Tatang Hendra Pangestu
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

RUANG APRESIATIF, REKREATIF DAN KREATIF Eileen Rosabel Renaningtyas; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6881

Abstract

Third place as community gathering place, which can accept various people, do not close the possibility to separate community activities in having fun while working. The village of Cilandak Barat which became the chosen region is very related to the creative economy. According data BPS West Cilandak Village, the informal business sector is the dominant economic activity of citizens. The type of business done varies from the business of grocery stalls, business Wartel, Cyber Cafe business, Matrial Business, salon business, to the business of ornamental plants. The creative economy will be chosen as the main theme raised from the region's background. This theme aims to improve people's welfare, especially in selected regions. This project functions as a place to facilitate the people of Cilandak as an educational place, a place to innovate and create and a place to rest for the visitors who come in expressing themselves. In reviewing the literature there are several determining factors that maximize pedestrian on the ground floor, there is a bridge as a liaison between mass and mass form in response to the surrounding environment which is the biggest factor in affect the mass form. Therefore, the method in the formation of a mass using the site analysis system. Site analysis consists of, view analysis, Skyline, in & out tread, zonning, pedestrian and vehicle directional response. The result of the analysis will result in a mass form, and the result of the analysis of the site will be visible on the floor, look and cut. AbstrakTempat ketiga sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, dimana dapat menerima berbagai kalangan masyarakat, tidak menutup kemungkinan untuk memisahkan kegiatan masyarakat dalam bersenang-senang sambil bekerja. Kelurahan Cilandak Barat yang menjadi kawasan terpilih sangat berkaitan dengan ekonomi kreatif. Menurut data BPS Kelurahan Cilandak Barat, sektor usaha informal merupakan kegiatan ekonomi yang dominan dilakukan warga. Jenis usaha yang dilakukan bervariasi mulai dari usaha warung kelontong, usaha wartel, usaha warnet, usaha matrial, usaha salon, hingga usaha tanaman hias. Ekonomi kreatif akan dipilih sebagai tema utama yang diangkat dari latar belakang kawasan. Tema ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khusunya pada kawasan terpilih. Fungsi proyek ini sebagai tempat untuk memfasilitasi masyarakat Cilandak sebagai tempat edukasi, tempat berinovasi maupun berkreasi dan tempat beristirahat bagi para pengunjung yang datang dalam mengekspresikan diri. Dalam mengkaji literatur terdapat beberapa faktor yang menentukan yaitu memaksimalkan pedestrian pada lantai dasar, terdapat jembatan sebagai penghubung antar massa dan bentuk massa dalam menanggapi lingkungan sekitar yang menjadi faktor terbesar dalam mempengaruhi bentuk massa. Maka dari itu, metode dalam pembentukan sebuah massa dengan menggunakan sistem analisa tapak. Analisa tapak terdiri dari, analisa view, skyline, in & out tapak, zonning, respon arah pejalan kaki dan kendaraan. Hasil dari analisa yang didapat akan menghasilkan bentuk massa, dan hasil analisa tapak akan terlihat pada denah, tampak dan potongan.
GELANGGANG DIA.LO.GUE, DI KELURAHAN MERUYA UTARA Kevin Hartanto; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8599

Abstract

The issue on the North Meruya Urban Area is the visible splitting of 2 urban housing areas of Taman Aries and Taman Meruya. The visible splitting was due to an old problem that has changed the perception of both people living in those areas. Because it is an old problem that most people had forgotten, the resentment still follows on to the next generation, creating a never ending splitting issue due to hate. I have a dream that one day, this project maybe able to help reunite those two urban housing areas and live together as a big North Meruya Family. Taking concept from Roman and Greek Forums, a Forum is a Large open area surronded by a couple of buildings, and could be use as an area for small to big meetings, open theaters, music performance, generally a place where people can gather and interact socially, and exchange thoughts. The main focus of this project is to make a “Forum” for the people of North Meruya to voice their opinion, communicate, and solve problems together instead of saving resentment, a place where the people of North Meruya can showcase art, a place for a majority of North Meruya people (consisting of 40% students and increasing) to work together. And become a comfortable thirdplace for the people of North Meruya. Keywords:  communication, forum, reunite, splitting  AbstrakPada kelurahan meruya ada sebuah masalah yakni perpecahan antara warga Taman Aries dan Taman Meruya yang susah diselsaikan karena kurangnya kesadaran akan warga masyarakat sehingga kejadian konflik yang di teruskan dan di sebarluaskan hanya kebencian, kurangnya interaksi sosial secara fisik dan lainya, saya bermimpi dan memiliki sebuah kerinduan untuk merangkul dan membantu mempersatukan kembali kedua belah pihak warga. Mengambil konsep dari Forum Romawi dan Yunani, pada jamannya kerajaan Romawi dan Yunani memiliki sebuah area terbuka dan diapit beberapa bangunan, yang di gunakan untuk rapat antar kepala keluarga, rapat antar kepala desa, bahkan rapat untuk perang. Tetapi saat tidak digunakan untuk perang tempat itu merupakan tempat berkumpul para warga untuk berinteraksi sosial, bertukar pikiran, menampilkan karya seni, hingga menyediakan beragam makanan. Yang akan menjadi tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menciptakan “forum” untuk warga agar dapat menyuarakan pendapat, bermusyawarah bertukar pikiran dan pendapat. Tujuan lainnya adalah untuk menampung kegiatan warga yang sekarang tidak pada tempatnya. Menyediakan tempat bekerja untuk mayoritas penduduk untuk mengerjakan tugas (40% siswa dan mahasiswa, dan terus bertambah tiap tahunnya). Dan dibuatkan third place yang nyaman bagi warga masyarakat Meruya Utara.
WADAH KOMUNITAS AGRIKULTUR DI KEBAYORAN LAMA Maria Magdalena Venny Florentina; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6842

Abstract

Food is the most basic human need. Based on data from the United Nations, the population on earth in 2050 is estimated to reach 9.1 billion people, so the world must produce 70% more food than today to provide food for all human on earth. If this food availability cannot be fulfilled, a food crisis will occur. With the concept of the program 'Urban Farming' that will help the problem of food and can also become a community  for social interaction activities of its citizens. The Agricultural Community Space Project in Kebayoran Lama is a facility that combines community, educational and commercial functions of public space. This project utilizes the context of the region which is famous for its green areas and is analyzed through the 'Urban Analysis' method which is used to study the condition of the area around the site so that there are important points that form an architectural form. The program in this building focuses on how residents around the area can produce their own food starting from the small steps of growing daily foods such as vegetables and fruits. This project helps local residents to increase food supply for the region and also educates citizens to live healthy and productive lives. By utilizing green concepts in buildings such as green facades, green roofs, rain gardens, zero run-offs, etc. this project will achieve the concept of sustainable buildings so that it helps cities to become healthier cities. Abstrak Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Berdasarkan data dari PBB, populasi di bumi pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9,1 milyar jiwa, sehingga dunia harus memproduksi 70% makanan lebih banyak dibandingkan dengan hari ini untuk menyediakan makanan bagi seluruh jiwa yang ada di bumi. Apabila kesediaan pangan ini tidak dapat terpenuhi, maka akan terjadi krisis pangan. Dengan adanya konsep program ‘Urban Farming’ atau pertanian kota inilah yang akan membantu permasalahan pangan dan juga dapat menjadi suatu wadah sosial untuk kegiatan interaksi sosial warganya. Proyek Wadah Komunitas Agrikultur yang berada di Kebayoran Lama ini merupakan fasilitas yang menggabungkan fungsi ruang publik berbasis komunitas, edukasi dan juga komersil. Proyek ini memanfaatkan konteks kawasan yang terkenal dengan kawasan hijaunya dan di analisa melalui metode ‘Urban Analysis’ yang digunakan untuk mempelajari keadaan kawasan di sekitar tapak sehingga terdapat point-point penting yang membentuk suatu wujud arsitektur. Program pada bangunan ini mengutamakan tentang bagaimana warga di sekitar kawasan dapat memproduksi makanannya sendiri mulai dari langkah kecil yaitu menanam makanan sehari-hari seperti sayuran dan juga buah-buahan. Proyek ini membantu warga sekitar agar menambah pasokan pangan bagi kawasan dan juga mengedukasi warganya untuk hidup sehat sekaligus produktif. Dengan memanfaatkan konsep hijau pada bangunan seperti green facade, green roof, rain garden, zero run-off, dll proyek ini akan mencapai konsep bangunan berkelanjutan sehingga membantu kota agar menjadi kota yang lebih sehat.
PENERAPAN METODE TRANSPROGAMMING DALAM PENCIPTAAN RUANG INTERAKSI ANTAR ETNIS YANG FLEKSIBEL DI PASAR BARU Reynold Andika Taruna; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8555

Abstract

Pasar Baru Woven Society is a Third Place located on Jl. Pintu Air Raya, Pasar Baru, Central Jakarta. The project began with a vision to present a third place in Pasar Baru which became a crossing space between cultures and traditions in Pasar Baru. As is known in Pasar Baru village, it has a diversity of cultures consisting of several ethnic groups, including ethnic Chinese, ethnic Betawi, European ethnic, and Indian ethnic. Each of these ethnic groups has different needs and activities. Pasar Baru district has three main roads that dominate in the shopping area, each road has its own character, including; Pintu Air road is dominated by Indian architecture, Pasar Baru road is dominated by Chinese-style architecture, and Veteran road is dominated by European architecture. These roads seem separate because of their diversity, the Pasar Baru district should be a single entity that encompasses these differences. Therefore this project goals to cross various kinds of inter-ethnic programs that will generate a new typology of space that is more general and flexible so that it can be enjoyed together. To reach the goals, the design approach uses Bernard Tschumi's Trans Programming method. With this method, existing programs and programs that have similarities between ethnic groups will be crossed into a more general program to be together. So that there is no single program that is specific to one Ethnicity. Keywords:  ethnic diversity; Pasar Baru society; third place; trans programming  Abstrak Tenunan Masyarakat Pasar Baru merupakan sebuah Third Place yang terletak di Jl. Pintu Air Raya, Kelurahan Pasar Baru, Jakarta Pusat.  Proyek ini dimulai dari visi dan tujuan untuk menghadirkan tempat ketiga di kelurahan Pasar Baru yang menjadi ruang persilangan antar kebudayaan dan tradisi yang ada di Pasar Baru. Seperti yang diketahui di kelurahan Pasar Baru memiliki keberagaman kebudayaan yang terdiri dari beberapa Etnis, diantaranya etnis Tionghua, etnis Betawi, etnis eropa, dan etnis India.  Setiap etnis tersebut memiliki kebutuhan dan aktivitas yang berbeda – beda. Kelurahan Pasar Baru memiliki tiga buah jalan utama yang mendominasi di kawasan perbelanjaan tersebut, masing – masing jalan memiliki karakternya tersendiri, diantaranya; Jalan Pintu Air yang di dominasi oleh arsitektur India, Jalan Pasar Baru yang di dominasi oleh arsitektur bergaya Tionghua, dan Jalan Veteran yang di dominasi oleh arsitektur Eropa.  Jalan – jalan tersebut terkesan terpisah karena keberagamannya, seharusnya kelurahan Pasar Baru merup akan sebuah satu kesatuan yang melingkupi perbedaan tersebut. Maka dari itu project ini bertujuan untuk menyilangkan berbagai macam program antar Etnis yang akan menghasilkan sebuah tipologi ruang baru yang bersifat lebih general dan fleksibel agar dapat dinikmati bersama. Untuk mencapai hal tersebut maka pendekatan desain menggunakan metode Trans Programming Bernard Tschumi.  Dengan metode ini maka program yang ada dan program yang memiliki kesamaan antar etnis akan di silangkan menjadi suatu program yang lebih general untuk bersama. Sehingga tidak ada satupun program yang spesifik terhadap satu Etnis.
WADAH PERTUNJUKAN SENI DI BEKASI Vicosta Christy; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6737

Abstract

Bekasi is referred to commuter city. A commuter is someone who travels to a city to work and returns to his hometown every day, usually from a place that is quite far from where he works. There is nothing interesting to invite travelers to this city. The city is home to millions of residents who mostly work in the capital city of Jakarta. The reason is because Jakarta is already overcrowded and the price of a residential unit in Jakarta has escalated. Bekasi society has high mobility. They departed from morning and returned when it was dark. The house is only used as a rest. There is no cultural trend in Bekasi as well as a shared space for residents to communicate with each other and express interest in their talents. There needs to be a forum to embrace the polarity of the city with nature to coexist in order to produce a more attractive environment and accommodate the city of Bekasi as an educational recreation area, combining the value of sociability and relaxation. The third place becomes a role that can contribute to the overall lifestyle of the community. For this reason, people need to realize that the third space is an undisputable asset. The concept of this third space is quite unique for the process of developing a place, because the third space breaks through a generation with a much better deal than the characteristics of other places. This project uses the trans programming method for the program in the project and the building typology method which will analyze several aspects of the performing arts buildings from the past to the present. The main concept of this project prioritizes the flexibility of space so that it can be used for several different activities. AbstrakKota Bekasi sering disebut dengan kota komuter. Komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya. Tidak ada hal yang menarik untuk mengajak para pelancong ke kota ini. Kota ini adalah rumah bagi jutaan penduduk yang sebagian besar bekerja di ibukota Jakarta. Alasannya mudah, karena Jakarta sudah sesak dan harga satu unit tempat tinggal di Jakarta sudah meroket. Masyarakat Bekasi memiliki mobilitas yang tinggi. Mereka berangkat dari pagi dan kembali saat hari sudah gelap. Rumah hanya dijadikan untuk beristirahat saja. Tidak terdapat tren kebudayaan di Bekasi sekaligus ruang bersama untuk warga saling berkomunikasi dan menuangkan minat bakatnya. Perlu adanya sebuah wadah untuk merangkul polaritas kota dengan alam untuk hidup berdampingan supaya menghasilkan lingkungan yang lebih menarik dan mengakomodasi kota Bekasi menjadi tempat rekreasi edukatif, menggabungkan nilai sosiabilitas dan relaksasi. Ruang ketiga menjadi peran yang bisa berkontribusi dengan keseluruhan gaya hidup masyarakat. Untuk itu masyarakat perlu menyadari bahwa, ruang ketiga menjadi aset yang tidak dapat diperdebatkan. Konsep ruang ketiga ini cukup unik untuk proses perkembangan sebuah tempat, karena ruang ketiga menerobos sebuah generasi dengan kesepakatan yang jauh lebih baik daripada karakteristik tempat lain.  Proyek ini menggunakan metode trans programming untuk program di dalam proyek dan metode tipologi bangunan dimana akan menganalisa beberapa aspek pada bangunan - bangunan ruang pertunjukan dari terdahulu hingga kekinian. Konsep utama bangunan ini mengutamakan fleksibilitas ruang sehingga bisa digunakan untuk beberapa kegiatan yang berbeda.
TEMPAT KETIGA KOTATUA JAKARTA SEBAGAI GERBANG INTEROGATIF TERHADAP KEMAJUAN KOTATUA Ferel Putra; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8573

Abstract

Kotatua Jakarta is a very crowded place visited by many visitors from many diverse areas. Other than that, Kotatua is also a home for some people, a place where they build their lives. This makes Kotatua becomes a high diversity place. Therefore, it is necessary to make a third place that unites people from different backgrounds for the sake of good Indonesian society growth by providing an interrogative place where people can meet, socialize, and interrogate their own lives by seeing other people’s lives. In addition, the project also has another goal, which is to improve the quality of Kotatua as a tourism area by building an information center that is useful for visitors, as well a community center that is useful for tourism workers there. Kotatua Jakarta Interrogative Gate talks about interrogative space for human growth that focuses on the provision of spaces that trigger social interaction that results in interrogation between human beings so they can become more open minded, of course while conveying information on both Kotatua and Jakarta tourism and preserving and enhancing the economy of pre-existing communities, as a gate that is opened for everybody. Keywords:  diversity; interrogate; open minded AbstrakKotatua Jakarta merupakan tempat yang sangat ramai dikunjungi banyak pengunjung dari daerah yang beraneka ragam. Disamping itu Kotatua merupakan sebuah tempat yang juga memiliki penduduk asli dalam jumlah yang sedikit. Hal ini membuat Kotatua menjadi sebuah tempat yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Maka, perlu dibuatlah sebuah tempat ke-3 yang bersifat mempersatukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, agar terjadilah interogasi yang mendewasakan yang dapat menjadi cikal bakal pertumbuhan masyarakat Indonesia yang baik. Proyek ini juga memiliki tujuan lain untuk meningkatkan kualitas Kotatua sebagai kawasan turisme dengan membangun sebuah pusat informasi yang berguna bagi pengunjung, dan pusat komunitas yang berguna bagi para pekerja turisme disana. Gerbang Interogatif Kotatua Jakarta berbicara tentang ruang interogatif yang membuat manusia bertumbuh yang berfokus dalam pengadaan ruang-ruang yang memicu adanya interaksi sosial yang berujung pada interogasi antar manusia yang mendewasakan, tentunya sambil menyampaikan informasi turisme Kotatua maupun Jakarta pada umumnya, dan melestarikan serta meningkatkan ekonomi komunitas yang sudah ada sebelumnya.