Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

OMAH MANGROVE: PENDEKATAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN DAN LOKALITAS DALAM PERANCANGAN ECOWISATA MANGROVE DI MUARA ANGKE Matthew Louis; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12362

Abstract

Mangrove forest is one of the habitats and at the same time the holder of an important role in the coastal ecosystem. Mangrove forest itself is home to several types of marine life. Based on forestry data in Indonesia, there are around 3,489,140.68 Ha. The largest mangrove forest is in Sumatra. In Jakarta, there are mangrove forests in North Jakarta, precisely around the Kapuk to Muara Angke areas. The ecosystem area is 291.17 ha with a density level of 272.79 ha (rare) 16.83 ha (medium), 1.54 ha (heavy). In Kapuk Muara there is already a wildlife sanctuary for the mangrove forest in Muara Angke. However, there are still mangrove forests with a damaged category of 272.9 ha and 18.38 ha categorized as undamaged so that they are included in the critical category. This situation is exacerbated by the reclamation activities which have only been partially implemented. Fishermen lose their livelihoods because the bait and  fishing nets are buried by reclaimed land so that the fishing area is reduced. According to his writings on locality theory, Sutanto (2020) states that architecture in its development must utilize sustainable technology. This becomes important in building a new tradition that can provide usefulness to its users. This locality approach is expected to help the fishing communities in Muara Angke deal with their problems. In addition, this study also refers to the environmental architecture method, which respects the environment and local characteristics of the local community that make up the Muara Angke area. The purpose of the study is to produce a concept of structuring a mangrove restoration area, as well as to improve the welfare of fishermen in that location. Keywords: Environmental Architecture ; Locality ; Ecotourism,; Mangroves AbstrakHutan mangrove merupakan salah satu habitat dan sekaligus pemegang peranan penting dalam ekosistem pantai. Hutan mangrove sendiri merupakan rumah bagi beberapa jenis biota laut. Berdasarkan data kehutanan di Indonesia terdapat sekitar 3.489.140,68 Ha. Hutan mangrove terbesar terdapat di wilayah Sumatera. Di Jakarta Hutan mangrove terdapat di Jakarta Utara tepatnya di sekitar daerah Kapuk hingga Muara Angke. Luasan ekosistem 291.17 ha dengan tingkat kerapatan sebesar 272,79 ha (jarang) 16,83 ha (sedang) , 1,54 ha (lebat). Di Kapuk Muara sudah terdapat suaka margasatwa untuk hutan mangrove yang berada di Muara Angke. Namun meski demikian masih terdapat hutan mangrove dengan kategori rusak sebesar 272,9 ha dan 18,38 ha terkategori tidak rusak sehingga termasuk ke dalam kategori kritis. Keadaan ini diperburuk dengan kegiatan reklamasi yang baru berjalan sebagian sebagian. Nelayan kehilangan mata penchariannya dikarenakan umpan dan jaring nelayan tertimbun oleh urukan tanah reklamasi sehingga wilayak penangkapan ikan menjadi berkurang. Menurut tulisannya tentang teori lokalitas, Sutanto (2020) menyatakan bahwa arsitektur dalam perkembangannya harus memanfaatkan teknologi yang berkelanjutan. Hal ini menjadi  penting  dalam membangun  sebuah  tradisi baru yang dapat memberikan kegunaan terhadap penggunanya. Pendekatan lokalitas ini diharapkan dapat membantu masyarakat nelayan di Muara Angke menghadapi permasalahan mereka. Selain itu studi ini juga mengacu pada metode  enviromental architecture, yang menghargai lingkungan dan ciri lokalitas masyarakat setempat yang membentuk kawasan Muara Angke. Tujuan studi adalah menghasilkan konsep penataan area restorasi mangrove, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan di lokasi tersebut.
FUNGSI EKOWISATA SEBAGAI SARANA EDUKASI PELESTARIAN HUTAN TROPIS DI KABIL, BATAM Robert Halim; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12551

Abstract

Forests are one of the largest oxygen producers on Earth and are home to many types of plants and animals. The existence of forests on Earth is very important because their absence would have fatal consequences for all life. One of the impacts due to the reduced number of forests is global warming, flooding, reduced oxygen supply and landslides. The word deforestation is no longer a "taboo" in forest management in Indonesia. The area of natural forests in Indonesia continues to decrease every year. According to Global Forest Watch, Indonesia's forests decreased by 40% in 2018. Agriculture, illegal logging and mining are commercial activities as the main drivers of deforestation. One of them is that the city of Batam has experienced a 45% reduction in the amount of forested area each year due to various factors, one of which is illegal logging in the city of Batam. The biophilic approach was chosen in the design of issues regarding deforestation to provide a positive relationship between humans and nature to achieve environmental, moral, social and economic benefits. This project is expected through entertainment tourism activities to educate residents to better understand the problem of deforestation and increase awareness of environmental improvements, especially tropical forests in Indonesia. Keywords:  Batam; ecotourism; forest; prerservation; tropical forestAbstrakHutan adalah salah satu penghasil oksigen di Bumi dan tempat hidup berbagai jenis tanaman dan hewan. Keberadaan hutan di Bumi sangat penting karena ketidakhadirannya akan memiliki konsekuensi fatal bagi semua kehidupan. Salah satu dampak akibat berkurangnya jumlah hutan adalah pemanasan global, banjir, berkurangnya pasokan oksigen dan tanah longsor. Kata deforestasi sudah tidak lagi menjadi “tabu” dalam pengelolaan hutan di Indonesia.Luas hutan alam di Indonesia terus berkurang setiap tahunnya. Berdasarkan Global Forest Watch, terjadi penurunan hutan dii Indonesia sebesar 40% pada 2018. Agrikultur, penembangan liar dan pertambangan merupakan kegiatan komersial sebagai pendorong utama deforestasi. Salah satunya yaitu kota Batam telah mengalami pengurangan 45% jumlah daerah berhutan setiap tahunnya karena berbagai faktor, salah satunya adalah pembalakan liar di Kota Batam. Pendekatan biophilic dipilih dalam desain persoalan mengenai deforestasi untuk memberikan hubungan positif antar manusia dengan alam untuk mencapai manfaat lingkungan, moral, sosial dan ekonomi. Proyek ini diharapkan melalui kegiatan wisata hiburan dapat mengedukasi penduduk agar lebih memahami persoalan deforestasi dan meningkatkan kepedulian pada perbaikan lingkungan khususnya hutan tropis di indonesia.
GRIYA MODE BERKELANJUTAN DI KOTA BEKASI Muhammad Dzamarsyach Dewanto; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12377

Abstract

The increasing consumption of clothing every year gives birth to a new concept, namely fast fashion. It is a modern term for cheap and trendy clothes that take fashion ideas from fashion shows or fashionable styles from celebrities. The fast fashion work system is known as a mass process that is able to produce clothes quickly. However, this process uses too many natural resources and is detrimental to the environment. Even though the results of the fabric produced are not comparable to the nature that was sacrificed. The concept of fast fashion which should be able to harmonize production and consumers will lose balance. This project has a goal to build an architectural masterpiece that can reduce the negative impact of the fashion industry on environmental pollution. Inviting the public to participate in changing a consumptive and hedonistic culture. Thus creating a community that is aware of a better lifestyle to become a productive and circular generation in fashion consumption. In its design, Atelier Bow-Wow's Behaviorology Strategy method is used which studies the context of environmental, social and economic concerns that seek to turn problems into opportunities as a basic aspect of eco-friendly design. This study also uses the Nonidentity-programming method by Bernard Tschumi to create programs in circular architectural works, and parametric methods in planning the design of the building's facade. It is hoped that this project will be able to deal with the environmental crisis caused by the practice of the fashion industry in order to create a sustainable life. Keywords: sustainable, fashion, lifestyle, environment AbstrakMeningkatnya konsumsi pakaian setiap tahunnya melahirkan konsep baru yaitu fast fashion. Ini adalah sebuah istilah modern untuk pakaian murah dan trendi yang mengambil ide mode dari peragaan busana atau gaya modis dari selebriti. Sistem kerja fast fashion dikenal sebagai proses masal yang mampu menghasilkan pakaian dengan cepat. Akan tetapi, proses ini menggunakan sumber daya alam yang terlalu banyak dan merugikan lingkungan. Padahal hasil kain yang dihasilkan tidak sebanding dengan alam yang dikorbankan. Konsep fast fashion yang harusnya mampu menyelaraskan produksi dan konsumennya akan kehilangan keseimbangan. Proyek ini memiliki tujuan untuk membangun sebuah karya arsitektur yang mampu mengurangi dampak negatif industri fesyen terhadap pencemaran lingkungan. Mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengubah budaya yang konsumtif dan hedonisme. Sehingga menciptakan sebuah komunitas yang sadar akan gaya hidup yang lebih baik untuk menjadi  generasi  yang produktif  dan sirkular  dalam konsumsi  fesyen.  Dalam perancangannya digunakan metode Behaviorology Strategy milik Atelier Bow-Wow yang mempelajari konteks kepedulian terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi yang berusaha mengubah masalah menjadi peluang sebagai aspek dasar dalam desain yang ramah akan ekologi. Studi ini juga menggunakan metode Nonidentity- programming oleh Bernard Tschumi untuk menciptakan program dalam karya arsitektur yang sirkular, dan metode parametrik dalam perencanaan desain bangunan fasadnya. Diharapkan proyek ini mampu dalam menghadapi persoalan krisis lingkungan akibat praktek industri fesyen demi menciptakan kehidupan yang berkesinambungan.
STUDI FLEKSIBILITAS PADA WADAH KOMUNITAS TANGGAP BENCANA BANJIR DI JAKARTA TIMUR Revina Howin Ciafudi; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12427

Abstract

Flood disaster is a natural phenomenon, namely the overflow of water that drowns the land due to the increased volume of water. Due to this flood disaster, residents were required to evacuate to a refugee camp or evacuate to the 2nd floor of their house. In addition to hampering activities and places to live, residents also lack clean water and suffer severe losses. In addition, the refugee camps provided by the government are also inadequate. The Resilience Project of Slums Affected by Flood Communities is a project that aims to build a community consisting of slum communities so that they can survive when a flood disaster occurs. The construction of a facility for the community in East Jakarta, precisely in a flood-prone area, is useful as a refuge during a disaster and can also be used by residents for daily activities during a disaster situation. In the design, flexibility and adaptability methods are used considering the function of the building to be functioned in 2 conditions, namely the situation during a disaster and the situation when it is normal. This causes a change in the use of a space based on the situation faced by the user where a space can be used as a place for daily activities and as a place of refuge. It is hoped that this facility can be used as much as possible in various circumstances. Keywords: Community; Disaster; Flood; Resilience; Slum Communities AbstrakBencana banjir adalah sebuah fenomena alam yaitu luapan air yang menenggelamkan daratan dikarenakan volume air yang meningkat. Dikarenakan bencana banjir ini, warga diharuskan untuk mengungsi ke tempat pengungsian atau mengungsi ke lantai 2 rumah mereka. Selain menghambat aktivitas dan tempat berhuni, warga juga kekurangan air bersih dan mengalami kerugian yang cukup parah. Selain itu tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah juga kurang layak. Proyek Resilience Komunitas Permukiman Kumuh Terdampak Banjir ini merupakan proyek yang memiliki tujuan untuk membangun sebuah komunitas yang terdiri atas masyarakat permukiman kumuh agar dapat bertahan ketika bencana banjir terjadi. Dibangunnya sebuah fasilitas untuk komunitas di Jakarta Timur tepatnya di kawasan rawan banjir ini berguna sebagai tempat pengungsian ketika bencana dan juga dapat digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari ketika situasi bencana. Dalam perancangannya digunakan metode fleksibilitas dan adaptibilitas mengingat fungsi bangunan yang akan difungsikan dalam 2 kondisi yaitu situasi ketika bencana dan situasi ketika normal. Hal ini menyebabkan adanya perubahan penggunaan sebuah ruang berdasarkan situasi yang dihadapi pengguna dimana sebuah ruang dapat digunakan sebagai tempat berkegiatan sehari-hari dan sebagai tempat pengungsian. Diharapkan fasilitas ini dapat digunakan semaksimal mungkin dalam berbagai keadaan.