Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN SUAMI DAN KELUARGA MEMPENGARUHI PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) : TELAAH SISTEMATIK Rohani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 5 No. 2 (2019): Juni 2019
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode kontrasepsi diharapkan dapat digunakan secara efektif oleh Pasangan Usia Subur (PUS) baik wanita maupun pria sebagai sarana pengendalian kelahiran. Sudah banyak penelitian yang dilakukan terkait faktor yang mempengaruhi penggunaan metode kontrasepsi namun belum ada yang fokus meneliti peran suami dan keluarga dalam penggunaan metode kontrasepsi. Tujuan review ini adalah untuk membandingkan pengaruh peran suami dan keluarga terhadap penggunaan metode kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS). Digunakan 2 database yang ditelusuri dengan sistematik dan juga snow ball untuk mencari hasil penelitain yang sesuai dengan kriteria inklusi selanjutnya data dalam artikel di analisis dan di sintesis untuk menjawab tujuan review. Hasil penelitian yang di kaji adalah penelitian yang terfokus pada peran suami dan keluarga dalam penggunaan metode kontrasepsi (7 artikel) dan juga faktor lainnya (3 artikel). Hasil review menunjukkan sebagian besar peran suami dan keluarga memberikan pengaruh terhadap penggunaan metode kontrasepsi pada pasangan usia subur yang di awali dengan niat, sikap dan dukungan yang positif baik oleh suami maupun keluarga. Rekomendasi berdasarkan hasil review ini adalah perlu dikembangkan intervensi dan metode yang tepat melalui pendekatan keluarga pada pasangan usia subur sehingga suami dan keluarga dapat memberikan pengaruh positif terhadap penggunaan metode kontrasepsi.
HUBUNGAN PARITAS DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI PUSKESMAS PEJERUK KOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016 Rohani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu indikator dalam menilai derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi (AKB) salah satunya disebabkan oleh BBLR. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi BBLR di Indonesia mengalami penurunan dari 11,1% di tahun 2010 menjadi 10,2% di tahun 2013. Walaupun secara nasional terjadi penurunan, namun di beberapa daerah prevalensi BBLR masih sangat tinggi seperti di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 16,9% (Kemenkes, 2013). Dalam Bulletin Sistem Kesehatan tahun 2011 disebutkan bahwa perkiraan setiap tahunnya terdapat sekitar 400.000 BBLR di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi NTB, jumlah bayi BBLR di NTB pada tahun 2014 yaitu 3730 jiwa dan yang meninggal sebesar 508 kasus, sedangkan di Kota Mataram sebesar 274 kasus dan yang meninggal sebesar 13 kasus (Bapeda NTB, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR di Puskesmas Pejeruk Kota Mataram. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan pada bulan Mei tahun 2016. Data diambil adalah data BBLR yang tercatat dalam register kohort bayi tahun 2013 sampai tahun 2015 di puskesmas Pejeruk Kota Mataram. Tehnik pengambilan sampel diambil dengan menggunakan total sampling sebanyak 57 sampel. Data dianalisis dengan menggunakan alat bantu komputer dengan anilisis univariat untuk melihat karekteristik responden dan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR dengan menggunakan uji chi square. Data disajikan dengan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar BBLR murni sebanyak 52 orang (91,2%), multi para sebanyak 29 orang (50,9%), umur reproduksi sehat (20-35 tahun) sebanyak 49 orang ( 86%) tidak bekerja sebanyak 32 orang (56,1%). Ada hubungan antara paritas dnegna kejadian BBLR dengan p value (0,035). Kesimpulan : karekteristik ibu yang melahirkan bayi BBLR sebagian besar dengan BBLR(1500-<2500 gram), umur reproduksi sehat (20-35) tahun, multipara dan tidak bekerja. Ada hubuangan antaran paritas dengan kejadian BBLR. Saran : Hendaknya KIE terkait pencegahan terjadinya BBLR dapat lebih ditingkatkan lagi mengingat terdapat hubungan antara BBLR dengan paritas, sehingga kehamilan dapat berlangsung dengan normal dan puskesmas diharapkan dapat melibatkan lintas sektor terkait dan masyarakat di wilayah kerja puskesmas jika memungkinkan melakukan gerakan mendukung kehamilan terkait pencegahan faktor-faktor terjadinya BBLR.
HUBUNGAN UMUR DENGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS PEJERUK KOTA MATARAM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT TAHUN 2016 Rohani
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia atau penyakit kurang darah yaitu suatu keadaan dimana kadar haemoblobin (Hb) darah kurang dari normal. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang sering disebut hidremia atau hipervolemia. Tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Dengan perbandingan plasma 30 %, sel darah 15 % dan Hb 19 %. Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologi selama kehamilan dan bermanfaat bagi wanita.Pertama, karena pengenceran meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan jika viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang sehingga tekanan darah tidak meningkat. Kedua, pada perdarahan saat kehamilan banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental (Manuaba, 2001). Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden anemia ringan sebanyak 149 orang (76,4%) dan anemia sedang sebanyak 46 orang (23,3%). Umur responden sebagian besar berumur 20-35 tahun sebanyak 115 orang (77,2%), anemia ringan dan anemia sedang sebanyak 27 orang ( 58,7%). Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan nilai p value (0,011). Sebagian besar responden mengalami anemia ringan (76,4%) dan anemia sedang (23,3%). Umur responden sebagian besar berumur 20-35 tahun sebanyak (77,2%), anemia ringan dan anemia sedang sebanyak 27 orang (58,7%). Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Mengingat terdapat hubungan antara umur ibu dengan kejadian anemia, diharapkan KIE terkait anemia dapat diberikan pada calon pengantin agara dampak kejadian anemia yang ditimbulkan saat kehamilan, persalinan dan nifas dapat di cegah, dan petugas puskesmas agar lebih meningkatkan kegiatan pencegahan terjadinya anemia kepada masyarakat dengan melibatkan lintas sektor terkait untuk melakukan gerakan pencegahan anemia pada ibu.