Suryono Herlambang
Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara, suryonoh@ft.untar.ac.id

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RUANG KREATIF KRAMAT Bella Octavia Darmawan; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6864

Abstract

Urban life is synonymous with routine and high activity in which competition between individual communities continues to increase. The routine and busyness that continues to accumulate by each individual approves fatigue and demands less productive work / study. The third place is present to balance the lives of people outside the home and work place. That way, third place is needed in the big city area which is also adjusted to the needs of the community. This project supports the balance of life in the communities around the Kramat village, Senen with programs that suit their needs. The program that emerges according to the Kramat region is a creative space because the local residents who have a profession as ondel - ondel craftsmen but do not have a place to channel these talents.The design method includes data collection techniques through observation and interviews with the results applied to the transformation design method. Kramat Creative Place in Senen is the third place planned to serve the needs of the surrounding community in the social and creativity fields in order to address the issue of urban life due to daily busyness. This project provides several facilities that facilitate community activities in education, eating places, and meeting / socializing places. This project is planned so that all groups of people, especially in the Kramat district can use it so that it is not only a place to release fatigue but also a place to interact with each other to establish stronger relationships in the community so that it can be useful for the future. The community has also become aware of the impact of natural damage, so this project will be designed environmentally friendly. AbstrakKehidupan perkotaan identik dengan rutinitas dan kesibukan tinggi dimana persaingan antar individu masyarakat terus meningkat. Rutinitas dan kesibukan yang terus terakumulasi oleh setiap individu memicu kepenatan dan mengakibatkan sikap kerja/belajar yang kurang produktif. Third place hadir untuk menyeimbangkan kehidupan masayarakat diluar rumah dan tempat kerja. Dengan begitu, third place diperlukan dalam kawasan kota besar yang disesuaikan pula dengan kebutuhan masyarakatnya. Proyek ini mendukung keseimbangan hidup masyarakat di sekitar kelurahan Kramat, Senen dengan program – program yang sesuai kebutuhan. Program yang muncul sesuai kawasan Kramat yaitu ruang kreatif karena warga sekitar yang telah menjalani profesi  sebagai pengrajin ondel – ondel namun tidak tersedianya wadah untuk menyalurkan bakat tersebut. Metode perancangan meliputi teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan hasil yang diaplikasikan ke dalam metode perancangan tarnsformasi. Ruang Kreatif Kramat di kawasan Senen ini merupakan third place yang direncanakan untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar dalam bidang sosial dan kreativitas guna menjawab isu kehidupan perkotaan karena kesibukan sehari-hari. Proyek ini menyediakan beberapa fasilitas yang mewadahi kegiatan masyarakat pada pendidikan, tempat makan, dan tempat berkumpul/bersosialisasi. Proyek ini direncanakan agar semua golongan masyarakat terutama di kelurahan Kramat dapat menggunakannya sehingga bukan hanya sebagai tempat pelepas penat namun juga tempat untuk saling berinteraksi agar terjalin hubungan yang lebih kuat dalam masyarakat sehingga bisa berguna bagi kedepannya. Masyarakat pun telah menyadari dampak kerusakan alam maka proyek ini akan dirancang ramah lingkungan.
PENATAAN ULANG PASAR TRADISIONAL MUARA KARANG Cynthia Halim; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6837

Abstract

With the ongoing advancements, human as social beings require a renowned ‘third place’ as a space for social interaction. The presence of third place acts as a space for creating assorted communities that rise in various sizes according to the scale of the surrounding. Muara Karang district is an organized and planned housing district that is filled with landed houses and a single centralized Muara Karang traditional market that make up for fulfilling the basic needs of residents for a place to buy fresh produces and various household items. As time goes by, Muara Karang traditional market is not only a market, but a meeting point for surrounding citizens – so called third place. With the initial design adhering only as a functional stacks of commercial space, this market does not provide any more space for community activities. Therefore, the reprogramming of Muara Karang traditional market is deemed necessary, creating contemporary social market without abandoning the existing traditional seller-to-consumer system that is rooted into the everyday life of the market itself. Through deep interviews with the consumers, the reprogramming of this market is made possible with space additions according to their current and future needs. Whilst opting for a more organized commercial space, this market also offers additional facilities that support communal activities. As a low profile open space for everyone (third place criteria), the design process follows the existing urban fabric to recreate a contextual design that fits into the surrounding. AbstrakSesuai dengan perkembangan zaman, manusia selaku makhluk sosial membutuhkan third place sebagai sebuah tempat untuk bersosialisasi. Kehadiran third place berperan sebagai wadah untuk membangun komunitas-komunitas kecil yang akan terbentuk sesuai skala lingkungannya. Kawasan Muara Karang merupakan kawasan yang dibangun secara terorganisir dengan dipenuhi hunian-hunian dan sebuah pasar tradisional sebagai penunjang kebutuhan di sekitarnya yaitu Pasar Muara Karang. Pasar Muara Karang seiring perkembangan zamannya tidak hanya melayani jual beli barang seperti layaknya pasar tradisional tapi pasar sekarang sudah menjadi sebuah titik temu bagi masyarakat sekitarnya atau yang disebut third place. Namun karena tidak dirancang dari awal untuk menjadi third place, bangunan pasar tidak dapat mewadahi kegiatan komunitas-komunitas yang ada sehingga tidak terasa nyaman. Maka dari itu diusulkan untuk penataan ulang Pasar Muara Karang menjadi pasar yang lebih moderen namun tetap menggunakan sistem tradisional karena itu merupakan ciri khasnya. Melalui metode penelitian, dilakukan wawancara kepada masyarakat apa yang mereka inginkan mengingat keberhasilan sebuah third place berdasarkan kebutuhan masyarakat yang ada dan memfasilitasinya. Selain penataan yang lebih tertata, pasar juga digabungkan dengan fasilitas lainnya yang dapat mendukung kegiatan komunitas. Sesuai dengan karakteristik third place yang low profile, dimana bangunan tidak terlihat sangat megah atau mewah, proses perancangan bangunan baru mengikuti urban fabric agar tetap kontekstual dengan sekitarnya.