Agustinus Sutanto
Prodi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Universitas Tarumanagara

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGALAMAN RUANG MELALUI LIMA INDERA Anita Hartati; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3807

Abstract

Jakarta, sang metropolis, saat ini adalah tempat bernaung bagi 10 juta penduduk Indonesia. Sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, Jakarta menarik banyak perhatian orang di luar kota untuk datang dan menetap di dalamnya sehingga membuat kota ini begitu padat. Selain padat akan penduduk, Jakarta juga padat akan bangunan, kendaraan dan polusi udara. Lingkungan seperti ini membuat penduduknya jarang merasa nyaman. Ditambah dengan masalah kehidupan pribadi membuat beban berat pada kondisi psikologis manusianya.Tidak heran jika penduduk kota Jakarta akrab dengan yang namanya stres. Manusia menggunakan lima indera sebagai alat untuk mengenal dunia. Mata untuk melihat, hidung untuk bernapas, telinga untuk mendengar, lidah untuk mengecap dan kulit untuk meraba. Saat ini di kota Jakarta kelima indera ini tidak lagi di stimulasi dengan pengalaman yang membuat nyaman. Sebut saja kebisingan dari klakson kendaraan yang memenuhi jalanan sehingga memekakkan telinga juga polusi udara yang penduduk Jakarta hirup setiap harinya. Untuk itu penulis mengkaji dan menganalis mengenai arsitektur dan interior yang dapat membuat manusia merasa nyaman. Sebagai tempat wisata Five Senses Experience ingin memberikan suatu pengalaman ruang melalui lima indera yang berbeda dari kehdupan sehari-hari di Jakarta. Melalui desain program wisata yang berupa perjalanan spiritual, tempat wisata ini diharapkan dapat menjadi alat coping stres bagi para pengunjung sehingga pikiran menjadi tenang dan damai.
WISATA KAMPUNG NELAYAN DI MUARA ANGKE Yourdy Yonathan; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3805

Abstract

Indonesia mempunyai keragaman sumber daya alam dan budaya yang sangat melimpah. Kekayaan sumber daya alam dan budaya tersebut hingga saat ini berperan penting sebagai faktor penentu perekonomian nasional. Akan tetapi, masyarakat Indonesia masih belum mengenal dan memahami peran dari keragaman sumber daya alam dan budaya yang ada. Kondisi ini cenderung menyebabkan penurunan kualitas dari nilai-nilai wisata dan nilai-nilai budaya tradisional suatu kawasan. Pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, pada awal perkembangannya merupakan salah satu kawasan yang kaya akan keanekaragaman alam dan budaya tradisional. Potensi alam dan kearifan lokal tersebut dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Jakarta. Hal tersebut didukung oleh letaknya yang dekat dengan Hutan Lindung Muara Angke dan berbatasan langsung dengan perairan, yaitu Laut Jawa, Kali Asin, dan Kali Adem. Selain itu, pesisir Muara Angke yang dikenal sebagai lokasi pelelangan dan pelabuhan ikan memiliki tatanan kehidupan masyarakat lokal dengan sebagian besar penduduk bermata-pencaharian sebagai nelayan dan pengolah hasil perikanan yang mempunyai keterkaitan dengan sumber daya yang mereka miliki. Dalam destinasi wisata ini, terdapat fungsi-fungsi yang diharapkan dapat mengembalikan kejayaan Muara Angke. Fungsi restaurant, yang akan menjadi wadah yang dipenuhi oleh bumbu-bumbu asli khas wilayah Muara Angke. Fungsi Aquarium, yang akan meemberikan edukasi ke masyarakat kota Jakarta, untuk menginformasikan masyarakat tentang biota laut dan pentingnya untuk menjaga kelangsungan hidup laut. Dengan bentuk bangunan yang ikonik, diharapkan bangunan ini akan mengisi kekosongan di kawasan Muara Angke. Bentuk bangunan yang menyerupai kapal, yang diisi dengan restaurant, aquarium, tempat souvenir kawasan, menjadikan ikon dari kawasan Muara Angke.
HORISON KEMATIAN – TAMAN PEMAKAMAN UMUM KARET BIVAK Kevin Tobias; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3972

Abstract

Kota Jakarta terus melakukan perluasan area sejak awal terbentuk. Lansekap kota terus mengalami perubahan namun ada yang tidak. Kuburan sebagai artefak kota yang bertahan mengalami stagnansi dan terancam di alihfungsikan jika tidak sesuai lagi dengan rencana tata kota. Meskipun demikian kuburan di kota memiliki peran penting dalam mengingatkan warganya akan kematian sebagai siklus kehidupan manusia, sehingga mereka tidak larut akan rutinitas kesehariannya. Program wisata ditambahkan ke dalam komplek kuburan untuk memberikan makna-makna baru bagi kuburan melalui perjalanan wisata. Makna-makna tersebut merupakan horizon antara kehidupan dengan kematian yang ditemukan oleh wisatawan di kuburan. Kesadaran akan makna-makna ini dapat dicapai melalui pengalaman fenomenologis bagi penggunanya bertujuan untuk menimbulkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seseorang. Melalui interaksi dengan kematian sebagai tujuan akhir dari kehidupan manusia, kesadaran akan eksistensi diri dapat dihadirkan dan menjadi momen penting bagi seseorang untuk menentukan arah hidupnya. Perjalanan wisata akan bercerita mengenai perjalanan hidup dan sudut pandang seseorang dari lahir, masa kanak-kanak, dewasa, sampai menuju kematian, yang akan disampaikan melalui pengalaman ruang. Diharapkan arsitektur yang dihasilkan mampu untuk menjawab kebutuhan tempat wisata di metropolis di masa depan dan melalui makna-makna yang ditemukan dapat meningkatkan nilai kuburan di dalam kota bagi masyarakat. Kuburan dapat menjadi media bagi masyarakat kota tanpa memandang latar belakang agama apapun untuk memenuhi kebutuhan spiritual setiap individu akan kesadaran eksistensialnya.
MENTRANSFORMASIKAN SANG HEDONIS Ansyla Arsita; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3804

Abstract

Pariwisata dan Arsitektur bagi kota merupakan elemen penting yang sangat berpengaruh. Beda dengan area rural yang daya tariknya berasal dari alam, kota merupakan area yang didominasi oleh bangunan sehingga aktivitas di area kota tidak bisa lepas dari bangunan dan hal ini ditopang oleh arsitektur. Arsitektur dalam kota memiliki dua peran, hal ini dikemukakan oleh Jan Specht, yaitu Arsitektur Wisata dan Wisata Arsitektur. Membawa konsep Architourism ke dalam konteks Metropolis akan memberikan tantangan kepada penulis dalam menerapkan pendekatan Tourism Architecture. Untuk itu dalam merancang sebuah program wisata di area Metropolis, penulis akan berhadapan dengan kompleksitas karakter-karakter tersebut, guna menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat metropolis. Dengan ini penulis mengangkat isu mengenai paham duniawi, dimana paham duniawi ini memiliki tiga bagian yaitu Konsumerisme, Hedonisme, dan Sekuralisasi. Penulis mengangkat isu ini karena ingin menghadirkan sebuah wisata rohani ditengah kota jakarta yang penuh dengan orang-orang yang menganut paham duniawi. Proyek ini ditujukan dan diharapkan agar para penggunanya dapat sadar mengenai prihal paham duniawi, sehingga kehidupan mereka dapat menjadi lebih baik dan berarti.