Struktur pasar merupakan komponen fundamental dalam kajian ekonomi mikro dan organisasi industri karena menentukan cara perusahaan beroperasi, menetapkan harga, serta merespons tindakan pesaing dalam suatu industri. Dua struktur pasar yang paling dominan dalam perekonomian modern adalah persaingan monopolistik dan oligopoli, yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda namun sama-sama menampilkan dinamika persaingan yang kompleks. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif konsep persaingan monopolistik dan oligopoli dengan menitikberatkan pada struktur pasar, strategi harga, serta perilaku strategis perusahaan sebagaimana dijelaskan dalam literatur ekonomi mikro dan teori organisasi industri. Penelitian ini menggunakan metode literature review naratif dengan mengkaji buku teks ekonomi mikro, teori organisasi industri, teori permainan, serta jurnal ilmiah yang relevan. Proses analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi konsep utama, pengelompokan teori, sintesis teoretis, serta analisis implikasi struktur pasar terhadap konsumen, perusahaan, dan kebijakan publik. Hasil kajian menunjukkan bahwa persaingan monopolistik ditandai oleh jumlah perusahaan yang relatif banyak dengan tingkat diferensiasi produk yang tinggi, sehingga setiap perusahaan memiliki kekuatan pasar terbatas dalam menentukan harga. Diferensiasi produk, baik melalui kualitas, merek, kemasan, maupun simbol budaya, menjadi strategi utama dalam membentuk preferensi konsumen dan menciptakan loyalitas pasar. Namun demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Chamberlin (1962, hlm. 76–82, Harvard University Press), keuntungan dalam pasar persaingan monopolistik cenderung bersifat sementara karena masuknya pesaing baru dalam jangka panjang, yang mengakibatkan laba ekonomi tereliminasi. Di sisi lain, struktur oligopoli dicirikan oleh sedikitnya jumlah perusahaan dominan dengan tingkat interdependensi yang tinggi, sehingga setiap keputusan harga dan output sangat dipengaruhi oleh reaksi pesaing. Fenomena persaingan harga dalam oligopoli sering kali tidak menghasilkan perubahan harga yang signifikan, yang dapat dijelaskan melalui model kurva permintaan patah (kinked demand curve) sebagaimana dikemukakan oleh Sweezy (1939, hlm. 568–573, Journal of Political Economy), yang menjelaskan kecenderungan harga kaku (sticky prices) dalam pasar oligopolistik. Lebih lanjut, kajian ini menunjukkan bahwa dilema antara kompetisi dan kolusi dalam oligopoli dapat dianalisis menggunakan pendekatan prisoner’s dilemma dan repeated game. Dalam permainan satu periode, perusahaan cenderung memilih strategi kompetitif meskipun kolusi secara kolektif lebih menguntungkan, sebagaimana dijelaskan oleh Fudenberg dan Tirole (1991, hlm. 33–45, MIT Press). Namun, dalam interaksi jangka panjang, kolusi berpotensi stabil apabila perusahaan memiliki orientasi jangka panjang dan mekanisme hukuman yang kredibel terhadap pelanggaran kesepakatan harga, sebagaimana dirumuskan oleh Friedman (1971, hlm. 1–12, The Review of Economic Studies). Temuan ini menegaskan pentingnya peran regulator dalam mengawasi praktik pasar oligopolistik guna menjaga efisiensi persaingan dan melindungi kesejahteraan konsumen .