Suryadi Santoso
Program Studi S1 PWK, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

STUDI PERUBAHAN FUNGSI PASAR TRADISIONAL (OBJEK STUDI: PASAR SLIPI, KELURAHAN KEMANGGISAN, KECAMATAN PALMERAH, JAKARTA BARAT) Sheila Juansyah; Suryadi Santoso; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22449

Abstract

Slipi Market is a traditional market with the land area 6.200 sq2 who has been established since 1990. The usage period of Pasar Slipi for seller has expired since 2010. Pasar Slipi is managed by PD. Pasar Jaya as the manager of the DKI Jakarta tradisional market. Currenty the condition are increasingly in terms of visitor, seller and the physical condition of the building. In response to this PD. Pasar Jaya has a short-term plan to make improvements to physical conditions, such as repainting, repairing leaky ceilings, repairing electrical installations and lighting the room to maintain the physical condition of the market building. Besides that, Slipi Market has decrease in the number of seller and visitor caused by several factors, these factors consist of market external factors and market internal factors. This can also occur due to a pettern of changes in the characteristics of the residential environment around the market. The purpose of this study was to find out the cause of the decrease in the number of seller and provide development for Slipi Market by utilizing the empty space on the 2nd floor which was formerly a cinema area. Data collection in the study was carried out by means of field surveys (observation) and interviews with stakeholders (visitor, seller and manager). The results of this study are to find out the cause of decrease in the occupancy rate of seller and the proposed development for the Slipi Market by utilizing the empty space in the Slipi Market in order to optimize the potential of the location. Keywords:  Function Changes;  Traditional Market; Visitor Abstrak Pasar Slipi merupakan pasar tradisional dengan luas lahan sebesar 6.200 m2 yang telah berdiri sejak tahun 1990. Sehingga masa hak pakai untuk para pedagang telah habis sejak tahun 2010. Pasar Slipi dikelola oleh PD. Pasar Jaya selaku pengelola pasar tradisional DKI Jakarta. Saat ini kondisi pasar kian mengalami penurunan baik dari segi pengunjung, pedagang maupun kondisi fisik bangunan. Dalam menanggapi hal tersebut PD. Pasar Jaya memiliki rencana jangka pendek untuk melakukan perbaikan – perbaikan kondisi fisik, seperti pengecatan ulang, perbaikan plafon yang bocor, perbaikan instalasi kelistrikan serta pencahayaan ruang untuk mempertahankan kondisi fisik bangunan pasar. Selain itu, Pasar Slipi telah mengalami penurunan jumlah pedagang maupun pengunjung yang disebabkan oleh beberapa faktor, faktor tersebut terdiri dari faktor eksternal pasar maupun faktor internal pasar. Hal tersebut juga dapat terjadi karena adanya pola perubahan karakteristik lingkungan hunian sekitar pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan jumlah pedagang dan memberikan usulan pengembangan untuk Pasar Slipi dengan pemanfaatan ruang kosong pada lantai 2 yang dulunya merupakan area bioskop. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan cara survei lapangan (observasi) dan wawancara atau indepth – interview terhadap stakeholder (pengunjung, pedagang dan pengelola). Hasil penelitian ini adalah mengetahui penyebab terjadinya penurunan tingkat hunian pedagang serta usulan rencana pengembangan dengan pemanfaatan ruang kosong pada Pasar Slipi agar dapat mengoptimalkan potensi lokasi.
STUDI KEBERHASILAN REVITALISASI PASAR BERSIH MALABAR, KECAMATAN CIBODAS, KOTA TANGERANG, BANTEN PASCA REVITALISASI Miftah Hidayat; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22461

Abstract

The market is one of the public facilities needed to support the community's daily needs. Usually, the market which is a public facility has a location close to residential areas so that its existence is easy to reach by residents who live around the market location. Pasar Bersih Malabar is one of the markets located in Cibodas District, Tangerang City, Banten. This market is a market that is easily accessible by residents who live in Perumnas Tangerang. Previously, before the revitalization was carried out, this market had conditions such as dirty traditional markets, lack of facilities, and poor accessibility in the building. However, this condition did not last long because in 2015 this market was revitalized, a collaboration between Perumnas Kota Tangerang and Putra Citanusa Limited Company. This revitalization aims to revive traditional markets' function as a supporter of people's lives in the Perumnas area of ​​Tangerang City. This study was conducted to determine the success of the revitalization that has been carried out by comparing the condition of the building and the occupancy rate of the Pasar Bersih Malabar with the Pasar Malabar Kota Tangerang using the comparative analysis method. Based on the studies that have been carried out, the revitalization that has been carried out does not have a major impact on the occupancy of the Pasar Bersih Malabar when compared to the Pasar Malaba Kota Tangerang. Keywords:  Pasar Bersih Malabar; Revitalization; Success Study Abstrak Pasar merupakan salah satu fasilitas umum yang dibutuhkan untuk dapat menunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh masyarakat. Biasanya, pasar yang merupakan fasilitas umum memiliki lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman penduduk agar keberadaannya mudah untuk dijangkau oleh penduduk yang bertempat tinggal di sekitar lokasi pasar tersebut. Pasar Bersih Malabar merupakan salah satu pasar yang terletak di Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten. Pasar ini merupakan pasar yang lokasinya mudah dijangkaku oleh penduduk yang bertempat tinggal di Perumnas Tangerang. Dulunya, sebelum dilakukan revitalisasi kondisi pasar ini memiliki kondisi seperti pasar tradisional pada umumnya yang kotor, kurangnya kondisi fasilitas, dan aksesibilitas dalam bangunannya yang kurang baik. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama karena pada tahun 2015 pasar ini dilakukan revitalisasi yang merupakan kerjasama antara Perumnas Kota Tangerang dengan PT. Putra Citanusa. Tujuan dari revitalisasi ini adalah untuk membangkitkan kembali fungsi dari pasar tradisional sebagai penunjang kehidupan masyarakat yang ada di wilayah Perumnas Kota Tangerang. Studi ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan revitalisasi yang telah dilakukan dengan membandingkan kondisi bangunan dan tingkat hunian Pasar Bersih Malabar dengan Pasar Malabar Kota Tangerang yaitu menggunakan metode analisis komparatif. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, revitalisasi yang telah dilakukan tidak berdampak besar terhadap okupansi Pasar Bersih Malabar apabila dibandingkan dengan Pasar Malabar Kota Tangerang.
STUDI PASAR TRADISIONAL DALAM MEMPERTAHANKAN JUMLAH PEDAGANG DAN PENGUNJUNG (OBJEK STUDI: SERDANG KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT) Tisya Evero Lin Wu; Suryadi Santoso; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22462

Abstract

Serdang Market is one of the traditional markets in DKI Jakarta which is managed by PD. Jaya Market. Serdang Market used to be an instructional market that has been operating since 1976 to relocate street vendors who occupied Jalan Bendungan Jago which was  managed by PD. Jaya Market. The term of use of the Serdang Market has also expired since 2004. For more than 40 years of operation, the physical condition of this market building has continued to decline, such as waterlogged floors, inadequate lighting, clogged gutters, perforated roofs, and flooding problems, but it has never been renovated and only repairs to water, electricity and gutter installations are carried out in an uncertain period. The occupancy rate at Serdang Market is still high because there are still many visitors, so traders choose to stay, even though there are street vendors who occupy the sides of the market that offer commodities that are almost the same as the market, as well as other factors. The purpose of this study was to determine the perceptions of the actors in the market activities as well as the proposed Serdang Market concept plan to maintain the existence of the Serdang Market. Data collection in the study was carried out by conducting field surveys (observations) and interviews with the actors (managers, traders, and visitors) of Serdang Market. The results of this study are to determine the perceptions of the perpetrators of activities in the market and the proposed development plan to retain traders and visitors. Keywords:  Traditional Market; Trader; Visitors; Manager Abstrak Pasar Serdang merupakan satu diantara pasar tradisional di DKI Jakarta yang dikelola oleh PD. Pasar Jaya. Pasar Serdang dulunya merupakan pasar inpres yang beroperasi sejak tahun 1976 untuk merelokasi pedagang kaki lima yang menempati Jalan Bendungan Jago yang kemudian dikelola oleh PD. Pasar Jaya. Masa hak pakai Pasar Serdang juga telah habis sejak tahun 2004. Selama lebih dari 40 tahun beroperasi kondisi fisik bangunan Pasar  Serdang terus menurun seperti lantai tergenang air, pencahayaan yang tidak memadai, selokan tersumbat, atap berlubang, dan masalah banjir,  tetapi belum pernah direnovasi dan hanya dilakukan perbaikan instalasi air, listrik dan talang air dalam jangka waktu yang tidak menentu. Tingkat hunian pada Pasar Serdang masih tinggi karena masih ramai pengunjung sehingga pedagang memilih untuk bertahan, walaupun terdapat pedagang kaki lima yang menempati sisi-sisi pasar yang menawarkan komoditi yang hampir sama dengan pasar, maupun faktor lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi para pelaku kegiatan dalam pasar serta usulan rencana konsep pengembangan Pasar Serdang untuk mempertahankan eksistensi Pasar Serdang. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan melakukan survey lapangan (observasi) dan wawancara terhadap para pelaku kegiatan (pengelola, pedagang, dan pengunjung) Pasar Serdang. Hasil penelitian ini adalah mengetahui persepsi para pelaku kegiatan dalam pasar serta usulan rencana pengembangan untuk mempertahankan pedagang dan pengunjungnya.
STUDI PERENCANAAN JALAN WAHID HASYIM SEBAGAI COMMERCIAL URBAN CORRIDOR Miracle Tjiabrata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24322

Abstract

Jalan Wahid Hasyim corridor in Central Jakarta is a road corridor that is famous for its commercial area and is one of the centers of commercial activities in Central Jakarta. The Jalan Wahid Hasyim corridor has easy access. Jalan Wahid Hasyim corridor is traversed by Jalan M.H. Thamrin which is a regional and national economic center, and connects other economic centers in Central Jakarta and South Jakarta. Economic activities that occur on Jalan M.H. Thamrin are supported by commercial activities along Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim is dominated by commercial hotels that become accommodation places for visitors both on vacation and on work assignments in Jakarta. The strategic location of the Jalan Wahid Hasyim corridor makes this road corridor crowded with people, coupled with activities carried out around the road corridor such as culinary tourism on Jalan Haji Agus Salim or often called Jalan Sabang. However, from the observations made in the road corridor, there are still several problems found in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The problems found are in the form of commercial building conditions, access in and out of buildings, and parking circulation. Seeing these problems, research was conducted to find the main problems that occurred in the Jalan Wahid Hasyim corridor, Central Jakarta.  The research was carried out by making direct observations of the Jalan Wahid Hasyim corridor and comparing it with the theory used as a reference for good and correct road corridor planning. So that from the theory used, the problem points can be found and concluded to then be planned into a good road corridor as described by the theory. In this case, the theory used is the Oakland Design Guideline and Commercial Areas theory. Based on the theory of Design Guideline and Commercial Areas, there are several elements that need to be considered in shaping road corridors, especially commercial buildings in order to facilitate commercial activities that take place in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The necessary elements concern the placement of buildings, parking lots, building design, to the presence of facilities on the pedestrian path in order to improve the condition of the road corridor on Jalan Wahid Hasyim, Central Jakarta. Keywords:  Commercial; Corridor; Design Guidelines; Wahid Hasyim Street Abstrak Koridor Jalan Wahid Hasyim di Jakarta Pusat merupakan koridor jalan yang terkenal dengan area komersialnya dan merupakan salah satu pusat kegiatan komersial di Jakarta Pusat. Koridor Jalan Wahid Hasyim memiliki akses yang mudah dijangkau. Koridor Jalan Wahid Hasyim dilalui oleh Jalan M.H. Thamrin yang merupakan sentra perekonomian daerah dan nasional, dan menghubungkan pusat-pusat perekonomian lainnya di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Kegiatan ekonomi yang terjadi di Jalan M.H. Thamrin didukung dengan aktivitas komersial di sepanjang Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim didominasi oleh komersial hotel yang menjadi tempat akomodasi bagi pengunjung baik yang sedang berlibur maupun yang sedang tugas kerja di Jakarta. Lokasi koridor Jalan Wahid Hasyim yang strategis menjadikan koridor jalan ini ramai dikunjungi masyarakat, ditambah dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan di sekitar koridor jalan seperti adanya wisata kuliner di ruas Jalan Haji Agus Salim atau sering disebut Jalan Sabang. Namun, dari hasil pengamatan yang dilakukan di koridor jalan, masih terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan di koridor Jalan Wahid Hasyim. Permasalahan yang ditemukan berupa kondisi bangunan komersial, akses keluar masuk ke bangunan, hingga sirkulasi parkir. Melihat permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk mencari permasalahan utama yang terjadi di koridor Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.  Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap koridor Jalan Wahid Hasyim dan membandingkannya dengan teori yang digunakan sebagai acuan sebagai perencanaan koridor jalan yang baik dan benar. Sehingga dari teori yang digunakan tersebut, titik permasalahan dapat ditemukan dan disimpulkan untuk kemudian direncanakan menjadi koridor jalan yang baik sebagaimana dijelaskan oleh teori tersebut. Dalam hal ini, teori yang digunakan adalah teori Oakland Design Guideline and Commercial Areas. Berdasarkan teori ini ditemukan beberapa elemen yang perlu menjadi perhatian dalam membentuk koridor jalan khususnya bangunan untuk komersial agar dapat memfasilitasi kegiatan komersial yang berlangsung di koridor Jalan Wahid Hasyim. Elemen yang diperlukan menyangkut penempatan bangunan, lahan parkir, desain bangunan, sampai keberadaan fasilitas di jalur pedestrian agar dapat meningkatkan kondisi koridor jalan di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.
IMPLEMENTASI NILAI NASIONALISME PADA MONUMEN PEMBEBASAN IRIAN BARAT Dominika Eufran Paseli; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24335

Abstract

Banteng Field Park is one of the city parks in Jakarta that has historical value, this park has existed since the Dutch colonial era. Until when the Republic of Indonesia was released from Japanese colonization, the name was changed to Banteng Field by President Soekarno to become Banteng Field. In this park there is a monument, namely the West Irian Liberation Monument. This monument was built in 1962 and inaugurated on August 17, 1963, where the idea of this monument was a proposal from President Soekarno. This monument is a symbolization as a sign to commemorate the return of West Irian in the territory of the Republic of Indonesia and the beginning that the territory of the Republic of Indonesia became intact for the first time. Banteng Field Park has been revitalized in 2018, with three zones in it, namely the Urban Forest zone, Monument zone and Sports Zone, with the main zone being the Monument Zone. This research has the aim of assessing whether the revitalization that has been carried out can strengthen the historical value of the Banteng Field Park or actually eliminate the historical value. In collecting data, researchers conducted primary and secondary data collection, namely conducting interviews, field surveys and literature reviews. To achieve the research objectives, this research uses descriptive qualitative research methods. The result of the research is to know that the revitalization that has been carried out has strengthened the historical value, as well as its implementation on the West Irian Liberation Monument. Keywords:  Nationalism; Revitalization; West Irian Liberation Monument Abstrak Taman Lapangan Banteng merupakan salah satu taman kota di Jakarta yang memiliki nilai sejarah, taman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Hingga pada saat NKRI terlepas dari penjajahan Jepang, digantilah nama menjadi Lapangan Banteng oleh Presidden Soekarno menjadi lapangan Banteng. Di taman ini terdapat sebuah monumen, yakni Monumen Pembebasan Irian Barat. Monumen ini dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan pada 17 Agustus 1963, yang mana gagasan monument ini merupakan usulan dari Presiden Soekarno. Monumen ini merupakan simbolisasi sebagai tanda untuk memeperingati kembalinya Irian Barat dalam wilayah NKRI dan menjadi awal bahwa wilayah NKRI menjadi utuh untuk pertama kalinya. Taman Lapangan Banteng telah selesai direvitalisasi pada tahun 2018, dengan tiga zona di dalamnya yaitu zona Hutan Kota,  zona Monumen dan Zona Oalahraga, dengan zona utama yakni Zona Monumen. Penelitian ini memiliki tujuan yakni menilai revitalisasi yang telah dilakukan dapat menguatkan nilai sejarah dari Taman Lapangan Banteng atau justru menghilangkan nilai sejarah tersebut. Dalam mengumpulkan data peneliti  melakukan pengumpulan data primer dan sekunder yakni melakukan wawancara, survei lapangan dan kajian pustaka. Untuk mencapai tujuan penilitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dalam penelitian adalah mengetahui  ini bahwa dengan revitalisasi yang telah dilakukan sudah menguatkan nilai sejarah, serta implementasinya pada Monumen Pembebasan Irian Barat.
STUDI INTEGRASI SERTA KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI UMUM DI KAWASAN STASIUN TENJO, KABUPATEN BOGOR Alivia Putri Winata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24338

Abstract

Tenjo Station is the main public transportation mode in Tenjo District which is one of the mobillity centers in the area. Tenjo Station is a stopping place for the Commuter Line which requires support from other modes of transportation to reach it hence a high quality transportation infrastructure is needed to be able to create interdependent integration. In addition, regional development can be a benchmark that requires integration between modes in forming an area. Therefore, to find out the conditions of integration and the availability of transportation facilities and infrastructure, it is carried out through network and movement analysis and analysis of transportation facilities and infrastructure using a descriptive-qualitative methods such as observational data, interviews and secondary data obtained from Google Maps and the Moovit application. Network and movement analysis is carried out by processing road network data that can be accessed to reach Tenjo Station. While the analysis of transportation facilities and infrastructure is carried out by processing data on stop points and routes from transportation modes with assessment tools standardization of bus stop making. In order to find out these conditions that are supported by the results of the two analyzes, development recommendations can be carried out by adding transportation infrastructure in the form of bus stop as a place to switch modes in order to create integration. As well as recommendations for the improvement of Tenjo Station as the main station so that it is more adequate in its use. Keywords:  Tenjo Station; Integration of Transportation Mode; Availability of Transportation Facilities and Infrastructure Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut. Stasiun Tenjo adalah tempat pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memerlukan dukungan dari moda tranportasi lain untuk dapat mencapai Stasiun Tenjo sehingga dibutuhkan prasarana transportasi yang baik untuk dapat menciptakan integrasi yang saling bergantung. Selain itu, pengembangan kawasan dapat menjadi tolak ukur bahwa diperlukan integrasi antar moda dalam membentuk suatu kawasan. Dengan demikian, untuk mengetahui kondisi integrasi dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dilakukan melalui analisis jaringan dan pergerakan dan analisis sarana dan prasarana transportasi dengan metode deskriptif - kualitatif seperti data hasil observasi, wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari Google Maps dan Aplikasi Moovit. Analisis jaringan dan pergerakan dilakukan dengan mengolah data jaringan jalan yang dapat diakses untuk mencapai             Stasiun Tenjo. Sedangkan analisis sarana dan prasarana transportasi dilakukan dengan mengolah data titik pemberhentian dan rute dari moda transportasi dengan alat penilaian standarisasi pembuatan bus stop. Dalam rangka mengetahui kondisi tersebut yang didukung dari hasil kedua analisis, rekomendasi pengembangan dapat dilakukan dengan penambahan prasarana transportasi berupa bus stop sebagai tempat peralihan moda agar terciptanya integrasi. Serta rekomendasi untuk dilakukan peningkatan Stasiun Tenjo sebagai stasiun utama agar semakin memadai dalam penggunaannya.  
PENERAPAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN TERHADAP PERENCANAAN PERUMAHAN PADA KAWASAN RAWAN BANJIR KECAMATAN PERIUK Priska Stefani; B. Irwan Wipranata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24341

Abstract

Flooding in Periuk Sub-district has been a priority issue for the local government for a long time. Until now, flood control is still an annual work program of several related parties. Meanwhile, the population growth rate of Tangerang City is increasing, so the need for residential land is also increasing over time. As an area planned as an integrated residential area, Periuk Sub-district, which borders directly with Tangerang Regency (Pasarkemis Sub-district), has experienced good progress in the development of residential areas dominated by private developers. However, flood vulnerability is an important consideration in the development of new residential areas, as is the case with the vacant land of the study object between Situ Bulakan and Situ Gelam. With the land designation as housing based on spatial plan (RTRW) Tangerang City 2023, the vacant land has not been optimally utilized because it is included in the flood-prone area. By applying the concept of water sensitive urban design (WSUD), the spatial arrangement of the residential area will focus on water cycle management (Drainage) and public open space as water catchment areas. In addition, adjustments are also made to the requirements for residential development in flood-prone areas to produce recommendations for components that are most suitable for the characteristics of the study object. Keywords: housing planning; water sensitive urban design (WSUD); and flood-prone area Abstrak Kerawanan bencana banjir di Kecamatan Periuk sudah menjadi permasalahan prioritas pemerintah daerah dahulu. Hingga kini, pengendalian banjir masih  menjadi program kerja tahunan dari beberapa instansi atau pihak terkait. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Tangerang semakin meningkat, sehingga kebutuhan akan lahan hunian juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman terpadu, Kecamatan Periuk yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tangerang (Kecamatan Pasarkemis) mengalami perkembangan dalam pengembangan kawasan hunian yang cukup baik dan didominasi oleh pengembang swasta. Namun kerawanan bencana banjir menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kawasan perumahan baru, seperti yang terjadi pada lahan kosong objek studi di antara Situ Bulakan dan Situ Gelam. Dengan peruntukan lahan sebagai perumahan berdasarkan RTRW Kota Tangerang tahun 2030, lahan kosong belum dimanfaatkan dengan optimal karena termasuk ke dalam kawasan rawan banjir. Dengan menerapkan konsep water sensitive urban design (WSUD), penataan ruang kawasan perumahan akan difokuskan pada pengelolaan siklus air (Drainase) dan ruang terbuka publik sebagai daerah resapan air. Selain itu juga dilakukan penyesuaian terhadap syarat pengembangan hunian pada kawasan rawan banjir untuk menghasilkan rekomendasi komponen yang paling sesuai dengan karakteristik objek studi.
STUDI POSITIONING POTENSI WISATA DESA KENDERAN TERHADAP DESA WISATA DI KABUPATEN GIANYAR Joshua Marcell Iglecia Putralim; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24348

Abstract

Kenderan Tourism Village, a traditional settlement, is still developing today. The word kendran stands for the word sense, which is a pengater (prefix) ke and pangiring (suffix) an, so it actually becomes the word kendran, kasutr which becomes kendran. Tourism development has now become a major part of Indonesia's national development and also a source of national income. Indonesia is a country rich in diversity of art, culture and natural beauty. This wealth has the potential to be empowered through the development of tourism, including tourist villages. Tourism development is related to the role of local communities in a tourist destination. However, in Gianyar regency, there are many tourist villages that can be said to be competing with each other, therefore the authors conducted a positional study of the existence of Kenderan village against other tourist villages because Kenderan village has a lot of potential. Keywords: traditional settlements; positioning; Traditional Villages; Tourism Villages; Tri Hita Karana Abstrak Desa Wisata Kenderan sebuah permukiman tradisional masih terus berkembang sampai saat ini, Kata nama Kendran berdiri dari kata indra, yang merupakan pengater (awalan) ke dan pangiring (akhiran) an, sehingga sebenarnya menjadi kata keindraan, kasutryang menjadi kendran. Pengembangan pariwisata kini sudah menjadi bagian utama dari adanya pembangunan nasional Indonesia dan juga sumber dari pendapatan nasional. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keanekaragaman seni, budaya dan keindahan alam. Kekayaan tersebut memiliki potensi untuk  diberdayakan melalui pengembangan pariwisata, termasuk desa wisata. Pembangunan kepariwisataan berkaitan dengan peranan masyarakat lokal di suatu destinasi wisata. Namun di dalam kabupaten Gianyar terdapat banyak desa Wisata yang bisa dikatakan saling bersaing, oleh karena itu penulis melakukan studi positioning keberadaan desa Kenderan terhadap desa Wisata yang lain karena banyak potensi yang dimiliki oleh desa Kenderan.
KAJIAN KARAKTERISTIK KORIDOR JALAN BOULEVARD KELAPA GADING SEBAGAI KORIDOR KOMERSIAL Hanneke Vianda Sari; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24349

Abstract

Boulevard Kelapa Gading Street Corridor located in Kelapa Gading District, North Jakarta, is one of the main corridors that supports activities in Kelapa Gading area. This street corridor is one of the connecting accesses between areas around North Jakarta and East Jakarta, and the land use around this corridor is also supported by the presence of upper middle class housing, thus helping the ongoing commercial activities along this road corridor. Land use and business activities on the right and left of this corridor have various types and are dominated by well-known retailers and restaurants, so that commercial activities in this corridor can grow rapidly and are crowded with people visiting for work or just sightseeing and enjoying culinary. However, based on observations, there are still some problems and lack of physical corridor conditions that should be improve to be a better conditions to facilitate the continuity of commercial activities in this corridor, including pedestrian paths, public transportation facilities, building conditions, parking, public open spaces. and greenery. According to the Commercial Corridor Strategy guidelines, there are a number of characteristics of Commercial Corridors that can be applied to facilitate the maximum continuity of commercial activities, and based on these guidelines aspects of building conditions, mobility of pedestrian paths, public transportation, parking, local scale economy, and open public spaces in Boulevard Kelapa Gading Street corridor that needs to be improved to support commercial activities in this corridor. Keywords:  Boulevard Kelapa Gading Street; street corridor; commercial; physical condition Abstrak Koridor Jalan Boulevard Kelapa Gading yang berlokasi di Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, merupakan salah satu koridor utama yang menopang kegiatan di kawasan Kelapa Gading. Koridor jalan ini menjadi salah satu akses penghubung antar kawasan di sekitar Jakarta Utara dan Jakarta Timur, serta penggunaan di sekitar koridor ini juga didukung dengan adanya hunian kelas menengah atas, sehingga membantu berlangsungnya aktivitas komersial yang berada di sepanjang koridor jalan ini. Penggunaan lahan dan kegiatan usaha yang berada di kanan dan kiri koridor ini memiliki jenis yang beragam dan didominasi oleh retail dan restoran yang terkenal, sehingga kegiatan komersial di koridor ini dapat bertumbuh dengan pesat dan ramai didatangi masyarakat untuk keperluan bekerja maupun sekedar jalan-jalan dan menikmati kuliner. Namun, berdasarkan hasil observasi, masih terdapat beberapa permasalahan dan kekurangan dari segi kondisi fisik koridor yang seharusnya dapat ditingkatkan untuk kondisi yang lebih baik untuk memfasilitas keberlangsungan aktivitas komersial di koridor ini, diantaranya yaitu jalur pedestrian, fasilitas transportasi umum, kondisi bangunan, parkir, ruang terbuka publik dan penghijauan. Menurut panduan Commercial Corridor Strategy, terdapat sejumlah karakteristik Commercial Corridor yang dapat diterapkan untuk memfasilitasi keberlangsungan kegiatan komersial secara maksimal, dan berdasarkan panduan tersebut aspek kondisi bangunan, mobilitas (jalur pedestrian, transportasi umum), parkir, perekonomian skala lokal, dan ruang terbuka publik di koridor Jalan Bouelavrd Kelapa Gading perlu ditingkatkan untuk menunjang kegiatan komersial di koridor ini.
KAJIAN PENERAPAN KONSEP DAN PRINSIP EKOLOGI TAMAN KOTA (STUDI KASUS : TEBET ECO PARK, JAKARTA SELATAN) Nurhalizah Pratiwi Putri; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24350

Abstract

Provision of green open space is one of the efforts in environmental development which aims to maintain balance in a densely populated urban area. One type of green open space in meeting these needs is a city park that has an ecological function. Tebet Eco Park is one of the city parks in Jakarta that implements this function. Tebet Eco Park is located on Jalan Tebet Barat and has a land area of 73,000 m². Tebet Eco Park was inaugurated on April 23, 2022 by Anies Baswedan. This park is the result of the revitalization of Taman Tebet and Taman Bibit by carrying out the concept of connecting people with nature, meaning connecting humans with nature. The revitalization aims to restore the function of the park ecologically and can be used as a means of recreation, education and interaction. The main function of an ecological park is to reduce the potential for flooding, play a role in the hydrological function in absorbing and balancing water resources, plants as noise and pollution dampers, as shade and a place for biological conservation of flora and fauna. In the existing condition there are several ecological functions that have been implemented. However, this application has not been carried out optimally, so this study aims to identify and analyze the application of ecological concepts and principles in Tebet Eco Park. The research method used is descriptive qualitative method. The results of this study are the need to add various types of flora to maximize ecological functions as well as the availability of information boards as educational facilities as well as the vacant land that is still available can be used as sports fields and to increase the number of MSMEs originating from the surrounding community and the role of the community in managing, announcing and develop gardens. Keywords:  city park; eco park; urban park Abstrak Penyediaan ruang terbuka hijau menjadi salah satu upaya dalam pembangunan lingkungan yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan di suatu daerah perkotaan yang padat penduduk. Salah satu jenis RTH dalam memenuhi kebutuhan tersebut ialah taman kota yang memiliki fungsi ekologis. Tebet Eco Park merupakan salah satu taman kota di Jakarta yang menerapkan fungsi tersebut. Tebet Eco Park terletak di Jalan Tebet Barat dan memiliki luas lahan sebesar 73.000 m². Tebet Eco Park diresmikan pada tanggal 23 April 2022 oleh Anies Baswedan. Taman ini merupakan hasil revitalisasi dari Taman Tebet dan Taman Bibit dengan mengusung konsep connecting people with nature artinya menghubungkan manusia dengan alam. Revitalisasi tersebut bertujuan untuk mengembalikan fungsi taman secara ekologis dan dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi, edukasi dan interaksi. Fungsi utama dari taman ekologis ialah sebagai pereduksi potensi banjir, berperan dalam fungsi hidrologi dalam penyerapan dan keseimbangan sumber daya air, tanaman sebagai peredam kebisingan serta polusi, sebagai peneduh dan tempat konservasi hayati flora serta fauna. Pada kondisi eksistingnya terdapat beberapa fungsi ekologis yang sudah diterapkan. Namun, penerapan tersebut belum dilakukan secara maksimal sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penerapan konsep dan prinsip ekologis di Tebet Eco Park. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini ialah perlu ditambahkan berbagai jenis flora guna memaksimalkan fungsi ekologis serta tersedianya papan informasi sebagai sarana edukasi serta lahan kosong yang masih tersedia dapat dimanfaatkan menjadi lapangan olahraga dan memperbanyak jenis UMKM yang berasal dari masyarakat sekitar dan adanya peran dari masyarakat dalam mengelola, merencanakan serta mengembangkan taman.