Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN MOTIVASI DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) DI PROVINSI NTB Mustika Hidayati
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 2 (2016): Juni 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan motivasi dan pelatihan terhadap kinerja Tenaga Pelaksana Gizi di Provinsi Nusa Tenggaran Barat.Data yang digunakan dalampenelitianini adalah data primer hasil kuesioner terhadap peserta Pelatihan Peningkatan kapasitas Petugas Gizi Puskesmas dalam Konseling Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang meliputi variabel dependen kinerja Tenaga Pelaksana Gizi dan variabel independen motivasi dan pelatihan. Analisis data dalam penelitian menggunakan metode statistik program komputer korelasi untuk mengetahui hubungan motivasi dan pelatihan terhadap kinerja Tenaga Pelaksana Gizi dengan menggunalakan analisis non parametric dengan korelasi rank spearman. Dari analisis tersebut diketahui bahwa motivasi dan pelatihan ternyata memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja Tenaga Pelaksana Gizi (p<0,05).
FAKTOR DOMINAN PENYEBAB KEJADIAN STUNTING ANAK USIA 24-35 BULAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Mustika Hidayati
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDEK (stunting) merupakan gangguan pertumbuhan linier yang ditunjukandengan nilai z score TB/U kurangdari -2 SD. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Hasil Unicef Report tahun 2013 dinyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-5 didunia masalah gangguan pertumbuhan tinggi badan (Pendek) yaitu sekitar 7,55 juta anak balita. Dari hasildua kali Riskesdas 2007 dan 2013 menyebutkan bahwa di NTB masing-masing 43,7% dan 45,2 %. Terjadi peningkatan 1,5%, artinya hampir separuh balita kita memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar tinggi badan balita seumurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor dominan yang mempengaruhi kejadian stunting anak usia 24-35 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2014. Penelitian ini dilaksanakan terhadap total sampel di 10 kabupaten/kota se provinsi Nusa Tenggara Barat sejumlah 115.300 sampel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 12 variabel independen yang mempengaruhi kejadian stunting (Y) terdiri dari Jenis Kelamin Anak (X1), Tinggi badan Ayah (X2), Tinggi badan Ibu (X3), Pola Makan ayah (X4), Pola makan Ibu (X5), Status Ekonomi Keluarga (X6), Riwayat Panjang Lahir (X7), Riwayat Berat Lahir(X8), Jumlah Anggota Keluarga (X9), Riwayat Kehamilan(X10),Riwayat Persalinan(X11) dan Riwayat Nifas (X12).Dari kedua belas variabel tersebut ada 3 (tiga) variabel yang dominan antara lain Riwayat Panjang lahir (OR=3,7), Tinggi Badan Ibu (OR=2,6) dan Pola Makan ibu (OR=2,1) Disarankan bahwa pemegang kebijakan serta pemegang program agar lebih memfokuskan dari ketiga variabel yang dominan tersebut