Kadek Ratih Dwi Oktarini
Politeknik Negeri Bali

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

INDONESIAN-BALINESE MULTI-PARTY CASUAL CONVERSATION: INDEXING EPISTEMIC AUTHORITY THROUGH QUESTION AND ANSWER SEQUENCE Kadek Ratih Dwi Oktarini
Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 7 No 3 (2017): November 2017
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.988 KB) | DOI: 10.31940/soshum.v7i3.710

Abstract

Secara umum pertanyaan digambarkan sebagai jenis kalimat yang meminta informasi dari seseorang yang dianggap sebagai pihak yang tahu (K+) oleh pihak lain yang tidak tahu (K-) " (Stivers, 2010). Dalam hal status pengetahuan, untaian percakapan pertanyaan dan jawaban dapat secara tidak langsung menunjukkan status keilmuan dari peserta percakapan, orang yang memberi pertanyaan dianggap sebagai orang yang tidak tahu (K-) sedangkan orang yang menjawab dianggap sebagai orang yang tahu (K+). Makalah ini menyajikan sebuah studi terperinci dan mendalam tentang percakapan multi- partai di antara teman-teman, dalam bahasa Indonesia-Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif Analisa Percakapan atau Conversation Analysis (CA). Metode Analisa Percakapan menggunakan percakapan yang terjadi secara alami sebagai datanya dan memperhatikan rincian percakapan secara mendetail dalam interaksi. Makalah ini menyajikan bagaimana peserta menunjukkan dan mengklaim otoritas atas kepemilikan pengetahuan (epistemic) mereka dalam untaian percakapan tanya jawab, yang kebetulan saling terkait dengan urutan lain, yaitu menggoda. Seorang peserta mengutarakan sebuah pertanyaan kepada seorang peserta lain. Pertanyaan ini dapat juga dijawab oleh peserta lainnya karena mereka bekerja di bidang yang sama (ilmuwan). Terungkap bahwa dalam untaian percakapan tanya jawab, peserta berpedoman kepada status epistemik mereka yang sifatnya relative antara satu sama lain. Peserta yang memiliki status epistemik dan otoritas tertinggi menjalankan wewenang dan klaim epistemiknya dengan mengabaikan jawaban dari peserta yang sekiranya memiliki peringkat epistemik lebih rendah dari dirinya.