Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN SISTEM BANGUNAN APUNG SEBAGAI CARA UNTUK BERDAMAI DENGAN BANJIR DI JAKARTA UTARA Dennis Dennis; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12416

Abstract

Global warming has been the world's problem for years that hasn’t been solved yet. There are tons of effects caused by global warming, but the one that can be felt the most is the rise of earth's temperature, that also causes rising sea level. This causes a lot of problems, particularly tidal flood, that is happening in most areas near the sea, such as, North Jakarta. This area is known to be flooded a lot, especially when rain is pouring, and when the tide is rising. This is the issue that will be brought up in this research, on how architecture can solve the flooding problem on the coastal area. In the spirit of solving the issue, there are some methods that will be implemented. The first one is metaphor architecture; this method will be used in designing the building. The theme used for designing is beyond ecology. Beyond ecology is a designing theory which implements the relationships between the ecosystem and the living things around the site of the building. The aim in this research is to propose an alternate solution that can be used to help in preventing the tidal flood, by making peace with the flood with architectural approach. The proposed architecture solution is to create a floating community, that can adapt with the rising sea level so that everyone can avoid the flooding that is caused by global warming. Keywords:  Beyond ecology; Floating community; Global warming; Making peace with the floodAbstrakPemanasan global sudah menjadi masalah yang dihadapi dunia sejak bertahun-tahun lamanya, dan masih belum terdapat penyelesaiannya. Akibat dari pemanasan global sangat banyak, yang paling utama adalah meningkatnya suhu bumi, kemudian menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Hal ini menyebabkan terjadinya banjir, terutama banjir rob, di daerah-daerah yang berada di dekat laut, antara lain adalah Jakarta Utara. Daerah ini sudah terkenal sering mengalami banjir, terutama saat turun hujan, besar maupun kecil, juga saat terjadinya pasang air laut. Permasalahan banjir inilah yang kemudian diangkat menjadi isu bagaimana arsitektur menjawab masalah banjir di daerah pantai sebagai penelitian ini. Dalam upaya menyelesaikan masalah tersebut, ada beberapa metode yang dapat digunakan. Diantaranya adalah metode arsitektur metafora, yang merupakan metode yang digunakan dalam merancang bangunan. Tema yang digunakan pada proyek ini adalah beyond ecology. Beyond ecology merupakan sebuah teori dalam membangun yang memperhatikan dan menerapkan hubungan dengan lingkungan dan makhluk hidup sekitarnya. Oleh karena itu, solusi alternatif yang didapat, yang kemudian bisa digunakan untuk membantu menghadapi masalah banjir, adalah dengan cara berdamai dengan banjir, dengan menggunakan pendekatan arsitektur. Solusi arsitektur yang ditawarkan adalah merancang sebuah komunitas apung, yang dapat beradaptasi terhadap naik-turunnya permukaan air laut, sehingga bangunan dapat terbebas dari bencana banjir yang disebabkan oleh pemanasan global tersebut.
MUSEUM BIOTA LAUT SUNDA KELAPA Alfin Aditya; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12431

Abstract

As a result of very rapid technological advances in this day and age, the ecosystem of life on earth is disrupted. Not only on land, there is damage to ecosystems in the sea, especially those caused by human activities that make the sea a place for waste disposal, both in the form of garbage and industry. The disruption of the ecosystem causes the life of marine biota to be preserved and educated to the public. One way to overcome the marine biota ecosystem caused by the lack of public awareness of the life of the marine biota is through education combined with tourism or seaside recreation. The issue of going beyond ecology to architecture for goodness and life as the theme of Stupa 8, provides ideas on how architecture can play a role in helping to maintain the ecosystem of life in the sea. As an effort to answer how architecture can play a role in community life, from the issues raised, an approach is used using contextual design methods. This method is used so that there is a context of marine life in the Sunda Kelapa environment which is the location of the site. Contextual is used as a design method by taking into account existing activities and the history of the existence of the Sunda Kelapa port and the existence of the first aquarium in Jakarta. With the presence of a marine biota museum that will be designed in the Sunda Kelapa Harbor area, it will complement the existence of a maritime museum, a hexagonal market as a means of tourism and community recreation. By utilizing multi-media technology in demonstrating museum materials and the existence of an aquarium, it is hoped that it can attract people to want to visit the museum. And especially can play a role in educating the public to be more concerned about marine life that is increasingly polluted. Keywords: Technology Advancement; Beyond Ecology; History and Culture; Plastic waste Pollution AbstrakKemajuan teknologi yang sangat pesat pada zaman sekarang ini, membuat ekosistem kehidupan di bumi menjadi terganggu. Bukan hanya di darat saja terjadi kerusakan ekosistem di laut pun terutama yang disebabkan oleh ulah manusis yang menjadikan laut sebagai tempat pembuangan kotoran baik berupa sampah maupun industri. Salah satu cara mengatasi ekosistem biota laut yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kehidupan biota di laut adalah melalui edukasi yang digabungkan dengan wisata atau rekreasi tepi laut. Isu melampaui ekologi menuju arsitektur untuk kebaikan dan kehidupan sebagai tema soal Stupa 8, memberikan pemikiran bagaimana arsitektur dapat ikut berperan dalam menjaga ekosistem kehidupan di laut. Dalam menjawab peran arsitektur dapat dalam kehidupan di masyarakat, berdasarkan isu dilakukan pendekatan yang menggunakan metode perancangan kontekstual. Metode ini digunakan agar terjadi konteks dari kehidupan biota laut terhadap lingkungan Sunda Kelapa yang menjadi lokasi tapak. Kontekstual yang dijadikan metode perancangan dengan memperhatikan kegiatan yang sudah ada serta sejarah keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa serta pernah adanya aquarium pertama di   Jakarta. Kehadiran museum biota laut di area Pelabuhan Sunda Kelapa ini, akan melengkapi keberadaan museum bahari, pasar hexagonal sebagai sarana wisata dan rekreasi masyarakat di kawasan kota tua. Dengan memanfaatkan teknologi multi media dalam peragaan materi museum serta adanya aquarium diharapkan dapat menjadi daya tarik masyarakat untuk ingin berkunjung ke museum. Dan terutama dapat berperan mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap kehidupan laut yang semakin tercemar.
PUSAT KOMUNITAS ADAPTIF KEMANG KEMANG ADAPTIVE COMMUNITY HUB Diego Mozes Leong; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12463

Abstract

Beyond Ecology is the result of the acceleration of ecology so that the relationship between Biotic and Abiotic is no longer only Plants or Animals or Humans with where they interact but can also develop like Humans and behavior. Humans and behavior are things that are less viewed at this time, both fellow humans and humans towards the surrounding environment. During the Covid-19 pandemic, which forces people to live more disciplined lives, implementing health protocols will have an impact on humans and their behavior in the community or society together. Along with these needs, the community in Kemang with various interests in activities requires the existence of a community that is able to answer these needs. In meeting the needs of designing the Kemang community container with various interests, activities and behaviors. The approach used is the transprogramming method, Bernard Tschumi. With this design method, it is expected to be able to answer the needs of not only interest in activities that can be accommodated but also the surrounding community who live in the Kemang area. The design of the Kemang Adaptive Community Center uses a mutually supportive and complementary pattern, so that it can be used simultaneously or alternately according to a flexibly designed schedule of activities. The existence of a high level of mobility is expected to be able to answer the issues raised in increasing public awareness of behavior in their community. Keywords: Adaptive; Environment; Human; Interest; Behavior AbstrakMelampaui Ekologi merupakan hasil dari percepatan ekologi sehingga hubungan antara Biotik dan Abiotik tidak lagi hanya Tumbuhan atau Hewan atau Manusia dengan tempat mereka melakukan interaksi tetapi bisa juga berkembang seperti Manusia dan perilaku. Manusia dan perilaku pun merupakan hal yang kurang dipandang pada masa ini, baik sesama manusia maupun manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Dimasa pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat untuk hidup lebih berdisiplin melakukan protokol kesehatan akan memberikan dampak pada manusia dan perilakunya berkomunitas atau bermasyarakat secara bersama-sama. Seiring dengan kebutuhan tersebut komunitas di Kemang yang memiliki berbagai minat aktivitas memerlukan adanya sebuah komunitas yang mampu menjawab kebutuhan tersebut.  Dalam memenuhi kebutuhan perancangan wadah komunitas Kemang dengan berbagai minat aktivitas serta perilakunya. Dilakukan pendekatan yang menggunakan metode transprogramming, Bernard Tschumi. Dengan metode perancangan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan  tidak hanya minat aktivitas yang dapat diwadahi tetapi juga masyarakat sekitar yang tinggal di daerah Kemang. Rancangan Pusat Komunitas Adaptif Kemang yang menggunakan pola saling menunjang dan melengkapi, sehingga dapat digunakan secara bersamaan atau bergantian sesuai skedul kegiatan yang dirancang secara fleksibel. Adanya tingkat mobilitas yang tinggi diharapkan mampu menjawab isu yang diangkat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan berperilaku di komunitas lingkungan hidupnya.