Tatang H. Pangestu
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FASILITAS KEBUGARAN DENGAN PENGALAMAN GYM VIRTUAL Jessica Luckminto; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4501

Abstract

Jakarta is an ever-growing, high economy city. The generation of millenials as its productive workforce tends to experience stress, pressure, boredom, and even depression due to competition and fulfilling demands. A few measures of prevention against individual's rising stress level may be done by self-relaxation, recreation, hobby, and exercising. Unfortunately, millenials have little to no time to relax and enjoy themselves. They are faced with strenuous lifestyle at the expense of their own health, which include the lack of physical activities and balanced nutrition. Some millenials had become aware of the importance to living healthy and obsessed themselves with a proper lifestyle. While some others still hold onto the perception that exercising is difficult, time-wasting, and boring. With the advance of technology like virtual reality, as not only being used in entertainment, research and education, it is applied in gyms to provide a fun and thrilling exercise. Exercising felt like playing games inside a virtual world, while still burning calories. This creates a new scope of experience to millenials who tend to seek something new, technological, and trend-following. Fitness Center with Virtual Gym Experience implements virtual reality technology as its trademark, and as opposed to conventional gyms. This project aims to elevate the lifestyle quality of community as means of stress-prevention against working demands. The method of design applied is typology. Other than gym, several supporting facilities are present such as food court, communal areas, jogging & cycling track, spa, and retail. AbstrakJakarta memiliki tingkat ekonomi yang tinggi dan terus meningkat. Generasi millennial sebagai masyarakat usia produktif bekerja mulai merasa stress, tertekan, jenuh, emosi, bahkan depresi akibat persaingan ekonomi dan tuntutan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa tindakan pencegahan tingkat stress seseorang dapat dilakukan dengan cara relaksasi diri, rekreasi/ berlibur, melakukan hobi, dan berolahraga. Sayangnya, generasi millennial hanya memiliki sedikit waktu untuk relaksasi dan bersenang-senang. Mereka dihadapkan pada gaya hidup yang sibuk, sehingga mengabaikan kesehatan dirinya, termasuk aktivitas fisik dan kecukupan asupan nutrisi. Dengan adanya kemajuan teknologi, seperti virtual reality tidak hanya sekedar dimanfaatkan dalam dunia hiburan, pendidikan, dan penelitian. Virtual reality ini dapat diterapkan dalam gym, menjadi suatu kegiatan olahraga yang menyenangkan, menantang, dan adiktif. Gym yang dilakukan akan terasa seperti bermain games, seolah-olah berada di dunia penuh imajinasi, padahal secara tidak langsung mereka sudah membakar kalori saat aktif bergerak, sehingga membuat sehat dan bugar. Hal ini tentunya memberi pengalaman baru bagi generasi millennial yang bersifat suka mencoba sesuatu yang baru, mengikuti tren, dan teknologi. Sehingga munculah proyek Fasilitas Kebugaran dengan Pengalaman Gym Virtual. Tujuan proyek untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya sebagai salah satu cara pencegahan stress di tengah kesibukan tuntutan pekerjaan. Metode desain yang digunakan yaitu tipologi. Selain dalam hal gym, di proyek ini juga dilengkapi fasilitas penunjangnya, seperti food court yang menyediakan makanan-makanan sehat, area-area komunal untuk masyarakat bersosialisasi (jogging & bicycle track), dan untuk spa, relaksasi, hiburan, hingga retail.
EDU-AGRIKULTURAL DI CENGKARENG Abiel Kristianto; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4546

Abstract

The development of increasingly sophisticated internet technology makes the spread of information faster, this makes it easy for people to know many things, one of which is the danger of the "industrial food system" for climate and human health. Industrial food uses fossil fuels that are post-use harmful to our atmosphere and lack nutrition in industrial food. this made people aware, especially millenials, of consuming more organic food than baby boomers. The highest population in this era is millenials, it can be concluded that the demand for organic food will increase. This phenomenon opens opportunities for farmers and entrepreneurs to do business, but cities are growing and land for farming is also decreasing. Edu-Agriculture in Cengkareng is a place for farmers and millennial generation entrepreneurs to learn about agriculture both in production, technology / research, and learning about the business of the agricultural model itself. with the approach of paying attention to millennial characteristics and behavior for this case is a way of learning. so that it produces space programs that are in accordance with the characteristics and behavior of millenials. The presence of this project is expected that cities can continue to develop without having to disrupt the power of food production, urban farmers can maximize their production on limited land. entrepreneurs can maximize market potential in this field, and are expected to cultivate a "real food" system that is good for the environment, farmers and consumers.AbstrakPerkembangan teknologi internet semakin canggih membuat penyebaran informasi semakin cepat hal ini membuat orang mudah mengetahui banyak hal, salah satunya adalah  bahaya nya “industrial food system” bagi iklim maupun kesehatan manusia. Industrial food menggunakan bahan bakar fosil yang pasca penggunaannya berbahaya bagi atmosphere kita serta kurangnya gizi pada makanan industrial food. hal ini menyadarkan masyarakat khususnya millenials sehingga lebih banyak mengkonsumsi makanan organik ketimbang baby boomers. Populasi tertingi di jaman ini adalah millenials, dapat disimpulkan demand makanan organik akan semakin meningkat. Fenomena ini membuka peluang bagi para petani dan entrepreneur untuk berbisnis, namun kota semakin berkembang dan lahan untuk bercocok tanam semakin berkurang juga. oleh karena itu perlu adanya teknologi di bidang agrikultur seperti teknologi vertical farming, pencahayaan buatan, nutrisi, dan sebagainya  untuk mengatasi perluasan wilayah kota tanpa menggangu daya produksi pangan. dengan demikian diperlukan wadah untuk mengedukasi  petani/masyarakat yang mayoritasnya millenials untuk menangapi peluang tersebut. baik secara bisnis model maupun teknologi seputar agrikultural. Edu-Agrikultural di Cengkareng merupakan wadah bagi para petani dan para entrepreneur generasi millenial untuk belajar seputar perihal agrikultur baik secara produksi, teknolgi/riset, hingga pembelajaran mengenai bisnis model agrikultur itu sendiri. dengan pendekatan memperhatikan karakteristik dan tingkah laku millenial untuk kasus ini adalah cara belajar. sehinga menghasilkan program ruang yang sesuai dengan karakteristik dan tingkah laku millenials. Hadirnya proyek ini diharapkan kota dapat terus berkembang tanpa harus mengganggu daya produksi pangan, urban farmers dapat memaksimalkan hasil produksinya di lahan yang terbatas. para entrepreneur dapat memaksimalkan potensi pasar dibidang ini, serta diharapkan dapat membudayakan “real food” system yang baik bagi lingkungan, petani, serta konsumen.
HUNIAN CERDAS Malvin Ng; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4512

Abstract

At this time humans have a pattern of activities that prioritize all things instantaneously. Hard and Full Environmental Life. Because it fits their work, it makes time so valuable for all. Efficient in action is mandatory at this time. Decision making in any case becomes a responsibility that tries to be easy in doing activities. Even if the type of work area wants to be implemented instantly and the results are visible. Man is a creation that wants to know everything. Everything will never be satisfied. People must work to answer the big one. But many people choose their own instant way without knowing how to get around. Not only in work but the human lifestyle is preferred to look more innovative, creative, independent, and definitely instant. AbstrakPada saat ini manusia memilki suatu pola kegiatan yang mengutamakan serba instan. Kehidupan lingkungan keras dan penuh ambisi. Karena hal itu menurut mereka suatu pekerjaan keras itu yang membuat waktu begitu berharga buat semua nya. Efisien dalam bertindak merupakan tindakan yang wajib saat ini. Pemiihan keputusan dalam hal apapun menjadi pertanggung yang mencoba kegampangan dalam beraktivitas. Seagala macam bidang pekerjaan ingin di laksanakan dengan instan dan terlihat hasil nya.  Manusia adalah suatu ciptaan yang ingin mengetahui segala sesuatu nya. Segala sesuatu nya tak akan pernah puas. Manusia harus bekerja jawaban yg besar. Namun banyak orang yang memilih cara nya sendiri yang instan tanpa mengetahui dampak untuk sekitar nya. Bukan hanya dalam pekerjaan namun gaya hidup manusia lebih cenderung untuk terlihat lebih inovatif, kreatif, independent, dan pasti nya instan.