Agustinus Sutanto
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENERAPAN METODE ARSITEKTUR NARATIF SEBAGAI STRATEGI BERADAPTASI BERHUNI DI MASA DEPAN DI DESA SINGOSARI Vania Veeska; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10580

Abstract

Without realizing it, the world is currently undergoing massive shifts, from one civilization to the next which we call shifting. A movement that can determine whether we can survive or not, change, or become extinct. Linked with this phenomenon we have also seen urban bias, which is a situation where urbanization of rural’s youth to big cities is inevitable when cities are considered to provide more hope and job opportunities. As a result? Villages are increasingly short of young people. “Rise of Rural: Incubator for Innovation” is a project that re-imagines the youth of Singosari Village as incubators because the city has lost its power to provide a better life for the community. The village, which is always in second place, is now the main agent of change and innovation that continues to learn, unlearn, and re-learn to adapt through transformation patterns (incubators) based on local and digital mindsets (adjusted, not only referring to revolution 4.0). Through narrative as an architectural methodology which is inspired by the values in Doraemon’s story. How Nobita-together with his friends-embarks for a journey, during the journey they learn from each other and collaborate through Doraemons’ gadgets (technology), our world in the future is a world of collaboration, not competition.Keywords:  collaboration; rural; shifting; technology; youthAbstrak Tanpa kita sadari saat ini dunia tengah mengalami perubahan besar-besaran, dari satu peradaban ke peradaban berikutnya yang kita sebut sebagai shifting. Suatu perpindahan yang dapat menentukan apakah kita dapat bertahan atau tidak, berubah atau punah. Berkaitan dengan fenomena ini kita juga sudah menyaksikan urban bias, yaitu keadaan dimana urbanisasi kaum muda desa ke kota besar tidak terelakkan ketika kota dianggap menyediakan harapan lebih dan kesempatan kerja. Akibatnya? Desa semakin kekurangan kaum muda. Proyek “Rise of Rural: Incubator for Innovation” membayangkan kembali kaum muda di Desa Singosari sebagai inkubator desa karena kota sudah kehilangan kekuatannya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Desa yang selalu di nomor duakan kini menjadi aktor utama perubahan dan inovasi yang terus learn, unlearn, dan re-learn untuk beradaptasi melalui pola transformasi (inkubator) berbasis pola pikir lokal dan digital (disesuaikan, tidak melulu mengacu pada revolusi 4.0). Melalui pendekatan arsitektur naratif yang terinspirasi dari nilai-nilai di dalam cerita doraemon, bagaimana Nobita dan kawan-kawan saling belajar dan berkolaborasi melalui gadget (teknologi) dari Doraemon. Menggunakan drawing as hypothesis-menampilkan beberapa gambar sebagai mimpi dan ide desain- sebagai alat komunikasi dalam penyusunan ide, konsep, menuju gambar kerja. Dari berbagai macam ide desain kemudian di kristalisasi menjadi 4 zona utama, yang di dalam ke-empat zona tersebut terdapat program pendukung aktivitas yang bersangkutan.
KONSERVASI SELASAR PERKOTAAN PADA GERBANG TERMINAL BLOK M DENGAN METODE URBAN ACUPUNCTURE Audrey Felicia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21765

Abstract

Blok M district which was born as ‘market’, exists and lives sustainably from the existence of the Blok M Terminal. However, due to physical and social terms that have changed time by time, the terminal as the heart of the district has actually weakened. This condition began with the waning of the existence of Blok M Mall, which is defined as a terminal gateway, which is also known as the first underground mall in Indonesia. Then, what will happen if the existence of this terminal gate is lost? To prevent this possibility, a conservation plan is proposed as a protection and management measure for the terminal gate, which is interpreted as a connecting corridor between the terminal and the district. Conservation of the corridor gate of Blok M terminal is carried out on the basis of redefining the meaning of the presence of Blok M Mall as the terminal gate of Blok M district itself. The conditions and problems that occur are evaluated on a macro basis, which are then marked as disease points that have an impact on the movement system of Blok M district. The proposed conservation step will be a process that runs according to the rules of the urban acupuncture method, with the aim and purpose of reviving the Blok M terminal gate. so that the flow of human distribution in the area is not hampered. Urban acupuncture is defined as the healing process of a degraded area, by focusing on one point that is considered capable of sustaining the flow of an obstructed area. Keywords:  Blok M; conservation; point; strip; urban Abstrak Kawasan Blok M yang lahir sebagai ‘pasar’, hadir dan hidup berkelanjutan dari adanya eksistensi terminal Blok M. Namun, dikarenakan kondisi fisik dan sosial yang mulai berubah dari waktu ke waktu, terminal sebagai jantung kawasan ini justru melemah. Kondisi ini dimulai dari pudarnya eksistensi Blok M Mall, yang merupakan gerbang terminal dengan tipologi mall bawah tanah. Lantas, apa yang akan terjadi apabila eksistensi gerbang terminal ini hilang? Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, diajukan rencana konservasi sebagai langkah perlindungan dan pengelolaan terhadap gerbang terminal, yang dimaknai sebagai selasar penghubung antara terminal dengan kawasan. Konservasi selasar gerbang terminal Blok M dilakukan dengan dasar mendefinisikan ulang makna akan kehadiran Blok M Mall sebagai gerbang terminal kawasan Blok M itu sendiri. Kondisi dan permasalahan yang terjadi dievaluasi secara makro, yang kemudian ditandai sebagai titik penyakit yang berdampak pada sistem pergerakan kawasan Blok M. Langkah konservasi yang diajukan akan menjadi sebuah proses yang berjalan sesuai kaidah metode urban acupuncture, dengan maksud dan tujuan untuk menghidupkan kembali gerbang terminal Blok M, sehingga alur penyebaran manusia pada kawasan tidak terhambat. Urban acupuncture diartikan sebagai proses penyembuhan suatu kawasan yang mengalami degradasi, dengan berfokus pada satu titik yang dinilai mampu menopang aliran kawasan yang terhambat.
MENGHIDUPKAN KEMBALI JALAN JAKSA DENGAN JARINGAN PENGINAPAN, KULINER, SENI, DAN RUANG KERJA BERSAMA Dominicus Raynard; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21766

Abstract

Jaksa Street used to known as a destination for foreign tourists with low budgets to find cheap accommodation with a hostel concept. Low cost lodging offered an unforgettable experience and impression for the tourists. As time goes by, the popularity of Jaksa Street is increasing, making local people following the surrounding buildings, and turning their homes as cheap lodging for tourists. At its peak, tourists are even willing to sleep with simple facilities in order to get cheap lodging.However, the conditions are different today, where Jaksa Street has lost its image as a tourist destination and cheap accommodation for tourists. Several incidents of financial crisis and bombings that have occurred have caused the number of tourists to drop and Jaksa Street is slowly starting to be forgotten. The presence of new tourist attractions also makes Jaksa Street unable to compete with other tourist destination due to a lack of innovation. Its strategic location with various tourist destinations does not help to attract the attention of tourists today. Through this urban acupuncture project, Jaksa Street can have a new attractor and can restore its glory which is currently fading. Its strategic location and the unique history of this road as  the  destination for cheap lodging creates its own uniqueness in the middle of the Jakarta city which keep developing. In this project, urban acupuncture is carried out by renewing the concept of lodging and dining as well as adding co-working space as a new program. The new concept of lodging combined the conventional type hotel with capsule hotels. The dining area is made with the concept of a food court which consists of various types of different food stalls with a semi-outdoor dining area and is surrounded by a garden as a response to the tropical climate. Art elements also included as an additional attraction by creating an art stage that can be used for musical, singing, and dancing performances. Keywords: Jaksa Street; Tourist; Urban Acupuncture Abstrak Dahulu Jalan Jaksa dikenal sebagai tempat tujuan bagi wisatawan asing dengan anggaran rendah untuk mencari penginapan murah dengan konsep hostel. Penginapan murah yang ditawarkan memberi pengalaman dan kesan yang tidak terlupakan bagi para turis wisatawan. Seiring berjalannya waktu, kepopuleran Jalan Jaksa semakin meningkat membuat masyarakat setempat mengikuti jejak bangunan sekitarnya yang sudah terlebih dahulu menjadikan rumah mereka sebagai penginapan murah untuk para wisatawan. Pada masa puncaknya, para wisatawan bahkan rela tidur dengan fasilitas seadanya demi mendapatkan penginapan yang murah. Namun kondisi tersebut sudah berbeda saat ini, dimana Jalan Jaksa kehilangan citranya sebagai tujuan wisata dan penginapan murah bagi wisatawan. Beberapa peristiwa krisis keuangan dan pengeboman yang pernah terjadi membuat jumlah wisatawan sempat turun dan perlahan Jalan Jaksa mulai dilupakan. Kehadiran tempat-tempat wisata baru juga membuat Jalan Jaksa semakin tertinggal karena kurangnya inovasi. Lokasinya yang strategis dengan berbagai tujuan wisata tidak mampu menarik perhatian para wisatawan saat ini. Melalui proyek akupuntur perkotaan ini, Jalan Jaksa diharapkan dapat memiliki daya tarik baru serta bisa mengembalikan kejayaannya yang saat ini meredup. Letaknya yang strategis dan sejarah jalan ini yang unik karena menjadi pusat  dan tujuan penginapan murah menjadi keunikan sendiri di tengah kota Jakarta yang terus berkembang. Pada proyek ini, urban acupuncture dilakukan dengan pembaharuan konsep penginapan dan tempat makan serta penambahan program baru yaitu ruang bekerja bersama. Konsep baru pada penginapan dilakukan dengan menggabungkan penginapan jenis hotel konvensional dengan hotel kapsul. Tempat makan dibuat dengan konsep food court yang terdiri dari beragam jenis kios makanan berbeda dengan area makan yang dibuat semi outdoor dan dikelilingi dengan taman sebagai respon dari iklim tropis. Unsur seni juga dimasukan sebagai daya tarik tambahan dengan membuat panggung seni yang dapat digunakan untuk pertunjukan musik, bernyanyi, tarian, dan sebagainya.
PENDEKATAN REKONSTRUKSI MEMORI KOLEKTIF SEBAGAI AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM BENTUK MUSEUM PADA KAWASAN SUNDA KELAPA Malvin Bastian Sendi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21767

Abstract

The loss of the collective memory of the Sunda Kelapa area as the womb of the city of Jakarta is the background of this project. This area used to be the main economic area driven by the Sunda Kelapa Harbor, but Sunda Kelapa continues to experience degradation and lose its capabilities. This causes the waning of activity in the area and makes this area lose its collective memory. The most severe degradation can be seen in the Maritime Museum area, where there are many abandoned heritage buildings and become dead spaces for the site. Urban acupuncture is one solution that can be applied to improve the degradation of urban space, and for that, an in-depth study is needed to determine the sick points in the area. The design was carried out to heal the ailing Maritime Area by restoring the collective memory of the site and becoming a new form of attraction that could revive the area. The project uses the heritage future method and spatial perception as a building design approach to answering problems in historical sites. The design results offer a museum extension in the Maritime Areas as an acupoint to restore the lost collective memory of the area and as a magnet to revive the area. The project establishes positive reciprocal relationships with local communities as part of the region's historical development. The project becomes an intervention in the context of the historical area that restores the collective memory of the community and the area. Keywords: Memory Reconstruction; Sunda Kelapa; Urban Acupuncture Abstrak Hilangnya memori kolektif Kawasan Sunda Kelapa sebagai rahim Kota Jakarta melatarbelakangi proyek ini. Kawasan ini dulunya merupakan kawasan ekonomi utama yang digerakkan oleh Pelabuhan Sunda Kelapa, akan tetapi Sunda Kelapa terus mengalami degradasi dan kehilangan kemampuannya. Hal ini menyebabkan memudarnya aktivitas pada kawasan dan membuat kawasan ini kehilangan memori kolektifnya. Degradasi yang terjadi dapat dilihat paling parah terjadi di Kawasan Museum Bahari dimana kawasan terdapat banyak bangunan peninggalan yang terbengkalai dan menjadi ruang mati bagi kawasan. Akupunktur perkotaan merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk memperbaiki degradasi ruang perkotaan dan untuk itu diperlukan studi secara mendalam untuk menentukan titik sakit pada kawasan. Perancangan dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan Kawasan Bahari yang tengah sakit, dengan mengembalikan memori kolektif kawasan dan menjadi bentuk akupunktur yang bisa bersama-sama memajukan kawasan tersebut.  Proyek menggunakan metode heritage future dan spatial perception sebagai pendekatan desain bangunan untuk menjawab permasalahan di kawasan bersejarah. Hasil perancangan menawarkan ekstensi museum pada Kawasan Bahari sebagai titik Akupunktur dengan tujuan untuk mengembalikan memori kolektif kawasan yang telah hilang dan juga sebagai magnet untuk kembali menghidupkan kawasan. Proyek menjalin hubungan timbal balik yang positif dengan komunitas lokal sebagai bagian dari sejarah perkembangan kawasan. Pada akhirnya, proyek menjadi intervensi dalam jalinan konteks kawasan bersejarah yang mengembalikan memori kolektif komunitas dan kawasan.
PENERAPAN KAMUFLASE ARSITEKTUR TERHADAP PENGEMBANGAN LANSKAP CITADELWEG SEBAGAI TITIK AKUPUNKTUR KOTA Gerald Gerald; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21768

Abstract

Any form of wandering will end up in a list or dictionary of events and objects. The discovery of patterns created from several events and architectural objects becomes a common thread or essence that binds the whole journey. Similar to tourism trips, making continuity between viewing points or attractions in the Medan Merdeka area, fosters historical value as a city-forming layer that opens up future development collectively. The physical transformation of several attractions or spectacles at Medan Merdeka and the design site shows three main architectural components; the heritage of Dutch East Indies buildings, the Indonesian Modern Architecture and the city landscape as the center of Medan Merdeka. Around the passive space under Jalan Veteran I or Citadelweg railway which is the design site, each city spectacle stands separately and disconnect the tourism and daily movements. The three components of the design scheme have different principles as a city spectacle. Seeing the three broadly becomes a camouflage tool to explore the layers of city structure, and how it relates to the modern city today. To understand how to connect these three components as an architectural intervention that can be a camoflour at the urban acupuncture points of Medan Merdeka and produce a sense of place in the design. The design creates continuity between Juanda's attractor and Medan Merdeka through the application of four camouflage methods in the design: (1). Camouflage the city as a spectacle through the merging of monumental towers and arch rhythms from the Dutch East Indies in architectural form; (2). City camouflage as a spectacle through the Indonesian Heritage Gallery and the Jakarta City Project program; (3). Reclaiming negative space under the Citadelweg railroad with landscape camouflage; (4). Using the 'speed' of trains for Citadelweg's business productivity through innovation and collaboration with NGOs. Keywords:  Architecture and NGOs, Architectural Camouflage, Citadelweg Landscape, Medan Merdeka Tourism, Under Railroad Space Utilization Abstrak Segala bentuk wandering akan berujung pada daftar atau kamus dari beberapa peristiwa dan objek. Penemuan pola dari beberapa peristiwa dan objek arsitektur menjadi benang merah atau esensi yang mengikat keseluruhan perjalanan. Sama halnya dengan perjalanan turisme, kesinambungan antar titik tontonan atau atraktor kawasan Medan Merdeka menumbuhkan nilai historis sebagai lapisan pembentuk kota yang membuka pengembangan di masa depan secara kolektif. Transformasi fisik beberapa atraktor atau tontonan di Medan Merdeka dan tapak rancangan menunjukan tiga komponen arsitektur utama yang dimiliki yaitu; peninggalan bangunan Hindia Belanda yang dipertahankan, Arsitektur Modern Indonesia dan lanskap kota sebagai sentral Medan Merdeka. Di sekitar ruang pasif bawah rel kereta Jalan Veteran I atau Citadelweg yang menjadi tapak rancangan, tiap tontonan kota berdiri secara terpisah dan terputus secara pergerakan turisme maupun keseharian. Ketiga komponen skema desain memiliki prinsip yang berbeda-beda sebagai sebuah tontonan kota. Melihat ketiganya secara luas menjadi alat kamuflase untuk mengeksplorasi lapisan-lapisan pembentuk kota, serta bagaimana relasinya dengan kota modern sekarang. Untuk mengerti bagaimana menghubungkan ketiga komponen tersebut sebagai intervensi arsitektur yang dapat menjadi camoflour di titik Akupunktur perkotaan Medan Merdeka dan menghasilkan jiwa tempat dalam rancangan. Rancangan desain menciptakan kontinuitas atraktor Juanda dengan Medan Merdeka melalui empat penerapan metode kamuflase dalam rancangan desain yaitu: (1). Kamuflase kota sebagai tontonan melalui penggabungan tower monumental dan ritme arch peninggalan Hindia Belanda dalam bentuk arsitektur; (2). Kamuflase kota sebagai tontonan dalam program Galeri Pusaka Indonesia dan Jakarta City Project; (3). Merebut kembali ruang negatif bawah rel kereta Citadelweg dengan kamuflase lanskap; (4). Menggunakan ‘kecepatan’ kereta untuk kegaiatan produktif melalui inovasi dan kolaborasi dengan NGO.
POHON URBAN BLORA: RUANG REHAT UNTUK KOMUTER DI JALAN BLORA Juan Valentino Lumanauw; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22597

Abstract

Blora Street is a road in the Menteng area, Central Jakarta. This street is famous for its shops which are lined up along Jalan Sudirman. However, due to a change in the configuration of the Jalan Blora area, the movements that occur are also changing, and this causes the area to no longer be as busy as it used to be. For this reason, an architectural approach by means of urban acupuncture is used to try to revive an area that is increasingly losing its hustle and bustle. This project is located on one of the vacant lands in the Blora street shopping strip. This project proposes the construction of a break room to meet the community's need for open space as well as a transit space for the community to take a short break from work and the commuting lifestyle they always do. This project aims to provide a space for people to "breathe" in the middle of Jakarta with a lifestyle that is driven by time. The project was designed using the third place method to consider the mobility and possibilities of the new attractor and its relation to the upcoming TOD master plan project in the area. With the results of the project being a form of solution to provide a new attractor for human movement in the area. Keywords:  commuter; Blora street; stopover; rest Abstrak Jalan Blora merupakan jalan yang berada di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Jalanan ini terkenal dengan pertokoannya yang berjejer di sepanjang Jalan Sudirman. Namun karena adanya perubahan konfigurasi Kawasan Jalan Blora, maka pergerakan yang terjadi pun kian berubah, dan mengakibatkan Kawasan tersebut tidak lagi ramai layaknya waktu dahulu. Untuk itu pendekatan arsitektur dengan cara akupuntur urban digunakan untuk mencoba menghidupkan Kembali Kawasan yang semakin lama semakin hilang keramaiannya. Proyek ini berlokasi di salah satu lahan kosong yang ada di strip pertokoan jalan Blora. Proyek ini mengusulkan pembangunan ruang rehat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka serta ruang singgah bagi masyarakat untuk istirahat sejenak dari pekerjaan serta gaya hidup komuter yang selalu mereka lakukan. Proyek ini bertujuan untuk memberikan sebuah ruang bagi masyarakat untuk “bernafas” di tengah kota Jakarta dengan gaya hidup yang terpacu oleh waktu. Proyek di desain menggunakan metode tempat ketiga untuk mempertimbangkan pergerakan dan kemungkinan atraktor yang baru serta keterkaitannya dengan proyek masterplan TOD yang akan datang di daerah tersebut. Dengan hasil proyek menjadi salah satu bentuk solusi untuk memberikan atraktor baru bagi pergerakan manusia di daerah tersebut.
MENGINGAT PINTU BESAR SELATAN : MERANCANG KEMBALI BANGUNAN YANG TERBENGKALAI DI JALAN PINTU BESAR SELATAN Klemens Denzel; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22633

Abstract

Pintu Besar Selatan St. is a connecting area between Chinatown, Glodok, and Kota Tua. In the past Pintu Besar Selatan St. is an area that is very crowded with visitors, but now Pintu Besar Selatan St. has been empty of visitors, one of the reasons is due to physical degradation in this area which has resulted in many abandoned buildings along Pintu Besar Selatan St.. The overall concept of this project is to recall the existence of Pintu Besar Selatan St. in terms of function and experience at the time. Through qualitative research methods and contextual design methods with a behavioral setting approach that produces recommendations for retail, office and restaurant programs which are the main functions of this project. The building is made according to the character of the area where the character of the area is shop houses with arcades along the road. Through the implementation of merging the existing facade as the exterior of the building as well as the existing arcade into the design and implementation of the program which is a development of the existing existing program, it can be the right response in supporting the development of the area evenly, it can also support the revival of the existence of Pintu Besar Selatan St. in the historical area which is supported by the existing component. Kata kunci: Akupunktur perkotaan; kontekstual; Pecinan Glodok; ruang terbengkalai Abstrak Jl. Pintu Besar Selatan merupakan sebuah kawasan penghubung antara Pecinan Glodok, dan Kota Tua. Pada masa lampau Jl. Pintu Besar Selatan menjadi daerah yang sangat ramai oleh pengunjung, namun sekarang ini Jl. Pintu Besar Selatan menjadi sepi pengunjung salah satu alasannya dikarenakan terjadinya degradasi fisik di daerah ini yang menjadikan banyak bangunan terbengkalai di sepanjang Jl. Pintu Besar Selatan. Konsep keseluruhan pada proyek ini adalah mengingatkan kembali keberadaan Jl. Pintu Besar Selatan secara fungsi maupun pengalaman yang ada pada masanya. Melalui metode penelitian kualitatif dan metode perancangan kontekstual dengan pendekatan behavioural setting yang menghasilkan usulan program ritel, kantor dan restoran yang menjadi fungsi utama pada proyek ini. Bangunan dibuat menyesuaikan dari karakter kawasan dimana karakter kawasan pada daerah ini adalah ruko dengan arkade yang berada disepanjang jalan. Melalui penerapan penggabungan fasad eksisting sebagai eksterior bangunan juga arcade eksisting ke dalam perancangan dan penerapan program yang merupakan pengembangan dari program eksisting yang ada dapat menjadi respon yang tepat dalam mendukung berkembangnya kawasan secara merata juga dapat mendukung teringat kembalinya keberadaan Jl. Pintu Besar Selatan pada kawasan historis yang didukung dengan adanya komponen eksisting.
KOMPROMI LOKALITAS DAN MODERNITAS PADA DESA ADAT PUBABU-BESIPAE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR Celine Anatta; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24245

Abstract

Life in society is inseparable from customs and traditions that shape the cultural values and local wisdom within a group or community. Indonesia is rich in customs and traditions, from Sabang to Merauke. Customs are the inherited habits or ideas that serve as guidelines for life in a society. For example, the indigenous community of Besipae in the Pubabu Customary Forest, East Nusa Tenggara, has the concept of the triangle of life, consisting of humans, livestock, and the forest, which are interdependent on each other. As a result, the management and preservation of the Besipae customary forest have been carried out by the indigenous community from one generation to another.However, the threats to customary forests have been increasing, and higher authorities wish to intervene in the lives of indigenous communities with land dispute issues. The government plans to invest in and commercialize the area without considering the pre-existing values. This article conveys that customs and culture are memories that will always be part of human life and should be respected and preserved. The data collection method used in this article is qualitative interpretative research. The purpose of this article is to serve as a foundation for compromising customs and local wisdom with modernity without erasing the existing history. Thus, a traditional village with a neo-vernacular architectural approach can be created to reconcile locality and modernity. Keywords:  besipae; compromise; tradition Abstrak Kehidupan dalam bermasyarakat tidak terlepas dari adat istiadat dalam membentuk nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal dalam suatu kelompok atau komunitas masyarakat. Indonesia kaya akan adat istiadat dari Sabang sampai Merauke. Adat merupakan kebiasaan atau gagasan yang turun temurun dan menjadi pedoman hidup dalam masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat adat Besipae di Hutan Adat Pubabu, Nusa Tenggara Timur yang memiliki konsep segitiga kehidupan, yaitu manusia, ternak, dan hutan yang saling tergantung satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pengelolaan dan pemeliharaan hutan adat di Besipae telah dilakukan oleh masyarakat adat dari generasi ke generasi secara terus-menerus. Namun, ancaman terhadap hutan adat semakin meningkat, dan pihak dengan wewenang yang lebih tinggi ingin mengintervensi kehidupan masyarakat adat dengan permasalahan sengketa lahan. Pemerintah berencana untuk berinvestasi dan mengkomersialkan kawasan tersebut tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Artikel ini menyampaikan bahwa adat dan budaya merupakan sebuah memori yang tidak akan lepas dari kehidupan manusia sehingga harus dihormati serta dipertahankan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini yaitu kualitatif interpretatif. Artikel ini bertujuan sebagai landasan dalam mengkompromikan adat dan kearifan lokal dengan modernitas tanpa menggeser sejarah yang telah ada. Sehingga tercipta desa wisata adat dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular untuk mengkompromikan lokalitas dan modernitas.
PENGARUH KEBERADAAN MAKAM DAN MITOSNYA TERHADAP KEBERTAHANAN WARGA DI DESA BEDONO Jovano Nathanael; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24246

Abstract

Bedono Village was originally a portrait of the life of a prosperous coastal community. Village life is filled with various activities that make the sea a source of livelihood. The village comprises groups of fishermen, farmers and fish traders, and small-medium industry players who process catches. The wheels of the local economy revolve around it so that residents can stay in the village to meet their needs. In 1998, it was the beginning of the change for the people of Bedono Village. Abrasion and land subsidence due to human activities consumed 2116.54 hectares of their native land. One by one, they started leaving their homeland, leaving the sea, looking for a safer place for their future. Besides the village, which has been partially submerged, a tomb stands upright and does not sink. It is the tomb of Sheikh Abdullah Mudzakir, a respected scholar who dedicated his life to spreading Islamic teachings. Those who already consider myth as "local wisdom" believe it is sacred and seek blessings from the tomb. The presence of the tomb has a power that makes them choose to stay in the village to protect their tomb and homeland. The spirit of survival was born from a mythical existence that was spread. Through myths, humans can learn to appreciate nature and its power. Through myths, villagers have the guarantee of the present and the future to survive in their last land. This paper will examine the impact of the presence of the tomb on the economic and social life of Bedono residents and find out how the spirit of survival born from a myth, and belief can lead them to form new spaces in the future. The method that has been used in this paper is internet searching by taking online journals and e-books as references, taking printed media such as books as references, and live surveys & interviews at the site location. The result of the research is an architecture design recommendation with a design scheme that is divided into cable cars, 3 towers, and fishing coordinates. Keywords: myth; sink; tomb; village Abstrak Desa Bedono pada mulanya merupakan sebuah potret kehidupan masyarakat pesisir yang makmur. Kehidupan desa dipenuhi oleh berbagai aktivitas yang menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian. Desa tersusun dari kelompok-kelompok nelayan, petambak, dan pedagang ikan, dan pelaku industri kecil-menengah yang mengolah hasil tangkap. Roda perekonomian lokal berputar di dalamnya sehingga warga tidak perlu keluar desa untuk memenuhi kebutuhannya. Tahun 1998, adalah awal mula perubahan warga Desa Bedono, abrasi dan penurunan muka tanah dari hasil ulah manusia memakan habis 2116.54 hektar tanah kelahiran mereka. Satu per satu mulai meninggalkan tanah kelahiran mereka, mencari tempat yang lebih aman. Disamping desa yang sebagian sudah tenggelam, terdapat sebuah makam yang berdiri tegak dan tidak tenggelam. Makam tersebut merupakan makam Syekh Abdullah Mudzakir, ulama yang dihormati atas pengabdiannya menyebarkan ajaran Islam. Mereka yang sudah menganggap mitos sebagai "kearifan lokal", mempercayainya sebagai sesuatu yang keramat dan mencari berkah dari makam tersebut. Kehadiran makam tersebut memiliki kekuatan yang membuat mereka tetap memilih bertahan di desa untuk menjaga makam dan tanah kelahiran mereka. Semangat kebertahanan lahir dari sebuah eksistensi mitos yang tersebar. Lewat mitos, manusia bisa belajar menghargai alam dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Lewat mitos, warga desa memiliki jaminan masa kini dan masa depan, untuk tetap bertahan di tanah terakhir mereka. Tulisan ini akan mengkaji dampak dari kehadiran makam tersebut terhadap kehidupan ekonomi dan sosial warga Bedono dan mencari tahu bagaimana semangat kebertahanan yang lahir dari sebuah mitos dan kepercayaan dapat membawa mereka membentuk ruang baru di masa depan. Metode yang digunakan dalam penelitian untuk mengumpulkan data adalah melalui penelusuran situs internet dengan mereferensikan kepada  jurnal online, dan e-book, referensi dari media cetak berupa buku, dan melalui survei dan wawancara secara langsung ke lokasi penelitian. Hasil penelitian merupakan rekomendasi perancangan arsitektur dengan skema perancangan yang terbagi menjadi kereta gantung, 3 menara, dan “fishing coordinate”.
PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKUALAR DALAM PERANCANGAN LIMA FASE BERDUKA PADA KONTEKS WISATA KUBURAN BAYI KAMBIRA DI TANA TORAJA Cynthia Cynthia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24247

Abstract

Passiliran is a ritual of Toraja tribe which has been lost. In the past, babies who died before growing their teeth were buried in hollowed-out tree trunks covered with palm fiber. The Kambira Baby Graveyared is one of the historical evidences that this ritual was once practiced and is now become one of the tourist attractions in Tana Toraja. Although the government has designated this location as one of the Kaero tourist destinations in Sangalla, its appeal has diminshied due to other more well-known rituals and tourist objects such as rambu solo and tongkonan houses. As a result, the location is now abandoned, with only one tree trunk still standing, while others have fallen and become fragile. History and culture are important because they are the heritage and identity of a nation and reflect its people way of living. This article will examine and propose a development plan for the Kambira Baby Graveyard Tourist Area, adopting Kubler-Ross’s five stages of grief in designing space programs, starting from denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Each program will represent the corresponding grief stage as a journey from West to East. The design process is based on the application of neo-vernacular architecture as a form of appreciation for Toraja’s rich culture and architecture. The design proposal includes cultural suitability, the use of local materials and knowledge of tectonics, harmony with nature, ornamentation, and correlation with current practices. Keywords: death; kambira; grief; neo-vernacular; toraja Abstrak Passiliran adalah ritual suku Toraja yang telah hilang. Dahulu, bayi-bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi akan dimakamkan dalam batang pohon yang dilubangi dan ditutup dengan ijuk. Kuburan Bayi Kambira adalah salah satu bukti sejarah bahwa ritual ini telah dilakukan, dan hingga kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Tana Toraja. Meskipun pemerintah telah mencanangkan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata Kaero di Sangalla, daya tariknya tenggelam akibat adanya ritual dan objek wisata yang lebih di kenal seperti rambu solo dan rumah tongkonan. Alhasil, lokasi ini menjadi terbengkalai dengan hanya satu batang pohon tersisa yang masih berdiri tegak, dengan beberapa pohon lainnya tumbang dan sudah rapuh. Sejarah dan budaya merupakan hal yang penting karena merupakan warisan dan identitas sebuh bangsa serta merupakan cerminan kehidupan dari masyarakatnya. Tulisan ini akan membedah dan mengajukan rancangan pengembangan area Wisata Kuburan Bayi Kambira dengan mengadopsi lima fase berduka Kubler-Ross dalam perancangan program ruang, di mana fase berduka dimulai dari fase denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Masing-masing program ruang akan merepresentasikan fase tersebut dalam bentuk suatu kesatuan perjalanan duka dari arah Barat ke Timur. Proses perancangan mengacu pada penerapan arsitektur neo-vernakular sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya dan arsitektur Toraja yang kaya. Perancangan tersebut menghasilkan proposal desain yang mencakup kesesuaian dengan budaya, penggunaan material lokal dan pengetahuan tentang tektonika, keserasian dengan alam, penggunaan ornamen, serta korelasinya dengan praktik masa kini.