Sutarki Sutisna
Program Studi Sarjana Arsitektur, Universitas Tarumanagara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SEMERBAK HARUM SANG KUSUMA: WADAH PELESTARIAN SENI DAN BUDAYA SUKU TENGGER DI PUNCAK BROMO Junita Delphin; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12290

Abstract

The Tengger tribe is an indigenous tribe that lives in the area around Mount Bromo, bound by culture and tradition. The Tengger tribe have a belief that Mount Bromo is the place where the gods and their ancestors live, so this belief becomes their guide in protecting and respecting the nature around Mount Bromo. However, with the challenges of globalization that continue to advance and Mount Bromo has become a tourist destination, the indigenous culture and traditions of the Tengger tribe are increasingly affected by modernization and are slowly fading away. It is feared that this cultural fading will reduce the spirit of the Tengger tribe in protecting and respecting nature which is the cores in their culture. The method used in the application of several steps such as location data, site analysis, program analysis, design concept and methods, to produce new ideas in answering the problems faced by the Tengger tribe. The conclusion is a place for art and culture preservation to maintain traditional culture as well as respond to the challenges of modernization through the use of technology to achieve harmony between the two cultures for the Tengger tribe, especially for the future generations. With a Critical Regionalism approach and the application of the Kidung Tengger peom which was translated into six schemes and combined with elements of Majapahit architecture by strengthening natural elements such as sun, water, flower, fog, rain, and mountain rocks. The program related to the characteristics of the Tengger tribe such as sarong crafts, Edelweis flower garden, platforms, bathhouse, and Tengger tribe memory room are also presented.Keywords: Critical Regionalism; Cultural Preservation; Mount Bromo; Tengger Tribe AbstrakSuku Tengger merupakan suku asli  yang tinggal di area sekitar Gunung Bromo yang juga terikat secara budaya dan tradisi. Suku Tengger memiliki kepercayaan bahwa Gunung Bromo adalah tempat para dewa dan leluhur mereka tinggal sehingga kepercayaan ini yang menjadi pedoman mereka dalam menjaga dan menghormati alam sekitar Gunung bromo. Namun dengan adanya tantangan globalisasi yang terus maju dan adanya wisatawan yang terus berdatangan setelah Gunung Bromo dijadikan destinasi wisata, budaya dan tradisi asli Suku Tengger semakin terpengaruh modernisasi dan perlahan-lahan mulai luntur. Lunturnya budaya ini dikhawatirkan akan menurunkan semangat Suku Tengger dalam menjaga dan menghormati alam yang menjadi pedoman dalam budaya mereka. Metode yang digunakan adalah dengan penerapan beberapa langkah seperti data lokasi, analisis tapak, analisis program, serta konsep dan metode desain untuk menghasilkan gagasan baru dalam menjawab persoalan yang dihadapi Suku Tengger. Kesimpulan berupa wadah pelestarian seni dan budaya dengan tujuan untuk mempertahankan budaya tradisional sekaligus menjawab tantangan modernisasi melalui pemakaian teknologi sehingga tercapai keharmonisan antar kedua budaya untuk Suku Tengger khususnya untuk generasi muda dan membentuk suatu ekologi yang seimbang.  Dengan pendekatan Regionalisme Kritis dan penerapan puisi Kidung Tengger yang diterjemahkan kedalam enam skema, dihasilkan arsitektur dengan unsur arsitektur Majapahit dan didukung dengan unsur alam seperti matahari, air, bunga, kabut, hujan, serta bebatuan pegunungan. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ciri khas Suku Tengger seperti kerajinan sarung, taman bunga Edelweis, plataran, pemadian air panas, dan ruang memori Suku Tengger juga dihadirkan.