J.M. Joko Priyono Santosa
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENDEKATAN ARSITEKTUR KOSMOLOGI BALI DAN PRAGMATIC UTOPIA DALAM MERANCANG KONSERVASI TERUMBU KARANG DI PULAU NUSA PENIDA Nicholas Gabriel; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12371

Abstract

The life of the marine ecosystem is starting to be threatened by the natural phenomena that occur, destroying marine life and coral reefs. The destruction of coral reefs begins with the occurrence of bleaching. This phenomenon can quickly kill coral reefs extensively in less than a year and cause the death of marine life in coastal ecosystems. The theory adopted uses the concept of Balinese cosmology and pragmatic utopia in responding to the challenge of going beyond ecology and responding to the context of the surrounding environment. The selected program is a conservation function and a gallery for visitors to explore the space within the site. This project creates a new formula for balancing traditional theory with the utopia of the future. The concept of Balinese cosmology is applied in the layout of the space according to the beliefs of the Balinese people. This project is expected to be a hope and a public space that conveys the experience of spatial space bringing people into a different dimension, appreciating the exploration process. Become a project that can influence visitors psychologically on the importance of the survival of marine ecosystems. Keywords: Coral reefs; Conservation; Cosmology; Pragmatic Utopia; Spatial space AbstrakKehidupan ekosistem laut mulai terancam dengan fenomena alam yang terjadi membuat biota laut beserta terumbu karang hancur. Kehancuran terumbu karang dimulai dari terjadinya bleaching. Fenomena ini dapat dengan cepat membunuh terumbu karang secara luas kurang dari setahun dan menyebabkan kematian biota laut pada ekosistem pesisir pantai. Teori yang diangkat menggunakan konsep kosmologi Bali dan pragmatic utopia dalam menjawab tantangan untuk malampaui ekologi dan menanggapi konteks lingkungan sekitar. Program yang dipilih merupakan fungsi konservasi dan gallery untuk pengunjung menjelajahi ruang dalam site. Proyek ini menciptakan formula baru dalam menyeimbangkan teori tradisional dengan utopia masa depan. Konsep kosmologi Bali diterapkan dalam tata letak ruang sesuai kepercayaan masyarakat Bali. Proyek ini diharapkan dapat menjadi harapan dan ruang publik yang menyampaikan pengalaman ruang spasial membawa manusia kedalam dimensi yang berbeda, menghargai proses eksplorasi. Menjadi proyek yang dapat memengaruhi psikologis pengunjung akan pentingnya kelangsungan hidup ekosistem laut. 
BANGUNAN UNTUK BERNAFAS SOLUSI POLUSI UDARA DI JAKARTA Kenzo Therin; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12442

Abstract

This Breathing Building Project which is located on Jl. The pioneer, Mega Kuningan, is a project that is expected to be able to solve the problem of air pollution in the area architecturally. This project is a building that implements a natural air exchange system using plant media to absorb carbon dioxide gas produced by motor vehicle emissions. This building also aims as a pioneer project in Jakarta to be an inspiration and reference for future designers in solving air problems from an architectural perspective. The problem that I think is happening in the city of Jakarta at this time is that there are no projects that aim to reduce the level of air pollution in Jakarta. This can be seen from the minimal number of environmentally friendly facilities that can be used in general. It can also be seen from the buildings in Jakarta which are "deadly" because there is very little greenery in buildings because the designers are still only concerned with efficiency over nature conservation. Therefore, my project with the title "Building for Breathing Air Pollution Solutions in Jakarta" is needed to provide breath in the form of fresh oxygen gas to the community and residents around the building.Keywords: breathing building; air pollution; sustainabilityAbstrakProyek Bangunan untuk bernafas ini yang berada di Jl. Perintis, Mega Kuningan, merupakan proyek yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan polusi udara di area tersebut secara arsitektur. Proyek ini merupakan bangunan yang menerapkan sistem pertukaran udara secara alami menggunakan media tanaman untuk menyerap gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh gas emisi kendaraan bermotor. Bangunan ini juga bertujuan sebagai proyek pionir di Jakarta untuk menjadi inspirasi dan referensi perancang-perancang pada masa mendatang dalam menyelesaikan permasalahan udara dari sisi Arsitektur. Masalah yang menurut saya terjadi saat ini di kota Jakarta saat ini adalah belum adanya proyek yang memiliki tujuan untuk mengurangi tingkat polusi udara di Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari minimnya jumah fasilitas-fasilitas ramah lingkungan yang dapat digunakan secara umum. Dapat dilihat juga dari bangunan-bangunan di jakarta yang “mematikan” karena sangat minim penghijauan pada bangunan karena perancang-perancang masih hanya mementingkan efisiensi dibandingkan pelestarian alam. Maka dari itu proyek saya ini dengan judul “Bangunan untuk Bernafas Solusi Polusi Udara di Jakarta” ini diperlukan untuk memberikan nafas berupa gas oksigen segar kepada masyarakat dan penduduk sekitar bangunan.
METODE INSINERASI PADA FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH DI JAKARTA TIMUR Rizka Yuniar; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12400

Abstract

DKI Jakarta produces 7500 tons of waste per day. The volume of waste from East Jakarta is the largest, reaching 587 thousand tons or 21.5% of the total waste in DKI Jakarta per day. Over time, the level of consumption of household needs is increasing. The accumulation of waste can cause adverse impacts ranging from air, water, soil pollution, and can also cause various health problems. In an effort to reduce the burden of TPA and TPS on waste accumulation, the Incineration method can be one solution. Besides being able to reduce the volume of waste, the energy generated from waste incineration can also be used as electrical energy. The potential for utilizing municipal waste for power generation is relatively large, with a national total of 1,879.59 MW. This benefits East Jakarta with its large waste production. Until now, East Jakarta has not been effective in overcoming the waste problem because it only has 4 TPS facilitated by Reduce, Reuse & Recycle. This number is less than other areas of Jakarta. Therefore, the authors propose a waste processing facility, a power plant powered by waste burning using incineration technology so that waste does not accumulate for years, is faster in reducing waste at the source and is also more environmentally friendly than burning in the open air as is generally done by the surrounding community. It is hoped that this waste processing facility can be useful in reducing waste problems in East Jakarta. This waste treatment facility is designed provocatively, not following the surrounding typological norms that lead to square-shaped industrial buildings in general so that they have aesthetic value and change the negative views of the community regarding waste. The tourism-educational function can also be an advantage of this waste processing facility. Keywords:  garbage pollution; incineration; waste treatment facilitiesAbstrakDKI Jakarta memproduksi sampah mencapai 7500 ton per hari. Volume sampah dari Jakarta Timur merupakan yang terbanyak yaitu mencapai 587 ribu ton atau 21,5% dari total sampah DKI Jakarta per hari. Seiring berjalannya waktu, tingkat konsumsi kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Penumpukan sampah dapat menimbulkan dampak merugikan mulai dari pencemaran udara, air, tanah, juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Dalam upaya mengurangi beban TPA maupun TPS terhadap penumpukan sampah, metode Insinerasi dapat menjadi salah satu solusi. Selain bisa mengurangi volume sampah, energi yang dihasilkan dari insinerasi sampah juga dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik. Potensi pemanfaatan sampah kota untuk pembangkit listrik relative besar, dengan total nasional 1.879,59 MW. Hal ini menguntungkan Jakarta timur dengan produksi sampahnya yang besar. Hingga saat ini Jakarta timur belum efektif mengatasi permasalahan sampah karena hanya memiliki 4 TPS yang difasilitasi dengan Reduce, Reuse & Recycle. Jumlah ini lebih sedikit dari daerah Jakarta lainnya. Oleh karena itu penulis mencanangkan fasilitas pengolahan sampah, pembangkit listrik bertenaga pembakaran sampah menggunakan teknologi insinerasi agar sampah tidak menumpuk selama bertahun-tahun, lebih cepat dalam mengurangi sampah disumber dan juga lebih ramah lingkungan daripada pembakaran di udara terbuka seperti yang umumnya dilakukan masyarakat sekitar. Diharapkan fasilitas pengolahan sampah ini dapat bermanfaat mengurangi permasalahan sampah di Jakarta Timur. Fasilitas pengolahan sampah ini didesain secara provokatif, tidak mengikuti norma tipologi di sekitarnya yang mengarah pada bangunan industrial berbentuk persegi pada umumnya sehingga memiliki nilai estetika serta perubahan pandangan negative masyarakat terkait sampah. Fungsi wisata-edukasi juga dapat menjadi keunggulan dari fasilitas pengolahan sampah ini.
SENTRA PERTANIAN KOTA JAKARTA PUSAT Fahira Muntaz; J.M. Joko Priyono Santosa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12401

Abstract

Climate change is vulnerable to occur in major cities including the city of Jakarta because of the many greenhouse gas emissions resulting from the construction of many buildings and the lack of green land. In addition, the city of Jakarta and major cities in general can not meet their own food needs. Climate change is a very serious threat to the agricultural sector. It is hoped that the city's agricultural center buildings will be able to create architecture for the agricultural sector that is resistant to climate change and accommodate millennial farmers and become examples of agriculture in the future and apply sustainable architecture can be a representation and example of environmentally minded buildings in Jakarta. The design of the city's agricultural center building is located on Kramat Kwitang Highway, Senen Subdistrict, Central Jakarta City, DKI Jakarta. Data analysis is done using theory i.e. analysis based on environmental aspects, building aspects and human aspects. The city's agricultural center building accommodates the main function as a place to cultivate agricultural crops and secondary functions as a means of education and public space. The result that will be achieved is a building that has a basic design concept that competes on sustainable architecture and also biophilic  by designing natural elements into vertical buildings. Keywords:  Central Jakarta; Farm; Urban Abstrak Perubahan iklim rentan terjadi di kota besar termasuk kota Jakarta karena banyaknya emisi gas rumah kaca yang diakibatkan dari banyak dibangunnya gedung-gedung dan minimnya lahan hijau. Selain itu kota Jakarta dan kota-kota besar pada umumnya tidak dapat mencukupi kebutuhan makanannya sendiri. Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian. Diharapkan dengan adanya bangunan sentra pertanian kota ini mampu menciptakan arsitektur untuk sektor pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim serta mewadahi petani milenial dan menjadi contoh pertanian di masa depan serta menerapkan arsitektur yang berkelanjutan dapat menjadi representasi dan contoh bangunan berwawasan lingkungan di Jakarta. Perancangan bangunan pusat pertanian kota ini terletak di jalan Raya Kramat Kwitang, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori yaitu analisis berdasarkan aspek lingkungan, aspek bangunan dan aspek manusia. Bangunan pusat pertanian kota mewadahi fungsi utama sebagai tempat pembudidayaan tanaman pertanian dan fungsi sekunder sebagai sarana edukasi dan public space. Hasil yang akan dicapai adalah bangunan yang berkonsep dasar rancangan yang berpacu pada sustainable architecture dan juga biophilic dengan merancang unsur alam kedalam bangunan vertikal.