Djidjin Wipranata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

FASILITAS PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DI LAUT WULA, NUSA TENGGARA TIMUR Stevie Stevie; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12423

Abstract

East Nusa Tenggara is one of the provinces in Indonesia that has abundant marine natural wealth and is the second largest seaweed producer in Indonesia. Electricity is an important component in civilization and modernity, as well as the development of knowledge and information. However, East Nusa Tenggara often suffers from a shortage of electricity and fuel to carry out activities that are still dependent on fossil fuels that damage the environment. Therefore, realizing the enormous potential of the existing sea, it is necessary to build a facility for the use of seaweed that can be converted into biofuel, which can then be converted into electrical energy, and can also be processed into agar, carrageenan, and fertilizer focused on the Wula Village Sea as a source of energy. prime location. This project is also intended to educate visitors to get to know the sea more closely, as well as remind humans that in order to survive, we don't have to sacrifice other lives. This project uses a regenerative architecture design method that prioritizes the balance between humans, marine life, and the sea. This project consists of a program for the biofuel industry, electricity generation, tourism, seaweed raw material industry, workers' residences, and service rooms with futuristic building styles. Keywords: architecture; biofuel; electricity; futuristic; industry; seaweed; sea.AbstrakNusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan alam laut yang melimpah dan menjadi penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Listrik merupakan komponen penting dalam peradaban dan modernitas, serta perkembangan pengetahuan dan informasi. Namun, seringkali Nusa Tenggara Timur mengalami kekurangan pasokan listrik dan bahan bakar untuk menjalankan aktivitas yang hingga saat ini masih bergantung dengan energi fosil yang merusak lingkungan. Maka dari itu, menyadari besarnya potensi laut yang ada, perlu dibangun suatu fasilitas pemanfaatan rumput laut yang dapat dikonversikan menjadi biofuel, yang selanjutnya dapat dikonversikan menjadi energi listrik, dan juga dapat diolah menjadi agar, karaginan, dan pupuk yang difokuskan pada Laut Desa Wula sebagai lokasi utama.  Proyek ini juga dimaksudkan untuk memberikan edukasi kepada pengunjung untuk mengenal laut lebih dekat, serta mengingatkan manusia bahwa untuk bertahan hidup, kita tidak harus mengorbankan kehidupan lainnya. Proyek ini menggunakan metode desain regenerative architecture yang mengutamakan keseimbangan antara manusia, biota laut, dan laut. Proyek ini terdiri dari program industri biofuel, penghasil listrik, wisata, industri bahan baku rumput laut, tempat tinggal pekerja,  dan ruang servis dengan gaya bangunan futuristik.
IMPLEMENTASI PANGAN BERKELANJUTAN DI BALEKAMBANG MELALUI FASILITAS AQUAPONIC BERBASIS KOMUNITAS Risyad Nadhifian Reksoprodjo; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12347

Abstract

Food is a primary need for humans. With energy produced by foods, humans can do daily activities that contribute to human society. Because of this, food plays a very pivotal role in human society, and the world itself. Unfortunately, in this era of globalization, food systems are commonly capitalized, which creates negative effects on earth’s ecosystem. Negative effects include overfarming, overuse of natural resources, and over-wasting.  This has bad effects on earth and its ecologies, that’s why the application of sustainable foods in human society must be done. Sustainable food systems focus on producing food with a positive impact on the earth’s ecosystem and its consumers. Sustainable foods are well suited to be implemented in urban society, due to their large consumption value which largely impacts the rotation of food systems. The hope is that  with the application of sustainable foods in urban communities, the need for healthy and positive-impacting food in urban communities could be fulfilled, while also keeping earth’s ecosystems intact. Balekambang community based aquaponics facility is a pilot project to provide sustainable and locally produced foods for urban residents in Jakarta, specifically in Balekambang sub-district. Using aquaponics system at its core, we combine planting and social activities to create a sustainable food ecosystem that belongs to the residents. The building itself is designed to provide optimal sunlight, airflow, and water distribution towards aquaculture and hydroponic plant systems, thus creating the year-round optimal environment for growing fish and plants.Keywords: community; food; social; sustainability; urban  Abstrak Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Dengan energi dari pangan, manusia dapat melakukan aktivitas keseharian yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Dengan ini pangan sangat penting terhadap semua aspek kehidupan manusia, serta kondisi ekosistem bumi itu sendiri. Sayangnya, di era globalisasi ini, Sistem pangan sebagian besar dikapitalisasi. Banyak efek buruk yang diakibatkan kapitalisasi pangan ini. seperti contohnya overfarming, pemborosan SDA, dan penumpukan limbah. Hal ini berefek buruk terhadap ekosistem. Untuk itu aplikasi pangan berkelanjutan menjadi teramat penting. Pangan berkelanjutan berfokus pada bagaimana memproduksi pangan dengan cara yang positif terhadap ekologi bumi serta pengonsumsi pangan itu sendiri. Pangan berkelanjutan patut diterapkan di masyarakat perkotaan, karena volume konsumsi yang besar dan cukup berpengaruh terhadap rotasi pangan. Harapannya dengan aplikasi pangan berkelanjutan di masyarakat perkotaan, keperluan pangan sehat dan merata di masyarakat dapat dipenuhi, seiringan dengan dapat terjaganya kondisi ekosistem bumi. Fasilitas Aquaponic berbasis komunitas di Balekambang merupakan sebuah proyek eksperimental yang mengaplikasikan sistem pangan berkelanjutan di tengah komunitas pemukiman padat DKI Jakarta, spesifiknya Kelurahan Balekambang. Dengan mengkombinasikan sistem pangan Aquaponic dengan aktivitas sosial warga sekitar, proyek ini bertujuan agar sistem pangan berkelanjutan dapat diadopsi oleh warga balekambang dan menjadi sesuatu yang berasa dimiliki oleh warga sekitar, serta menghasilkan pangan sehat dan berkelanjutan bagi warga sekitar.
RUANG AJAR BALANG: FASILITAS EDUKASI PEMANFAATAN DAN PENGOLAHAN ECENG GONDOK DI SUNGAI SIAK Vellisa Chou; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12425

Abstract

According to data from the Data and Information Center of the Ministry of Agriculture (Kementan 2019), Riau Province is the largest palm oil producer in Indonesia with an area of 2,430.51 ha and an average production of 8,605.65 thousand tons annually. However, the high activity of the palm oil industry causes damage to the ecosystem around the river due to waste disposal which causes high metal contentin the water and siltation in the Siak River. Therefore, it is necessary to carry out handling in the form of wastewater treatment with natural biofiltration, one of which is water hyacinth. In addition to being economical, this aquatic plant has the potential to grow quickly. Balang-balang Learning Area is an educational center for water hyacinth as a heavy metal purification in the Siak River, Riau. In this project, utilize the potential of water hyacinth as a natural biofiltration that can purify heavy metals in the water content of the Siak River until 99.70% (Rosida, 2018). The growth of water hyacinth has become a potential for handicraft businesses and space installations. Therefore, the growth of water hyacinth can be controlled so that it does not interfere with wastewater treatment activities. In designing this project using a combination of locality and contextual design methods, it is hoped that the project can have elements of harmony and balance with localities in Siak Regency. The presence of the Balang-balang Learning Area is expected to be a facility that can educate the public on the potential of water hyacinth as a heavy metal purifier and its economic benefits. Keywords: education; purification; water hyacinth. AbstrakBerdasarkan data yang dilansir dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian (Kementan 2019), Provinsi Riau merupakan penghasil  kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 2.430,51 ha dan produksi mencapai rata-rata 8.605,65 ribu ton setiap tahunnya. Namun, tingginya aktivitas industri sawit menyebabkan rusaknya ekosistem yang berada di sekitar sungai akibat pembuangan limbah yang menyebabkan tingginya kandungan logam pada air dan pendangkalan di Sungai Siak. Maka dari itu perlu dilakukan penanggangan berupa pengolahan air limbah dengan biofiltasi alami, salah satunya adalah dengan eceng gondok. Selain ekonomis, tumbuhan air ini memiliki potensi perkembangan yang sangat cepat. Ruang Ajar Balang-balang merupakan pusat edukasi eceng gondok sebagai purifikasi logam berat di Sungai Siak, Riau. Proyek ini, memanfaatkan potensi eceng gondok sebagai biofiltrasi alami yang dapat mempurifikasi logam berat pada kandungan air di Sungai Siak sebesar 99,70% (Rosida, 2018). Perkembangan eceng gondok yang pesat menjadi potensi bagi usaha kerajinan tangan dan instalasi ruang. Dengan demikian perkembangan eceng gondok dapat dikendalikan sehingga tidak mengganggu aktivitas pengolahan air limbah. Pada perancangan proyek ini menggunakan penggabungan metode perancangan lokalitas dan kontekstual diharapkan proyek dapat memiliki unsur serasi dan seimbang terhadap lokalitas di Kabupaten Siak. Hadirnya Ruang Ajar Balang-balang diharapkan menjadi fasilitas yang dapat mengedukasi masyarakat terhadap potensi eceng gondok sebagai purifikasi logam berat dan manfaat ekonomi yang dimilikinya.
PEMBAHARUAN TEMPAT PRODUKSI TAHU DAN TEMPE KAMPUNG RAWA DENGAN ARSITEKTUR EMPATI Charles Chou; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24276

Abstract

Kampung Rawa is a well-known place for tofu and tempeh production in Johar Baru, Central Jakarta. Since COVID-19 hit, the production of tofu and tempeh has become sluggish, which has caused sales to decline. There are other issues such as production sanitation and waste disposal that affect the site's water quality. The purpose of this study is to overcome the problems that occur in tofu and tempeh production sites by using Empathy Architecture through a user-centered design method that emphasizes user-focused design processes. With Empathy Architecture, the design will adapt to the habits of workers while addressing existing problems. Through the culinary tourism program and processing of production waste, it is hoped that sales of tofu and tempeh in Kampung Rawa can increase and sanitation problems can be resolved so as to increase the number of consumers who come to Kampung Rawa. It is hoped that the success of the program can improve the economic conditions in Kampung Rawa. Keywords: empathy architecture; user-centered design waste treatment; tofu and tempeh production; culinary tour Abstrak Kampung Rawa merupakan tempat yang terkenal sebagai tempat produksi tahu dan tempe yang berada di Johar Baru, Jakarta Pusat. Semenjak COVID-19 melanda, produksi tahu dan tempe menjadi lesu yang membuat angka penjualan juga menurun. Terdapat permasalahan lainnya seperti sanitasi produksi dan pembuangan limbah yang mempengaruhi kualitas air lokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di tempat produksi tahu dan tempe dengan menggunakan Arsitektur Empati melalui metode user- centered design yang menitikberatkan proses desain yang menfokuskan pengguna. Dengan Arsitektur Empati, desain akan beradaptasi mengikuti kebiasaan pekerja sambil mengatasi permasalahan yang ada. Melalui program wisata kuliner dan pengolahan limbah produksi diharapkan angka penjualan tahu dan tempe Kampung Rawa dapat meningkat dan masalah sanitasi dapat teratasi sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumen yang datang ke Kampung Rawa. Diharapkan dengan keberhasilan program tersebut dapat meningkatkan kondisi ekonomi di Kampung Rawa.
FASILITAS PRODUKSI KERAJINAN ROTAN UNTUK KAUM DISABILITAS Christopher Andrew Susanto; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24277

Abstract

A person's opportunity to work and produce a piece of work in his life is influenced by the abilities and skills of each individual. Every individual has the same opportunity as other individuals. In the world of work, efficiency in doing work is one of the important things so it cannot be denied, where someone who has good performance and performance will replace someone who has a low level of performance and performance. This is a problem that will be faced by everyone, but there are certain things that can affect a person's performance such as differences in a person's physical condition. With deficiencies in physical condition, a person's performance in doing a job will certainly be hampered and this obstacle will cause efficiency problems in a job. This will be felt by someone who has limitations in his physical condition. Some people are reluctant to hire someone with a disability because of a fear of sub-optimal performance at work. Even though a person with a disability in fact still has enormous potential and needs to be used as best as possible. To encourage and optimize the potential of a person with a disability, facilities are needed that can support their basic needs. One way to fix this problem is rattan crafts. So far, rattan handicrafts have opened up new job opportunities for many people, especially people with disabilities who have physical and educational limitations. With this job, people with disabilities can develop themselves and their interests. To support this, adequate facilities are needed and in accordance with the needs of disabilities. These supporting facilities are expected to increase the interest and effectiveness of craftsmen so that they are more optimal in carrying out an activity. Keywords:  disability; efficiency; physical condition; potential; supporting facilities Abstrak Kesempatan seseorang untuk bekerja dan menghasilkan sebuah karya dalam hidup nya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan masing-masing individu. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama dengan individu lainnya. Dalam dunia kerja, efisiensi dalam melakukan pekerjaan adalah salah satu hal penting sehingga tidak bisa di pungkiri, dimana seseorang yang memiliki kinerja dan performa bagus akan menggantikan seseorang yang tingkat performa dan kinerjanya kurang. Hal ini adalah permasalahan yang akan dihadapi oleh semua orang, namun terdapat hal-hal tertentu yang dapat mempengaruhi kinerja dari seseorang seperti perbedaan kondisi fisik seseorang. Dengan adanya kekurangan dalam kondisi fisik, kinerja seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan tentunya akan terhambat dan hambatan ini akan menuliskan permasalahan efisiensi dalam sebuah pekerjaan. Hal ini akan sangat terasa oleh seseoran yang memiliki keterbatasan dalam kondisi fisiknya. Beberapa orang enggan untuk mempekerjakan seseorang disabilitas karena adanya ketakutan akan kinerja yang kurang optimal dalam melakukan pekerjaan. Padahal seseorang disabilitas nyatanya masih memiliki potensial diri yang sangat besar dan perlu dIpergunakan sebaik mungkin. Untuk mendorong dan juga mengoptimalkan potensi diri seorang disabilitas, diperlukan fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan dasar mereka. Salah satu cara untuk memperbaiki permasalahan ini adalah kerajinan rotan. Selama ini kerajinan rotan telah banyak membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang, terutama kaum disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik dan Pendidikan. Dengan adannya pekerjaan ini,kaum disabilitas dapat mengembangkan diri serta minat mereka. Untuk mendukung terjadinya hal tersebut, diperlukan fasilitas yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan disabilitas. Fasilitas penunjang ini diharapkan dapat meningkatkan minat serta efektifitas para pengrajin agar lebih optimal dalam mengerjakan suatu aktivitas.
REHUMANISASI LINGKUNGAN ANAK TERLANTAR: PENGINGKATAN KUALITAS HIDUP ANAK MELALUI ARSITEKTUR EMPATI Moses Sahat Alexsandro; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24278

Abstract

Homeless children are a highly vulnerable group in society and often face difficulties in accessing quality education. The harsh living conditions of these children have sacrificed their childhood and forced them to live on the streets to meet their basic needs. Additionally, the lack of attention from parents who exploit their children for family economic purposes is a significant problem. In this context, this research aims to design solutions through an empathetic architecture approach to address the challenges faced by homeless children, both in the education system and personal development, including their interests and talents. Through the empathetic architecture approach, a comprehensive learning environment will be implemented to help homeless children break free from the harsh environment. This learning environment will provide support in the education system and children's personal development, including identifying and nurturing their interests and talents. The topic of rehumanizing homeless children is translated into the design of an innovative and inspiring learning environment that accommodates the needs of homeless children in Cilincing. Considering factors such as comfort, safety, and creative stimulation for the children. Additionally, the empathetic architecture approach will prioritize inclusivity, child participation, and environmental sustainability. Keywords:  education; environment; neglected; rehumanization Abstrak   Anak-anak terlantar adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan dan seringkali mengalami kesulitan dalam memperoleh akses ke edukasi yang berkualitas. Lingkungan buruk dalam tempat tinggal anak terlantar telah mengorbankan masa kecil serta memaksa anak untuk hidup di jalanan demi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, kurangnya perhatian dari orang tua yang memanfaatkan anak dalam perekonomian keluarga menjadi permasalahan yang signifikan. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk merancang solusi melalui pendekatan arsitektur empati untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh anak terlantar, baik dalam sistem edukasi maupun pengembangan diri, termasuk minat dan bakat yang dimiliki oleh anak-anak tersebut. Melalui pendekatan arsitektur empati, perancangan lingkungan belajar yang menyeluruh akan diimplementasikan untuk membantu anak-anak terlantar keluar dari lingkungan buruk. Lingkungan belajar ini akan memberikan dukungan dalam sistem edukasi dan pengembangan diri anak-anak, termasuk mengidentifikasi dan mendorong minat dan bakat. Topik tentang merehumanisasi anak yang terlantar diterjemahkan menjadi perancangan lingkungan belajar yang inovatif dan inspiratif yang mengakomodasi kebutuhan anak-anak terlantar di Cilincing. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti kenyamanan, keamanan, dan stimulasi kreatif bagi anak-anak. Selain itu, pendekatan arsitektur empati akan memberikan perhatian khusus pada aspek inklusivitas, partisipasi anak, dan keberlanjutan lingkungan.