Lina Purnama
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERTANIAN VERTIKAL DI ARJUNA UTARA Christopher Darius; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4570

Abstract

Millennial are an innovative generation both in terms of technology and in solving problems. This generation has its views both on the way the world works and its impact on the environment. In terms of food availability and quality, Millennial are very concerned about their food. This generation of "foodies" prefers organic foods whose sources are guaranteed, given a large amount of environmental pollution and excessive use of pesticides. Millennials in Jakarta are competing to find innovatives solution to fix this problem, agriculture in the city began to emerge in the form of hydroponics. This is also done to improve the problem of Jakarta food distribution system that has been outdated, where all food is produced from the suburban areas and distributed to markets in Jakarta. The vertical farming system is a system that can be said to be new in Jakarta. This system can supply all parts of Jakarta in the form of a "decentralized" system in which each area has its own vertical farming which will supply food. Arjuna Utara is a road in the Duri Kepa area which is a border area between West and South Jakarta where this area does not have any formal market. The informal market that stands in the patra area is a less organized area. This site has an existing conventional farm where the land is cultivated as a vegetable garden. In this project the building has 8 floors, 4 of which are using aeroponic systems. The rest are in the form of public spaces and eating places that can become a new center of crowd on North Arjuna Road. AbstrakMilenial merupakan generasi yang inovatif baik dari segi teknologi maupun dalam memecahkan masalah. Generasi ini memiliki pandangannya sendiri baik terhadap cara dunia bekerja dan dampaknya terhadap lingkungan. Dalam hal ketersediaan dan kualitas pangan, milenial sangat memperhatikan makanan mereka. Generasi “foodies” ini lebih memilih makanan organik dan makanan yang sumbernya terjamin, mengingat banyaknya pencemaran lingkungan dan penggunaan pestisida secara berlebihan. Para milenial di Jakarta berlomba-lomba mencari inovasi untuk memperbaiki masalah ini, pertanian di dalam kota mulai bermunculan dalam rupa hidroponik. Hal ini sekaligus dilakukan untuk memperbaiki masalah sistem distribusi pangan Jakarta yang sudah tertinggal, di mana semua pangan dihasilkan dari daerah terluar Jakarta dan didistribusikan ke pasar-pasar di Jakarta. Sistem pertanian vertikal adalah sebuah sistem yang dapat dikatakan baru di Jakarta. Sistem ini dapat menyuplai seluruh bagian Jakarta dalam bentuk sistem desentralisasi yang masing-masing wilayah memiliki pertanian vertikalnya yang akan menyuplai makanan sendiri. Arjuna utara merupakan sebuah jalan di wilayah Duri Kepa yang merupakan area perbatasan antara Jakarta Barat dan Selatan di mana area ini belum memiliki pasar formalnya sendiri. Pasar informal yang berdiri berada di area patra di mana merupakan area yang kurang tertata. Tapak ini memiliki existing pertanian konvensional di mana tanah digarap sebagai kebun sayuran. Dalam proyek ini bangunan memiliki 8 lantai yang 4 diantaranya merupakan area pertanian bersistem Aeroponik dan sisanya berupa ruang publik dan tempat makan yang dapat menjadi pusat keramaian baru di jalan Arjuna Utara.
STUDIO MEDIA VISUAL DAN SINEMA RUANG LUAR MELAWAI Maudy Maharani; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6851

Abstract

The media is one among many other factors, that is responsible for the dissemination of information amidst modern society. The Melawai Visual Media Community Studio and Open- Cinema project is created as a response towards the multicultural phenomenon caused by high plurarity rate of residents coming from different regions, locally or internationally. It aims to restore local values that starts to becoming insignificant among rapid globalization that is happening in the area. In addition, it also plays a role in strengthening relations between community-based social circles through efforts to foster a sense of pride towards local creative products. Synergized with M- Bloc Space which is a collaboration between PERURI and local creative industries intended to provide a space for creative-based community as a meeting point that is intergrated with Sisingamangaraja MRT Stop and Blok-M MRT Stop, Visual Media Community Studio and Open-Cinema project helps to upgrade the quality of the residents socially, economically and culturally through Creation and Appreciation program. The concept of Creation and Apreciation is the sole base of reference to determine the placement of programs on site, as the Open- Cinema (apreciation) placed in the center, supported by Pre-productions, Productions, and Post- Productions programs (creation) which revolves around it. The Street-sport zone program is also presented as a neutral space that is expected to attract new visitors outside visual media community, also to contribute in supporting the creativity programs through stimulation of mind through physical movement. The method used for this project’s design is examining several important contextual parameters around the area (cultural, nature, urban, and buildings’ form) as to produce a form that is explorative but still possess the soul of Colonial Architecture used in the remain buldings of PERURI and M-Bloc Space through the use of vertical elements and the minimalism of material chosen for the building. AbstrakMedia merupakan salah satu unsur yang bertanggung jawab atas penyebaran informasi ditengah masyarakat modern. Proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar Melawai merupakan respon atas fenomena multikultur yang disebabkan oleh pluraritas masyarakat yang tinggi di kawasan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kembali nilai-nilai lokal yang kabur ditengah derasnya arus pengaruh dari budaya asing. Selain itu, proyek juga berperan sebagai pemererat hubungan antar masyarakat Melawai dalam asas komunitas melalui usaha dalam menumbuhkan rasa kebanggaan tidak hanya terhadap karya asing namun juga karya anak bangsa, melalui konsep dan program yang ditawarkan. Dengan sinergi terhadap proyek M-Bloc space yang merupakan kerja sama antara PERURI dengan badan swasta guna menciptakan ruang kreatif sebagai meeting point yang terintegrasi dengan Halte MRT Sisingamangaraja dan Halte MRT Blok-M, proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar ikut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas masyrakat secara sosial, ekonomi maupun budaya melalui kegiatan kreasi dan apresiasi karya. Konsep kreasi dan apreasiasi juga dijadikan sebagai dasar atas program dan penempatan ruang, dimana Sinema Ruang Luar berperan sebagai pusat (apresiasi) dan studio pre-produksi, produksi, dan pos- produksi yang mengegelilinginya. Program street- sport zone juga dihadirkan sebagai ruang netral yang diharapkan dapat menarik pengunjung baru diluar komunitas dengan minat yang sama, juga memicu kreatifitas komunitas melalui stimulasi pikiran melalui gerak fisik. Metode yang digunakan merupakan pendekatan kontekstual yang mengkaji empat parameter kontekstual (budaya, alam, urban, dan fisik bangunan) yang menghasilkan bentuk yang eksploratif namun tetap menyisikpkan unsur- unsur kolonial yang merupakan wujud bangunan dari kompleks Eks- PERURI dan M-Bloc Space.
WADAH AKTIVITAS DAN KOMUNITAS PESISIR DI MUARA BARU Febi Claudia Lie; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6865

Abstract

Jakarta was developed started from the coastline and gradually moved to the centre of the city which left the coastal area remain untouch. The development of Jakarta which only oriented on capitalism cause in a lack of public space for the community, which make public coping with the issues independently. The roads in the housing area and villages was used by local residents as a space to socialize with neighbors or a place to do activities. There are still lots of kampung remained in Muara Baru which located in North Jakarta, but not facilitated by public space and open space to accommodate the citizen’s need to socialize and do their activity, so they carried out those activities in the middle of the road or alley which can disturb the traffic and endangered other people’s lives.  This phenomenon indicates that the community's need for public space is very high and needs to be anticipated immediately in order to avoid environmental and social degradation. The purpose of this project is to become a linkage that connect people with the surrounding environment, as well as humans with other humans, while this project also help the economy and home industry businesses, which bring in money to help the economy of local citizens, and cause positive interactions, such as knowledge exchange and development in economic aspects. AbstrakPembangunan kota Jakarta awalnya dimulai dari area pinggir laut yang kemudian semakin berkembang ke pusat kota, seiring berlangsungnya pembangunan di pusat kota, daerah pinggir/pesisir mulai ditinggalkan dan tidak tersentuh. Pengembangan kota Jakarta yang hanya berorientasi pada kepentingan kapitalis juga mengakibatkan kurangnya ruang publik bagi masyarakat, sehingga  mengakibatkan masyarakat mengatasinya secara mandiri. Jalan-jalan di dalam perumahan hingga perkampungan yang difungsikan oleh warga setempat sebagai ruang untuk bersosialisasi dengan tetangga atau tempat melakukan aktivitas. Kawasan Muara Baru yang terletak di wilayah pesisir Jakarta bagian Utara, masih terdapat banyak area perkampungan, tetapi tidak difasilitasi oleh ruang publik atau ruang terbuka sehingga untuk melakukan kegiatan berinteraksi dan beraktivitas, dilakukan di jalan/lorong kecil didepan rumah, yang dapat mengganggu lalu lintas dan juga membahayakan keselamatan warga dan juga pengguna jalan. Fenomena ini menandakan bahwa kebutuhan masyarakat akan ruang publik sangat tinggi dan perlu segera diantisipasi agar tidak terjadi degradasi lingkungan dan sosial, sehingga tujuan dari proyek ini adalah sebagai linkage yang menggabungkan manusia dengan lingkungan di sekitarnya, serta manusia dengan manusia lainnya, selain itu juga untuk membantu perekonomian dan usaha industri rumahan, yang dapat dilakukan serta menghasilkan uang untuk membantu perekonomian warga, serta menimbulkan interaksi positif, seperti pertukaran ilmu dan pembangunan aspek ekonomi, yang ke depannya akan menghasilkan kemajuan pada kota Jakarta dengan aspek sosial dan ekonomi yang seimbang.
TEKNOLOGI 3D MAPPING DAN KONSEP KONTEKSTUAL PERANCANGAN MUSEUM EDUKASI SEKS DI MANGGA BESAR Calvin Chandra; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4566

Abstract

Millennials is a generation that’s gifted with techonology, they were born surrounded by technology. But as the time goes bye, using all the technologies such as mobile devices and internet would bring a negative effects. With all the easiness to access all information, many people (millennials) find it difficult to differentiate the negative and the positive ones, since the internet would provide all kind of information including the negatives such as pornography. A group of people who spent more time on the internet (more than four hours per-day) would have a higher tendency to premarital sexual behavior (Indrijati, 2017).  As a result now, bunch of millennials are exposed to a sexually transmitted disease (STDs). Due to lack of sex education, preventing and controlling the disease has become a difficult task. Sex education still categorized as a ‘taboo’ thing to be discussed on public, even more to be educated.  This becomes the main reason for many millennials to seek out the information by themselves through the internet, and eventually got exposed by the negative contents such as pornography. By analyzing various elements of sex education as the basis and providing a decent information that’s suitable for the community especially millennials, while also noticing modern entertainment’s development as a catalyst to introduce the program. The idea is to emerge an incorporate elements of sex education and modern entertainment technology into a museum. 3d mapping technology used to provide a whole new experience on public education. The chosen site is on Mangga Besar area which known as the “Eden Garden” at night, because of the culinary center and the nightlife in West Jakarta. This project would also interacts with its surroundings, as an open space for the communities around. This project consisted of some programs which is, supported by 3d mapping room, café, gallery, and seminar room. This project aim to amend people’s perception of sex as a taboo thing to become something that must be educated to all the community. AbstrakGenerasi milenial adalah generasi yang mahir menggunakan teknologi, mereka lahir ketika teknologi sudah ada di sekeliling mereka. Namun seiring perkembangan zaman terutama di bidang teknologi seperti penggunaan internet, gawai, dan perangkat komputer tentu juga membawa berbagai dampak negatif. Dengan mudahnya mengakses informasi, banyak dari generasi milenial sulit menyaring berbagai informasi yang ada saat ini, terutama konten-konten negatif seperti pornografi. Kelompok dengan frekuensi menggunakan internet yang tinggi (lebih dari empat jam) memiliki kecenderungan tinggi pula pada perilaku seksual pranikah (Indrijati,2017). Akibatnya saat ini, banyak dari generasi milenial terpapar oleh Penyakit Menular Seksual (PMS). Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan dari Penyakit Menular Seksual ini adalah karena kurangnya edukasi seks di Indonesia. Edukasi seks masih menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan dan disosialisasikan ke masyarakat umum. Hal inilah yang menyebabkan generasi milenial dengan sendirinya mencari informasi mengenai seks dan terpapar konten negatif seperti pornografi. Dengan menganalisis berbagai unsur edukasi seks sebagai dasar untuk mengedukasi dan memberikan informasi yang benar mengenai seks itu sendiri ke masyarakat luas, serta melihat perkembangan teknologi hiburan modern sebagai katalis pengenalan program, muncul ide untuk menggabungkan unsur edukasi seks dan teknologi hiburan modern tersebut dalam proyek museum. Teknologi 3D Mapping dimanfaatkan untuk memberi pengalaman baru dalam mengedukasi masyarakat. Tapak yang dipilih berada di daerah Mangga Besar sebagai kawasan yang terkenal sebagai “taman eden” pada malam hari karena terkenal sebagai pusat kuliner dan hiburan malam di Jakarta Barat. Proyek ini juga berinteraksi dengan sekitarnya sebagai tempat yang nyaman dengan ruang terbuka untuk masyarakat sekitar. Program didukung dengan ruang 3D Mapping, cafe, galeri, dan ruang seminar. Proyek ini diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat bahwa seks suatu topik yang tabu dan dapat mengedukasi masyarakat secara luas.
WADAH AKTIVITAS PENUNJANG KESEJAHTERAAN FISIK DI UJUNG MENTENG Ivana Melia Setiawan; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6869

Abstract

One of the issues of urgency now is the lack of awareness of a healthy lifestyle, unhealthy lifestyles can have an impact on long-term health that is the risk of non-communicable diseases namely Diabetes, Hypertension, Heart, etc. The third place as a pause or lounge space between the first place (residence) and second place (work place) is currently connected with places like cafes, malls, places to eat, etc. that do not support a healthy lifestyle. What is needed now is Third Place in addition to social space but also educates about healthy lifestyles and physical well-being. Physical Well-being is a Good Physical Condition Not Only Because It Does Not Ignore Disease by Eating Nutritious Foods, Conducting Physical Activity and Overcoming the Mind, and Balanced Soul (American Association Nurse Anesthetist). The design of this project is based on the issues obtained by site selection indicators related to environmental quality theories that affect individual health (air quality, temperature, greening, etc.). Cakung Subdistrict, East Jakarta, Ujung Menteng Village is a location that does not meet environmental health quality indicators. Menteng tip area is a place that is approved by the industry and close to a place to live but close to 3 points of supporting buildings such as sports. Activities in the project related to the program are based on Physical Welfare theory, 5 Ways of Welfare, and Third Place from Ray Oldenburg. Theory of Language Design and Edward T. White book source concept, which is based on the analysis of observations in the surrounding community environment and other data (macro. Mezo, micro, government regulations, etc.). The results obtained from the potential needed by third parties who support health and physical well-being. Abstrak Salah satu isu urgensi saat ini adalah belum adanya kesadaran akan gaya hidup yang sehat, gaya hidup tidak sehat dapat berdampak pada kesehatan  jangka panjang yaitu resiko pada penyakit tidak menular yaitu Diabetes, Hipertensi, Jantung, dll. Third place sebagai ruang jeda atau ruang santai antara first place (tempat tinggal) dan second place (tempat kerja) saat ini identik dengan tempat berkumpul seperti café, mall, tempat makan, dll yang cenderung kurang mendukung gaya hidup sehat. Sehingga dibutuhkan saat ini adalah Third Place selain sebagai ruang sosial namun juga mengedukasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat dan kesejahteraan fisik (physical well-being). Physical Wellbeing adalah Keadaan fisik yang baik bukan hanya karena tidak adanya penyakit tetapi menghindari penyakit dengan makan-makanan bernutrisi, melakukan aktivitas fisik dan memelihara pikiran, dan jiwa yang seimbang (American Association Nurse Anesthetist).  Perancangan proyek ini berdasarkan dari isu didapatkan indikator pemilihan tapak terkait dengan teori kualitas lingkungan hidup sekitar yang memengaruhi kesehatan individu (kualitas udara, suhu, penghijauan, dll). Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Kelurahan Ujung Menteng menjadi lokasi yang kurang memenuhi indikator kesehatan kualitas lingkungan hidup. Kawasan ujung menteng merupakan dikelilingi oleh industri dan dekat dengan tempat tinggal namun dekat dengan 3 titik  bangunan pendukung seperti olahraga. Aktivitas di dalam proyek terkait dengan program berdasarkan teori Physical Well-being, 5 Ways Of Well-being, dan Third Place dari Ray Oldenburg. Pendekatan pada desain bangunan mengambil pada teori Pattern Language dan Edward T.White buku sumber konsep, yang didasari dari analisa observasi kebiasaan di lingkungan masyarakat sekitar dan data lainnya (makro, mezo, mikro, peraturan pemerintah,dll). Hasil didapatkan adanya potensi dibutuhkan thirdplace yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan fisik (Physical Wellbeing).
PENANGGULANGAN ISU WIRAUSAHA DI INDONESIA DENGAN PEMBANGUNAN KOMUNITAS KRIYA JATINEGARA Ruthy Elvana David; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4426

Abstract

Millennial Generation is the generation births from 1981-1994. This generation is known as a generation that is open-minded, like to challenge themselves, brave enough to take risks, determinded, and interested to try new things. There is a fact that says almost 70,9% of millennials are interested to start their own bussinesses. It is the reason of the term “millennial entrepreneur”. That means an entrepreneur that is born in millennial generation. They have the ability to create creative and innovative bussiness plan that is different from others. Altough the number of entrepreneurs in Indonesia increasing every year, this has not been recognized by the worid because the amount is only 1,65% of population compared to other countries (Singapore, Malaysia, South Korea, China, USA, Thailand). Therefore, the author aims to increase the number of entrepreneurs by providing a place that can accommodate all of their activities. Not only providing learning activities, but also their physical activities, such as:  eat, take a bath, exercise, and take a rest. This project, known as Jatinegara Craft Community, is located in Jatinegara, East Jakarta. The method of this study is cross-programming method. Vision of this project is to become a mixed-use building that can fulfill the needs of millennial entrepreneurs so that they can solve the issue of entrepreneurship in Indonesia and also the issue of sustainability. Meanwhile, the mission of this project is to create a place for the current millennial generation, especially for the young entrepreneurs in their study (formal and non-formal), work, social life and rest.  AbstrakGenerasi Milenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-1994. Generasi ini dikenal sebagai generasi yang open-minded, menyukai tantangan, berani mengambil resiko, memiliki pendirian yang kuat, dan tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Ada fakta yang menyatakan bahwa sekitar 70,9% Generasi Milenial tertarik untuk membuka usaha sendiri, sehingga banyak muncul istilah millennial entrepreneur, dimana mereka adalah wirausaha yang lahir di Generasi Milenial. Mereka mampu untuk menciptakan ide bisnis yang kreatif dan inovatif, yang berbeda dari yang lain. Walaupun tingkat wirausaha di Indonesia makin meningkat tiap tahunnya, tetapi sepertinya millennial entrepreneur di Indonesia belum dianggap oleh dunia karena jumlahnya hanyalah 1,65% jika dibandingkan dengan negara lain (Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Cina, Amerika Serikat, Thailand). Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk meningkatkan jumlah wirausaha dengan memberikan wadah yang dapat menampung segala kegiatan mereka. Bukan hanya memberikan kegiatan pembelajaran, tetapi sampai ke kegiatan pokok mereka, antara lain; makan, mandi, olahraga, dan istirahat. Proyek ini, Komunitas Kriya Jatinegara, berlokasi di Jatinegara, Jakarta Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode cross-programming. Visi dari proyek ini adalah untuk menjadi bangunan multi-fungsi yang dapat memenuhi kebutuhan millennial entrepreneur. Selain itu, diharapkan proyek ini juga dapat menjawab isu kurangnya wirausaha di Indonesia dan isu sustainability. Sementara itu misi dari proyek ini adalah untuk menciptakan ruang yang dibutuhkan oleh Generasi Milenial sekarang ini, khususnya untuk wirausaha muda dalam mereka belajar (formal dan non-formal), bekerja, bersosialisasi, dan beristirahat.
TEMPAT BUDAYA PINANGSIA Kevin Wiranata; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6742

Abstract

An age where technology develop rapidly, the lifestyle of people began to shift to that of instantaneous gratification. Even though technology provides convenience and accessibility, at the same time it changes the mindset and behavior of the people into that of anti-social. The lack of interaction added up with high working demand in this 21st century may increase an individual’s stress levels. The existence of physical spaces to support social activity is undeniably minimal. Gadgets may create virtual spaces for people to communicate but they fail to make rapport between one individual and the other. Since the past decades, culture had been one of the activities which brought people and communities together. Culture defines activities which are done in routine thus becomes habits and eventually becomes the community’s character. The occurring social activities gave birth to spaces either physical or non-physical which may support the social needs of the people. Up to this day, people tend to have third activities which they done to get rid of working exhaustion. Pinangsia Cultural Place is a place for people to socially interact with each other with the means of cultured daily activities. The method of design applied is pattern language. The main programs of Pinangsia Cultural Place include food court, karaoke, workshop, and common space for people to hangout, procuring event, physical exercises, etc. Not only does this tends to the needs of local community, Pinangsia Cultural Place is convivially open for outsiders who seek joy and rest.  AbstrakMasa dimana kemajuan teknologi berkembang dengan pesat, gaya hidup masyarakat berubah ke arah serba instan. Walau teknologi memberikan kemudahan, namun di saat yang bersamaan mengubah pola pikir dan sikap masyarakat menjadi cenderung anti-sosial. Kurangnya interaksi ditambah dengan tuntutan kerja yang semakin tinggi di abad 21 dapat meningkatkan stress pada individu. Keberadaan wadah fisik untuk menunjang aktivitas sosial pun juga kurang. Gadget menciptakan sebuah ruang virtual untuk berkomunikasi namun tidak dapat mendekatkan pribadi secara langsung. Sejak zaman dahulu, budaya menjadi salah satu kegiatan yang membawa masyarakat atau komunitas dalam kebersamaan. Budaya adalah aktivitas yang dilakukan terus menerus secara rutin hingga menjadi sebuah kebiasaan kemudian menjadi karakter dari lingkungan tersebut. Aktivitas yang terjadi melahirkan ruang baik secara fisik maupun non-fisik yang dapat menunjang kebutuhan sosial masyarakat di dalamnya. Hingga saat ini, masyarakat di tengah pekerjaan masing-masing memiliki aktivitas selingan yang mereka lakukan untuk mencari hiburan di tengah kepenatan. Tempat Budaya Pinangsia adalah wadah untuk masyarakat saling berinteraksi sosial dengan berdasarkan pada aktivitas sehari-hari yang melibatkan seni dan budaya. Metode perancangan yang digunakan adalah bahasa pola. Program utama Tempat Budaya Pinangsia meliputi tempat makan dan bermain, tempat karaoke, workshop, dan common space untuk hangout, pengadaan acara, latihan fisik, dll. Tidak hanya terbatas untuk warga lokal, Tempat Budaya Pinangsia juga terbuka untuk pengunjung dari luar kawasan yang mencari kesenangan dan istirahat.
FASILITAS KEBUGARAN AKUATIK DI SUNTER Arifia Arifia; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4451

Abstract

One of the contemporaneity issues of millenials is the lifestyle or millenial’s unhealthy lifestyle because they are unable to control their lifestyle. These lifestyles are influenced by advances in technology that increase the influence of globalization such as fast food and ease of fulfillment of needs such as application-based inter-service namely online motorcycle taxi and other features. These factors directly or indirectly cause millennial’s behavior patterns to be unhealthy, passive (in-active), decreased mental conditions, and much more. These behaviors have many negative effects on the physical and spiritual health conditions of millennials.Wellness aimed at the impact of 'well-being' or individual well-being. According to the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), 'Well-being' can improve individuals or groups physical and spiritual health due to the results from who know how to live well. Therefore, 'Wellness' can provide a change towards a healthier lifestyle by presenting a pleasant and interesting impression of the mainly millennial community, the Aquatic Wellness Facility. The element of water from aquatic aspect  provides relaxation, calmness, recreational atmosphere and so on that can provide a healing environment. Aquatic Wellness facilities are given the impression of recreation so that the community and millennials do physical activities with a feeling of pleasure. To get the concept of the program, the author uses the wellness criteria of Tchiki Davis, PH.D. and questionnaires that produce aquatic programs both in terms of physical and spiritual as well as social activities and lifestyle improvements through monitoring habits. The concept of mass composition is formed from 4 character elements of healing environment, namely water, stone, cave, and mountain. AbstrakSalah satu isu kesejamanan kaum milenial yakni gaya hidup atau lifestyle kaum milenial yang tidak sehat karena tidak mampu mengendalikan gaya hidup mereka. Gaya hidup tersebut dipengaruhi oleh kemajuannya teknologi, pengaruh globalisasi seperti  makanan cepat saji dan kemudahan pemenuhan kebutuhan seperti pelayanan antar berbasis aplikasi yakni ojek online dan features lainnya. Faktor-faktor tersebut secara langsung atau tidak langsung menyebabkan pola perilaku kaum Milenial menjadi tidak sehat, pasif (in-active), kondisi mental yang menurun, dan masih banyak lagi. Dengan begitu, perilaku tersebut memberikan banyak dampak negatif terhadap kondisi kesehatan jasmani dan rohani kaum milenial.  Wellness  berfokus pada dampak dari ‘well-being’ atau kesejahteraan individu. Menurut CDC (Centers for Disease Control dan Prevention), ‘Well-being’ dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani individu atau kelompok akibat hasil dari menjalani kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, ‘Wellness’ dapat memberikan pergeseran terhadap gaya hidup menjadi lebih sehat dengan menghadirkan kesan menyenangkan dan menarik masyarakat terutama milenial yakni Fasilitas Kebugaran Akuatik. Unsur air dari segi akuatik memberikan relaksasi, ketenangan, suasana rekreasi yang dapat memberikan lingkungan menyenangkan untuk penyembuhan. Fasilitas kebugaran akuatik diberikan kesan rekreasi sehingga masyarakat maupun kaum milenial melakukan kegiatan kebugaran dengan perasaan senang. Untuk mendapatkan konsep program tersebut, penulis menggunakan kriteria wellness dari Tchiki Davis,PH.D. dan kuesioner yang menghasilkan program akuatik baik dari segi jasmani dan rohani serta kegiatan sosial dan perbaikan gaya hidup melalui monitoring habits. Konsep gubahan massa terbentuk dari 4 karakter unsur healing environment yakni air, batu, goa, dan gunung.