Robert J. Schreiter
Catholic Theological Union, Bernardine Center Vatican Council II, Chair in Theology, Chicago

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A NEW MODERNITY: Living and Believing in an Unstable World Schreiter, Robert J.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.866 KB) | DOI: 10.26593/mel.v21i2.1021.143-187

Abstract

Dalam situasi tak stabil saat ini konsep postmodernitas dan multikulturalisme tak lagi banyak berguna. Pluralitas dan fragmentasi hanya menarik saat kondisi sosial stabil dan aman, saat keragaman kultural tampil sebagai aneka pilihan. Yang dibutuhkan kini adalah rasa keutuhan baru. Namun berbagai jalur pencarian keutuhan saat ini macam fundamentalisme, romantisisme, universalisme dan "splitting" ternyata juga tak cukup realistis menghadapi kompleksitas tuntutan jaman.Artikel ini mengusulkan konsep "modernitas baru", yang mengandung prinsip reflektivitas, kesadaran atas kaburnya batas-batas, kemampuan menerima hibriditas, dan orientasi kosmopolitan. Berdasarkan itu diusulkanlah konsep kekatolikan baru, yakni kekatolikan yang kosmopolitan dan tidak etnosentris; mengandung keutuhan iman yangmenampilkan kepenuhan kemanusiaan dan mempromosikan rekonsiliasi; serta mampu menciptakan masyarakat komunikasi yang mengelola kompleksitas dunia manusia secara lebih konstruktif.
A NEW MODERNITY: Living and Believing in an Unstable World Schreiter, Robert J.
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v21i2.1021.143-187

Abstract

Dalam situasi tak stabil saat ini konsep postmodernitas dan multikulturalisme tak lagi banyak berguna. Pluralitas dan fragmentasi hanya menarik saat kondisi sosial stabil dan aman, saat keragaman kultural tampil sebagai aneka pilihan. Yang dibutuhkan kini adalah rasa keutuhan baru. Namun berbagai jalur pencarian keutuhan saat ini macam fundamentalisme, romantisisme, universalisme dan "splitting" ternyata juga tak cukup realistis menghadapi kompleksitas tuntutan jaman.Artikel ini mengusulkan konsep "modernitas baru", yang mengandung prinsip reflektivitas, kesadaran atas kaburnya batas-batas, kemampuan menerima hibriditas, dan orientasi kosmopolitan. Berdasarkan itu diusulkanlah konsep kekatolikan baru, yakni kekatolikan yang kosmopolitan dan tidak etnosentris; mengandung keutuhan iman yangmenampilkan kepenuhan kemanusiaan dan mempromosikan rekonsiliasi; serta mampu menciptakan masyarakat komunikasi yang mengelola kompleksitas dunia manusia secara lebih konstruktif.