Handreas Hartono
Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengaktualisasikan Amanat Agung Matius 28:19-20 dalam Konteks Era Digital Handreas Hartono
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 4, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v4i2.87

Abstract

Great comission is a mandate that Jesus gave to His disciples before He ascent to the heaven. This mandate has often been implemented to be a mere act of evangelization, how to make people believe in Jesus for their salvation sake. The world where church lived today has changed by applying advanced technology in all human life aspect, for generally called the era of digitalization. There were some different challenges and needs of todays church with the early church who received that mandate in the first century. Thus this is an article aimed to explain how to actualize a great commission according to Matthew 28:19-20 in a different world today, which called the era of digital. This article used a qualitative method with an analytical approach to the text of Matthew 28:19-20, and a descriptive of the era of digital today as a context of actualizing that great commission. As a conclusion, the church ought to apply the advanced technology with digitization to reach out people in the world where unreached yet.AbstrakAmanat agung merupakan sebuah mandat yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga. Perintah ini sering diimplementasikan dengan sekadar tindakan penginjilan, bagaimana membuat orang menjadi percaya Yesus demi keselamatannya. Dunia di mana gereja hidup sekarang telah berubah oleh karena kemajuan teknolgi yang merambah seluruh aspek hidup manusia, yang biasa disebut dengan era digitalisasi. Oleh sebab itu ada perbedaan tantangan dan kebutuhan yang dialami oleh gereja sekarang dengan gereja mula-mula di abad pertama. Maka dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana mengaktualisasikan amanat agung dalam Matius 28:19-20 dalam konteks dunia di era digital. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis atas teks Matius 28:19-20, dan deskriptif atas konsep dunia di era digital sebagai konteks untuk mengaktualisasikan amanat agung tersebut. Sebagai kesimpulan, gereja harus mengaplikasikan kemajuan teknologi digitalnya untuk menjangkau orang-orang yang selama ini belum terjangkau.
Akulturasi Kepemimpinan Transformasional Paulus dan Falsafah Pemimpin Negeri di Minahasa Christar Arstilo Rumbay; Wolter Weol; Handreas Hartono; Maria Magdalena; Binsar Hutasoit
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v6i2.625

Abstract

Abstract. The encounter between religion and culture receives resistance as it is considered as the syncreticsm. Acculturation approach, however, offers alternative contribution to the tension of leadership with its cultural features. Paul transformational leadership and Minahasa leadership philosophy are two discussion materials that potentially could donate insight with acculturative construction. The research question that lead this work was how is Pauline transformational leadership and Minahasan leadership philosophy acculturative construction? This research attempted to see possibities that could be an alternative contribution to cultural and Christian leadership discussion. This research involved to leadership tension with qualitative and ethnography approach. Sources such as book, article, and academic essay were combined with field interview. In sum, collaboration between Paul transformational leadership and Minahasa leadership philosophy offers a new modification and construction perspective, a continuity leadership and dichotomous with solid cultural identity.Abstrak. Perjumpaan antara agama dan budaya menerima resistensi karena dianggap sebagai realisasi sinkretisme. Namun pendekatan akulturasi menawarkan alternatif yang kontributif bagi gejolak krisis kepemimpinan bercorak budaya. Konsep kepemimpinan transformasional Paulus dan falsafah kepemimpinan di Minahasa merupakan dua objek diskusi yang berpotensi menyumbangkan pemikiran baru jika dikonstruksikan secara akulturatif. Rumusan masalah yang menuntun penelitian ini adalah, bagaimana konstruksi akulturatif kepemimpinan transformasional Paulus dan falsafah kepemimpinan Minahasa? Penelitian ini mencoba untuk melihat kemungkinan  yang dapat menjadi kontribusi alternatif bagi diskusi kepemimpinan kultural dan Kristen. Penelitian ini mendekati problematika kepemimpinan dengan metode kualitatif dan etnografi. Sumber pustaka seperti buku, artikel dan naskah akademik lainnya dikombinasikan dengan hasil wawancara di lapangan. Sebagai hasilnya, kolaborasi konsep kepemimpinan transformasional Paulus dan falsafah kepemimpinan Minahasa menawarkan sebuah modifikasi dan konstruksi baru, kepemimpinan yang kontinuitas dan terdikotonomikan dengan identitas budaya yang kuat.