This Author published in this journals
All Journal Kurios
Karel Martinus Siahaya
Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tuhan Ada di Mana-mana: Mencari Makna bagi Korban Bencana di Indonesia Johannis Siahaya; Karel Martinus Siahaya; Nunuk Rinukti
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i1.147

Abstract

The phenomenon of natural disasters has been felt in recent years and has become a global concern. This concern occurs because, the intensity of natural disasters that are increasingly frequent in various parts of the world lately, taking many victims both human, property, and other lives. Religions (including the church), however, have an essential calling and responsibility in dealing with the problem of the victims of the disaster. However, today's reality shows that religions (as well as internal church) are still involved and struggling in classical debates about teachings (dogma) about who God is: about his name, which God or religion is true, or what God teaches in which religion or church which is considered correct. Abstrak Fenomena bencana alam sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir sampai-sampai menjadi perhatian dunia. Hal ini terjadi karena, intensitas benca-na alam yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia akhir-akhir ini, bahkan mengakibatkan banyak korban yang berja-tuhan, selain kehilangan harta benda. Melihat fenomena ini gereja memiliki panggilan dan tanggung jawab yang hakiki dalam dalam menangani korban bencana tersebut. Namun, realitas yang terjadi adalah Agama-agama lain bahkan gereja masih saja terlibat dalam berbagai perdebatan mengenai siapa Tuhan itu, mengenai nama-Nya, Agama mana yang benar, ataupun ajaran Tuhan dari agama atau gereja mana yang dianggap benar.
Teologi Luka: Protes, subversi, dan harapan dalam Mazmur 37 Karel Martinus Siahaya
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1032

Abstract

This study analyzes Psalm 37 through the lens of liberation hermeneutics, the theology of suffering, and Midrash Tehillim. The findings reveal that the promise of land inheritance for the righteous is not merely an eschatological comfort but a subversive social critique against structures of injustice. The acrostic structure emphasizes God’s order amid social chaos, while Midrash Tehillim teaches that theological protest is a valid expression of faith. The suffering of the righteous is understood as part of God's solidarity, who shares in humanity’s pain. Thus, Psalm 37 calls the church to become an empathetic agent of change, embodying social justice and strengthening believers’ faith. This message is relevant to modern contexts marked by social and economic inequality. This research highlights that experiences of suffering are not just pain, but also a call to action, involving participation in God’s mission of peace and justice in a broken world.   Abstrak Penelitian ini menganalisis Mazmur 37 dengan pendekatan hermeneutika pembebasan, teologi luka, dan Midrash Tehillim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa janji pewarisan tanah bagi orang benar bukan hanya penghiburan eskatologis, melainkan kritik sosial subversif terhadap struktur ketidakadilan. Struktur akrostik menegaskan keteraturan Allah di tengah kekacauan sosial, sementara Midrash Tehillim mengajarkan bahwa protes teologis adalah bentuk iman yang sahih. Penderitaan orang benar dipahami sebagai bagian dari solidaritas Allah yang turut merasakan penderitaan umat. Dengan demikian, Mazmur 37 mengundang gereja untuk menjadi agen perubahan yang empatik, menghadirkan keadilan sosial dan meneguhkan iman umat. Pesan ini relevan bagi konteks modern yang sarat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman luka bukan sekadar penderitaan, tetapi juga panggilan untuk bertindak menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah dunia yang penuh ketidakadilan.