Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN KETEPATAN TERMINOLOGI MEDIS DENGAN KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS PENYAKIT SISTEM GENITOURINARY Linda Widyaningrum
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan Vol 4, No 1 (2021): JMIAK
Publisher : Program Studi Perekam Medis & Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v4i1.1724

Abstract

Pelaksanakan pengkodean yang dilakukan seorang coder membutuhkan informasi yang lengkap, salah satu sumber informasi bagi coder adalah informasi yang tercatat di dalam formulir termasuk penulisan terminologi medis. Kasus genitourinary merupakan kategori penyakit tidak menular, penyakit tidak menular di Indonesia menjadi salah satu isu kesehatan prioritas Kemenkes.penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan metode retrospektif, pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara, teknik sampling yaitu sampling quota dengan jumlah populasi 466 dokumen dan didapat 100 sampel.Hasil  pembahasan menunjukkan terdapat hubungan antara ketepatan penulisan terminologi medis terhadap keakuratan kode diagnosis utama dengan persentase ketidaktepatan yaitu 48% disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan terminologi medis pada ICD-10, penggunaan Bahasa Indonesia serta penggunaan singkatan yang tidak sesuai dengan buku singkatan dan ICD-10. Sedangkan persentase ketidakakuratan yaitu 47% yang disebabkan oleh tulisan dokter yang tidak terbaca dan keterbatasan ilmu pengetahuan coder. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 25.0 sehingga dapat diketahui p=0,003, berdasarkan hasil tersebut maka p<0,05.Kesimpulan  dari dua variabel diatas yaitu bahwa terdapat hubungan antara ketepatan penulisan terminologi medis tehadap keakuratan kode diagnosis utama pada kasus sistem genitourinary  Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya petugas coding memperbarui ilmu dengan mengikuti pelatihan dan lebih teliti lagi dalam mengkode diagnosis, dokter dalam menuliskan diagnosis lebih jelas dan konsisten sehingga memudahkan coder dalam melakukan pengkodean.
Kelengkapan Informasi Medis sebagai Determinana Keakuratan Pengodean Fracture Femur Linda Widyaningrum; Aditya Kurniawan Aditya Kurniawan
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 8 No. 2 (2025): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v8i2.7785

Abstract

Kelengkapan informasi dalam dokumen rekam medis merupakan faktor penting dalam menjamin keakuratan pengodean diagnosis dan external cause, khususnya pada kasus ortopedi yang membutuhkan data klinis rinci serta dokumentasi mekanisme cedera yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelengkapan informasi medis dan keakuratan pengodean kasus fraktur leher femur dan external cause. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 102 dokumen rekam medis pasien rawat inap yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan daftar tilik observasi dan pedoman pengodean ICD-10, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,25% dokumen rekam medis tergolong lengkap, sedangkan 85,37% pengodean diagnosis dan external cause dinilai akurat. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kelengkapan informasi medis dan keakuratan pengodean (p = 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa ketidaklengkapan informasi medis meningkatkan risiko kesalahan pengodean, khususnya pada kode external cause yang memerlukan dokumentasi rinci mengenai kondisi terjadinya cedera. Oleh karena itu, peningkatan kepatuhan dalam pengisian rekam medis serta penerapan daftar tilik terstruktur sangat direkomendasikan untuk meningkatkan mutu data rumah sakit.
Evaluation of the Quality of Diagnosis Coding for Pediatric Cases in Inpatient Medical Records Linda Widyaningrum
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan (Health Information Management) Vol. 9 No. 2 (2024): Health Information and Management
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jmis.v9i2.598

Abstract

Diagnosis codes are used for policy-making and determining healthcare costs, so they must be of high quality. Therefore, evaluation of diagnosis codes is necessary. The evaluation includes consistency (reliability), accuracy (validity), completeness, and timeliness. This study aimed to evaluate the quality of diagnosis coding for pediatric cases in inpatient medical records at Bagas Waras Regional General Hospital, Klaten, in 2023. This was a descriptive study with a retrospective approach. The sample used was 95 pediatric medical records, using a simple random sampling technique. The research instruments were ICD-10, observation guidelines, and interviews. Data processing involved collecting, editing, classifying, tabulating, and presenting data. Data analysis was descriptive. The quality of diagnosis codes can be seen from indicators such as code consistency (97.89%) and inconsistency (2.11%). Code accuracy (91.57%) and inaccuracy (8.43%). The code completeness was 96.84% and the code incompleteness was 3.16%. The code timeliness was 98.94% and the code inaccuracy was 1.06%. The diagnosis accuracy with examination and action was 100%. Factors that influence the quality of diagnosis codes are medical personnel (doctors), medical records personnel (coders), and other health workers. The author recommends establishing regulations regarding time limits for coding diagnoses and actions. Hospitals should hold training or seminars on coding more regularly to improve the skills and knowledge of coding staff and support code quality.