkembangannya di Indonesia R. Masri Sareb Putra
Ultimacomm: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2 No 1 (2010): ULTIMACOMM
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.478 KB)

Abstract

The new journalism or literary journalism is the new genre in the world of journalism. It is considered ‘new’ because it is the hybrid of conventional journalism which takes the shape of inverted pyramid and uses the style of literature which applies literary elements and regulations. The elements and the literary style in this type of journalism can be strongly perceived. Thus, it is named ‘literary journalism’. This type of journalism has long been introduced to the United States of America by literary-journalist such as John Hersey, Tom Wolf, Norman Mailer, or Gay Talese. In Indonesia literary journalism began as early as when Tempo magazine supported by a number literary-journalist commenced to apply the narrative journalism. Kata Kunci: Literary journalism, jurnalistik sastrawi, jurnalistik, sastra, cerita, hibrida
Tradisi Hermeneutika dan Penerapannya dalam Studi Komunikasi R. Masri Sareb Putra
Ultimacomm: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4 No 1 (2012): ULTIMACOMM
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1972.979 KB) | DOI: 10.31937/ultimacomm.v4i1.431

Abstract

Tradisi  “Hermeneutika” sudah dikenal dalam mitologi Yunani lewat figur Hermes yang dikenal piawai menafsirkan pesan “dunia atas” atau realitas ontologis untuk disampaikan kepada manusia. Kemudian, Hermeneutika dipraktikkan para pakar untuk menemukan makna hakiki sebuah teks alkitab.Sekolah Frankfrut kemudian mengembangkan metode Hermeneutika sebagai cabang filasafat yang mencapai puncaknya pada Gadamar. Akan tetapi, hermeneutika baru menarik perhatian para pakar Amerika pada 1976.Di Indonesia, Hermeneutika belum banyak digunakan untuk studi komunikasi, padahal hermeneutika dapat membongkar makna yang terselubung di balik realtias yang ada di balik teks dan wacana secara radikal.