Problem pengangguran dan minimnya lapangan kerja membuat jutaan manusia baik yang berlefel pendidikan tinggi terlebih lagi bagi mereka yang tidak mengenyam bangku sekolah, telah membuat pusing tujuh keliling sehingga beban masyarakat semakin bertambah. Bagaimana tidak, laju pertumbuhan minat TKI/TKW untuk mengadu nasib di negeri seberang menjadi pilihan bagi mereka yang sulit mendapatkan kerja dan penghasilan yang layak di negeri sendiri. Meski dari segi income Negara mendapatkan besarnya devisa yang dihasilkan, namun persoalan ini membuat pemerintah utamanya di lingkungan kementerian tenaga kerja dan transmigrasi juga harus berfikir ulang, mengingat banyaknya kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap tenaga kerja Indonesia yang terjadi hingga hari ini.Dari pada hidup dalam keterpurukan yang berkepanjangan tanpa solusi alternatif, dengan menyia-nyiakan SDM yang ada, maka tidak ada salahnya melalui tulisan ini, Penulis mencoba memberikan dan memunculkan ide kreatif sebagai solusi konkrit mengatasi problem yang sedang kita hadapi bersama. Penulis mengajak kepada pembaca untuk berfikir ulang tentang cara dan distribusi pengelolaan dana zakat yang selama ini monoton hanya berkisar pada bentuk konsumtif-karitatif, tidak menimbulkan dampak sosial yang bersifat “peringanan beban sesaat” (temporari relief); serta diberikan pada mereka yang berhak menerimanya hanya sebagai hadiah setahun sekali khusunya jika Ramadan tiba. Dengan kata lain, dana zakat yang terkumpul dari muzakki tidak diberikan dalam bentuk modal kerja atau didayagunakan secara produktif dan inovatif.Ibaratnya kepada fakir miskin tersebut tidak diberikan ikan secara langsung, melainkan diberi pancing atau umpan/kail. Bagian zakat yang mereka peroleh tidak diberikan dalam wujud uang atau harta—jika tidak terpaksa sekali—akan tetapi dalam wujud modal kerja dengan cara melihat kemampuan, keahlian, bakat dan potensi dirinya yang bisa dikembangkan kearah peningkatan kualitas hidupnya. Sehingga harapannya pengangguran semakin berkurang dengan adanya lapangan kerja baru.