Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

METODE SPATIAL MACHINE ANTARA MENCIPTAKAN KONSERVASI KOMODO DAN MENJALIN KEMBALI SAUDARA SEDARAH LEGENDA PUTRI NAJO DI PULAU KOMODO Joshua Keefe; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12329

Abstract

Starting from a happy life where the human settlement and Komodo dragons live side by side. Generation to another generation, the people of Komodo village have believed in totemism from the legend of Princess Najo who gave birth to two male twins, one in the form of a human and one in the form of a Komodo dragon. At that time, humans shared their prey with the Komodo dragons. Now the Komodo village, whose life is in the tourism sector, will be allocated to another island by the government. When the Komodo people are restless, many dragons swim everywhere. There is a flesh and blood relationship between the Komodo dragon and humans. The residents balked and would rather die than have to move from the village which they called their "spilled blood". Plus the threat of a break in the Komodo dragon's food chain due to illegal poaching of Timor deer by illegal communities. The purpose of this research focuses on raising the nobility value of the Komodo village with the existence of the Komodo dragon due to the breaking of the traditional totemism chain and the scarcity of the Komodo dragon. This research uses a spatial machine method which aims to turn on the Komodo dragon's breathing space which is mutualized with the daily life of the village based on the legend of Putri Najo to its original locus in the past. The experience that the author shares is a thought in planning social systems and ecosystems on Komodo Island in response to "Beyond Ecology". A typology of conservation buildings that aims to protect, care for, breed where the Komodo dragon is not just an animal, but is a blood relative. Keywords: Komodo dragon; Putri Najo; Spatial Machine AbstrakBerawal dari kehidupan yang bahagia dimana perkampungan manusia dengan komodo hidup saling berdampingan. Secara turun-temurun, masyarakat desa Komodo memiliki kepercayaan totemisme dari kisah legenda Putri Najo yang melahirkan dua anak kembar laki-laki, yang satu berwujud manusia dan satu lagi berwujud komodo. Pada masa itu, manusia saling membagikan hasil buruannya kepada komodo. Sekarang kampung Komodo yang hidupnya pada sektor pariwisata akan dialokasikan ke pulau lain oleh pemerintah. Ketika orang Komodo gelisah, banyak komodo berenang kemana-mana. Terasa ada hubungan darah daging dan batin antara komodo dengan manusia. Warga menolak keras dan lebih baik mati daripada harus pindah dari desa yang mereka sebut ‘tumpah darah’ mereka. Ditambah ancaman putusnya rantai makanan komodo akibat perburuan liar rusa Timor oleh masyarakat ilegal. Tujuan dari penelitian ini berfokus dalam mengangkat nilai keluhuran desa Komodo dengan keberadaan komodo akibat putusnya rantai tradisi totemisme dan kelangkaan komodo. Penelitian ini menggunakan metode mesin keruangan bertujuan menghidupkan ruang nafas komodo yang bermutualisasi dengan keseharian desa diangkat dari kisah legenda Putri Najo ke lokus aslinya di masa lampau. Pengalaman yang penulis bagikan merupakan sebuah pemikiran perencanaan sistem sosial dan ekosistem di Pulau Komodo sebagai jawaban dari “Melampaui Ekologi”. Tipologi bangunan konservasi yang bertujuan melindungi, merawat, mengembangbiakkan dimana komodo bukan sekadar hewan, tetapi saudara sedarah.
BALI - PUSAT FASHION NUSANTARA : MERUANGKAN WARISAN BUDAYA SEBAGAI SLOW FASHION Felix Suanto; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12372

Abstract

Clothing or Fashion is a part of 3 primary human needs which are a requirement for survival. Initially, clothing is an object that is produced to fulfill a human need; produced in a sustainable, eco-friendly, ethical, and green manner. And this phenomenon is called Slow Fashion. But along with the development of the world regarding speed and acceleration (Dromology), in the world of fashion a new phenomenon arises, namely Fast Fashion. Fast Fashion, a mass production of disposable clothes with low prices and quality. This phenomenon changes consumerism in the fashion industry, where at low prices, consumers can keep abreast of trends and buy clothes for just a hobby. And as a result, these two phenomenon develop mutually and have a big impact on the condition of our ecosystem now; ranging from water pollution resulting from production waste, consumption of clean water in very large quantities, the accumulation of waste from old clothes, to deforestation to plant cotton trees. With the benefits and convenience that consumers get from Fast Fashion, the bad effects are ignored. Slow Fashion is not even an option anymore for people who have been influenced by fashion consumerism. As a result, Slow Fashion is increasingly being abandoned, and one of the products from Slow Fashion is; Nusantara Fashion. Then it takes the handling of an unhealthy fashion culture by taking a local approach, lifting cultural heritage values, so as to create a healthy fashion culture in the future. Keywords:  fashion; slow fashion; fast fashion; culture AbstrakPakaian atau Fashion merupakan sebuah bagian dari 3 kebutuhan primer manusia yang merupakan sebuah syarat untuk bertahan hidup. Pada awalnya, pakaian merupakan sebuah objek yang diproduksi untuk memenuhi sebuah kebutuhan manusia; diproduksi secara sustainable, eco-friendly, ethical, dan green. Dan fenomena tersebut dinamakan Slow Fashion. Tetapi seiring perkembangan dunia tentang kecepatan dan percepatan (Dromologi), pada dunia fashion timbul fenomena baru, yakni Fast Fashion. Fast Fashion, sebuah produksi massal pakaian dengan harga murah dan kualitas sekali pakai. Fenomena ini mengubah consumerism dalam fashion industry, dimana dengan harga yang murah, konsumen dapat terus mengikuti perkembangan tren, serta membeli pakaian untuk hanya sekedar hobi. Dan hasilnya, kedua fenomena itu saling berkembang secara mutual dan memberikan dampak besar terhadap kondisi ekosistem kita sekarang; mulai dari polusi air yang dihasilkan dari limbah produksi, konsumsi air bersih dalam jumlah yang sangat besar, akumulasi limbah pakaian yang sudah tidak terpakai, hingga deforestasi untuk menanam pohon kapas. Dengan benefit dan kenyamanan yang didapatkan konsumen pada Fast Fashion, dampak buruknya menjadi tidak dipedulikan. Slow Fashion bahkan bukan pilihan lagi bagi masyarakat yang sudah terpengaruh dengan fashion consumerism. Akibatnya Slow Fashion makin ditinggalkan, dan salah satu produk dari Slow Fashion adalah;  Fashion Nusantara.  Lantas dibutuhkan penanganan terhadap budaya fashion yang tidak sehat dengan mengambil pendekatan lokal, mengangkat nilai warisan budaya, sehingga tercipta budaya fashion yang sehat pada masa depan.