Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

AKUATORIUM: MENUJU ALTERNATIF KREMASI YANG LEBIH HIJAU Jeremy Edbert Jingga; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12567

Abstract

Masyarakat Indonesia sangat heterogen sehingga masyarakat Indonesia mengenal berbagai jenis adat istiadat dan tradisi, tidak terkecuali prosesi pemakaman. Indonesia mengenal 6 agama sehingga ada 2 jenis prosesi pemakaman di Indonesia, yaitu kremasi dan penguburan. Namun, semakin berkurangnya lahan di kota Bandung untuk pemakaman, menimbulkan isu keterbatasan lahan pemakaman. Selain itu, kremasi konvensional juga sangat tidak ramah lingkungan karena menghasilkan berbagai polusi udara, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sudah dikembangkan teknik akuamasi yang memanfaatkan air sebagai alternatif kremasi yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini juga harus memiliki nilai simbolik yang universal dan dalam sehingga tidak mengurangi aspek sakral dari prosesi pemakaman jenazah. Maka dari itu, nilai simbolik universal ini akan dituangkan melalui tema arsitektur sakral yang dicapai menggunakan metode fenomenologis dan arsitektur paradoks jukstaposisi. Dengan menggunakan metode tersebut, proyek ini dapat memenuhi nilai simbolik universal dari pemakaman, serta akuamasi dapat menjadi alternatif kremasi konvensional sebagai pemenuhan dari “Beyond Ecology”, sehingga permasalahan lingkungan dapat terselesaikan. Kata kunci: Akuatorium; Fenomenologi; Kuburan; Jukstaposisi; Rumah Abu.AbstrakMasyarakat Indonesia sangat heterogen sehingga masyarakat Indonesia mengenal berbagai jenis adat istiadat dan tradisi, tidak terkecuali prosesi pemakaman. Indonesia mengenal 6 agama sehingga ada 2 jenis prosesi pemakaman di Indonesia, yaitu kremasi dan penguburan. Namun, semakin berkurangnya lahan di kota Bandung untuk pemakaman, menimbulkan isu keterbatasan lahan pemakaman. Selain itu, kremasi konvensional juga sangat tidak ramah lingkungan karena menghasilkan berbagai polusi udara, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sudah dikembangkan teknik akuamasi yang memanfaatkan air sebagai alternatif kremasi yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini juga harus memiliki nilai simbolik yang universal dan dalam sehingga tidak mengurangi aspek sakral dari prosesi pemakaman jenazah. Maka dari itu, nilai simbolik universal ini akan dituangkan melalui tema arsitektur sakral yang dicapai menggunakan metode fenomenologis dan arsitektur paradoks jukstaposisi. Dengan menggunakan metode tersebut, proyek ini dapat memenuhi nilai simbolik universal dari pemakaman, serta akuamasi dapat menjadi alternatif kremasi konvensional sebagai pemenuhan dari “Beyond Ecology”, sehingga permasalahan lingkungan dapat terselesaikan.