Eduard Tjahjadi
Prodi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PUSAT INFORMASI EKOSISTEM MANGROVE Steven Susanto; Eduard Tjahjadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4018

Abstract

Pertambahan populasi penduduk Jakarta menyebabkan kebutuhan akan ruang untuk sarana dan prasarana kota semakin meningkat. Cagar Alam Muara Angke pun dirambah sedikit demi sedikit hingga terjadi alih fungsi lahan yang masif.Akibatnya, dalam kurun waktu 30 tahun, sebagian besar kawasan konservasi Muara Angke dengan luas lebih dari 1000 Ha mengalami kerusakan sangat parah dan tidak dapat diselamatkan lagi.Besarnya kerusakan menyebabkan pemerintah menata ulang dan menetapkan kembali batas-batas kawasan Konservasi Cagar Alam Muara Angke. Perancangan ini diharapkan dapat membantu menyadarkan masyarakat metropolis tentang Ekologi dalam metropolis. Berkembangnya kota dapat bersamaan dengan perlindungan ekologi eksisting. Perencanaan pusat konservasi ini diharapkan menarik penjung dan menjadi sarana Architourism dengan menyediakan ruang dan pengalaman ekologi. Pengunjung diharapkan akan merasakan ketertarikan pada pelestarian mangrove. Selain itu sarana ini juga akan menyediakan atraksi yang memberikan nilai serta kualitas tourism. Selain itu juga diperlukan ruang ruang untuk kegiatan komersial.
RUANG INTERAKTIF SUNGAI CILIWUNG DI CONDET Yosua Leon; Eduard Tjahjadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4015

Abstract

Ditengah perkembangan kota di era “experience economy”, sebuah kota menghadapi tekanan dalam membedakan dirinya untuk mendominasi kota di dunia salah satunya adalah Jakarta.  Perkembangan Jakarta yang telah mengubah Jakarta menjadi hutan beton membuat ekologi perkotaan di Jakarta dikesampingkan. Melalui kegiatan ekowisata, dapat memberikan kesadaran dan pengalaman terhadap ruang dan budaya diluar kehidupan sehari-hari untuk mengubah perilaku masyarakat untuk mencintai lingkungan. Salah satu yang menerima dampaknya adalah Sungai Ciliwung. Sungai Ciliwung dulunya menjadi sumber kehidupan di kota Jakarta dan memiliki sejarah yang panjang kini telah kehilangan identitasnya tersebut. Condet menjadi salah satu daerah di Jakarta yang berbatasan langsung dengan Sungai Ciliwung, tepatnya di kelurahan Balekambang. Balekambang memiliki prospek yang besar dengan tepian sungai Ciliwung yang masih terbilang alami, sehingga pemerintah memiliki rencana optimis kawasan ini akan menjadi kawasan ekowisata di Jakarta. Interaktif sebagai bentuk hasil dari interaksi atau hubungan timbal balik. Interaktif diterapkan sebagai sarana bagi masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kelestarian sungai Ciliwung, dengan menggunakan metode stage of change dari James Procashka. Program yang dibangun adalah program yang dapat mengembangkan aktivitas di tepian sungai Ciliwung.  Melalui proyek ini, pengunjung diajak untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai Sungai Ciliwung dengan adanya ruang exhibtion yang menceritakan sungai Ciliwung secara interaktif. Selain itu, untuk perkembangan kelanjutan dibuat program cafetaria dan cafe yang memanfaatkan view langsung ke sungai Ciliwung dan juga terdapat program workshop yang memanfaatkan sampah yang diterima dari masyarakat maupun sungai Ciliwung untuk menjaga kebersihan sungai Ciliwung.
Galeri Obat Tradisional dan SPA Anastasia Wijayaputri; Eduard Tjahjadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3985

Abstract

Dalam buku Architectural Tourism - Building for Urban Travel Destinations oleh Jan Specht, dikatakan bahwa arsitektur memiliki di peran berbeda dalam pariwisata di perkotaan, yaitu sebagai arsitektur wisata (tourism architecture) dan wisata arsitektur (architectural Tourism). Wisata arsitektur mengacu pada arsitektur sebagai daya tarik wisata. Menurut World Health Organization (WHO), masyarakat dunia saat ini memiliki kecenderungan untuk kembali ke alam (back to nature) dalam hal menjaga, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya,  dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional yang salah satunya adalah pijat. Pijat sendiri sudah dikenal di Indonesia sejak berabad-abad lalu. Pijat merupakan pengobatan tradisional Indonesia yang dilakukan turun temurun berdasarkan warisan leluhur, tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Selain dengan pijat tradisional, peningkatan kecantikan dan kesehatan juga dapat dilakukan melalui konsumsi obat tradisional, yang dikenal di Indonesia sebagai jamu. Dari hasil survei yang dilakukan oleh kementerian perdagangan, dapat dilihat bahwa masyarakat dan pemerintah sependapat bahwa jamu merupakan produk budaya bangsa Indonesia yang patut dilestarikan. Proyek ini sejalan dengan program Kementerian Perdagangan “Jamu Indonesia Maju 2020” untuk meningkatkan pasar jamu di Indonesia dan mewujudkan jamu brand Indonesia serta peningkatan bisnis SPA di Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat menjadi wisata arsitektur di Jakarta yang dapat menarik turis maupun warga Jakarta, sebagai tempat rekreasi dan relaksasi yang dapat mengedukasi dan meningkatkan kecintaan mereka terhadap Obat Tradisional Indonesia.