Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

THE ANALYSIS OF ELVIRA EV-1 CHASSIS MECHANICAL PERFORMANCE WITH VARIOUS BEAM CROSS-SECTION Wijianti, Eka Sari; Sarwono, Agus; Ariksa, Jeri; Saparin, Saparin; Adib, Adam Zuyyinal
Machine : Jurnal Teknik Mesin Vol 11 No 1 (2025): Machine : Jurnal Teknik Mesin
Publisher : Jurusan Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknik Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jm.v11i1.6413

Abstract

Elvira EV-1, as an electric vehicle (EVs) has become one of the latest developments that contributes to achieving sustainable and reliable transportation. These EVs were built to serve as a relevant solution for campus operational mobility. However, at the core of its framework system, Elvira EV-1 still uses a ladder-type chassis, which is inferior to other types of chassis in terms of torsional rigidity. Therefore, to enhance its mechanical performance, this study determined the best option of beam cross-section for the Elvira EV-1 chassis. There were three types of the selected beam section, namely rectangular, I-beam, and C-channel. The mechanical performance of each type of chassis was examined using the Frame Analysis module provided by Autodesk Inventor. The results show that the rectangular chassis experienced the highest bending stress of the other types of chassis due to its low moment of inertia, which is almost 26.27% higher. Nonetheless, with the same setup, the shear stress that occurred at the C-channel type of chassis was greater than its material. The chassis would fail under the load subjected to it. Similarly, I-beam chassis has the maximum torsional stress greater than the yield strength of the material due to low torsional rigidity. In addition, the mass of the chassis with rectangular section provided a more lightweight structure, about 36,92% lower than the other type of chassis. According to these findings, it can be concluded that the chassis with a rectangular section has promising performance to be an option as the Elvira EV-1 chassis.
Peningkatan Layanan Institusi Pemadam Kebakaran Melalui Penerapan Rencana Induk Kebakaran (RIK) Studi Kasus : Kota Pontianak Kalimantan Barat Sarwono, Agus
Jurnal Permukiman Vol 6 No 2 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.58-66

Abstract

Rencana Induk Kebakaran (RIK) merupakan acuan yang digunakan untuk kurun waktu 5 - 10 tahun ke depan sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) yang berlaku. Bagaimana Model RIK yang yang tepat untuk Kota Pontianak terkait dengan upaya peningkatan kemampuan Institusi Pemadam Kebakaran Kota Pontianak dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran akan dikaji dalam tulisan ini. Kemampuan institusi kebakaran untuk merespon secara memadai panggilan kebakaran jamak dan serentak terkendala oleh peningkatan kapasitas a ntara lain tidak dimungkinkannya mutual aid dan automatic aid karena pos, mobil dan personil kebakaran yang terbatas. Kajian sesuai metode Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) untuk Kota Pontianak mempunyai tingkat resiko kebakaran yang tinggi dikarenakan berlahan gambut dan berada di garis khatulistiwa dengan luas wilayah 107,82 km2 dan berpenduduk 482.622 jiwa, dengan kebutuhan ideal pelayanan Institusi Pemadam Kebakaran adalah 1.200 personil, 50 unit mobil pemadam, 17 pos pemadam kebakaran dan berdasarkan kondisi batas alami Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Kota Pontianak dibagi dalam 4 zona
Kriteria Kelayakan Penerapan Fire Safety Management (FSM) pada Bangunan Gedung dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sarwono, Agus
Jurnal Permukiman Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.1-8

Abstract

Fire Safety Management (FSM) telah menjadi bagian persyaratan penting yang harus dipenuhi dalam menciptakan bangunan yang handal sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Sebagaimana ditetapkan dalam Kepmeneg PU No. 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan, bahwa setiap bangunan dengan luas lantai minimal 5000 m2, jumlah penghuni 500 orang dan ketinggian lebih dari 8 lantai wajib menerapkan FSM. Penetapan atas penerapan FSM tersebut tidak dapat hanya dibatasi kriteria diatas, namun harus didasarkan pula pada tingkat resiko atau potensi terhadap bahaya kebakaran. Terdapat 3 faktor utama yang menjadi penyebab kebakaran yaitu faktor manusia (human factor), faktor pertumbuhan api (fire factor) dan faktor penyulutan (ignition factor). Sehingga dalam implementasinya, penerapan FSM tersebut memiliki suatu kriteria yang jelas berdasarkan tingkat resikonya (Risk -Based Methodology) agar layak untuk suatu bangunan tertentu terutama yang diperkirakan mempunyai tingkat resiko yang tinggi seperti bangunan perkantoran, rumah sakit dan bangunan pelayanan umum lainnya