William William
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN METODE DESAIN HIBRID BANGUNAN LAMA DAN BARU DALAM PERANCANGAN BANGUNAN EDU-REKREATIF KISARAN William William
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4492

Abstract

The urban routine which is not in accordance with the value of millennials in terms of recreation and socialization makes the imbalance between the city of Kisaran and its millennial generation. Millennials feel that the value in the city barely develop. Therefore, the solution is created more positive relationship between the aspects of the city and millennials. According to the issue, the Edu-Recreative Space will be established with numbers of mass areas respectively while functioning to fulfill recreational and educational facilities that are not free from socializing. The building will be formed by Hybrid method and Adaptive Re-used of the former building of swallow’s house which is a symbol of the urban trail and aspects of the city. By Hybrid method, between used buildings and new buildings where, used buildings are rearranged effectively so that they become galleries and areas for socializing with a combination of light, material and flexible space typology forms likely according to millennial characters. While, new buildings derived from a combination of contextual sites, namely ecological elements around the site and the city will be designed based on circulation typologies, given that circulation is an important aspect in maximizing educational recreational experiences and producing programs such as ecological conservation areas, galleries and other recreational areas, where the final design of the buildings which will be injected locality theme, by the morphology of the swallow nest itself. The combination of mass forms and contextual programs produces a building with a different but harmonious concept to positively and symbolically change the current perspective of the city.AbstrakRutinitas keadaan perkotaan yang tidak sesuai dengan nilai kesejamanan millenial dalam hal rekreasi dan bersosialisasi menjadikan ketidak-seimbangan antara kota Kisaran dan generasi milenialnya. Generasi milenial merasa nilai kesejamanan di kota tidak berkembang. Oleh karena itu, solusinya adalah untuk menciptakan hubungan yang lebih positif antara aspek kota dan millenial. Dengan ini, Ruang Edu-rekreatif Kisaran didirikan dengan dibekali beberapa area massa yang masing-masing berfungsi untuk memenuhi sarana rekreatif dan edukatif yang tidak luput dari hal bersosialisasi. Bangunan dibentuk dengan metode hibrid dan sistem pemakaian kembali bangunan bekas rumah burung walet yang merupakan simbol jejak urban dan aspek kota. Dengan cara hibrid antara bangunan bekas dan bangunan  baru dimana, bangunan bekas ditata ulang secara efektif agar dijadikan galeri dan area untuk bersosialisasi dengan kombinasi antara cahaya, material dan bentuk tipologi ruang berundak fleksibel sesuai karakter milenial. Bangunan baru yang berasal dari kombinasi kontekstual tapak yaitu elemen ekologis sekitar tapak dan kota didesain berbasis tipologi sirkulasi, mengingat  sirkulasi merupakan salah satu aspek penting dalam memaksimalkan pengalaman yang rekreatif edukatif dan menghasilkan program seperti area konservasi ekologis, galeri dan area rekreatif lainnya dimana design akhir bangunan disuntikan lokalitas tema yaitu morfologi sarang walet itu sendiri. Kombinasi antara bentuk massa dan program yang kontekstual menghasilkan suatu bangunan dengan konsep yang berbeda namun harmonis agar secara positif dan simbolis mengubah pandangan kota saat ini.
KOMPLEKS RETRET KOTA DI KEMBANGAN William William; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4471

Abstract

Working routines and big assertion unconsciously have impacted to millennial’s mental issue, many of them did “hotel vacation” as a solution for self refreshment. Urban Retreat is a space for them to do a temporary retreat  in the refreshment process at urban scale. Urban Retreat is a buildings complex that divided into several masses with dis-orientation design application for not to present the order that commonly experienced by millennials, then it shows flexibility of circulation. Building Complex is designed to hide from urban system by urban forest integration and green barriers to be able to offer a unique atmosphere like not being in a city. Addition of water element into design as refrehing thing also for site’s micro temperature drop. Spaces are designed by phenomenology method, intend to provide a psychological effect on human through senses with the embodiment of architecture in the form of; lighting, shadow, material, texture, temperature, color, layer, and shape.AbstrakRutinitas pekerjaan serta tuntutan yang besar tanpa disadari telah berdampak akan kondisi mental generasi milenial, tak sedikit dari mereka melakukan “hotel vacation” sebagai solusi untuk penyegaran diri. Retret Kota merupakan sebuah wadah bagi mereka untuk menarik diri sementara dalam proses penyegaran kembali di skala urban. Retret Kota merupakan sebuah kompleks bangunan yang terbagi dari beberapa massa dengan penerapan dis-orientasi dalam desain untuk tidak menghadirkan runtutan yang biasa dialami oleh generasi milenial, sehingga adanya fleksibilitas dalam pergerakan didalamnya. Kompleks bangunan didesain bersembunyi dari sistem urban dengan integrasi hutan kota dan barier hijau agar mampu memberikan suasana berbeda seperti tidak berada di sebuah kota. Penambahan elemen air dalam desain sebagai elemen penyegaran serta penurunan suhu mikro tapak. Ruang – ruang didesain secara fenomenologi sebagai metode yang digunakan, bertujuan untuk mampu memberikan efek psikologis terhadap pengunjung melalui indera dengan perwujudan arsitektur berupa; cahaya, bayangan, material, tekstur, suhu, warna, lapisan ruang dan bentuk.