Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Upacara Seren Taon Sebuah Manifestasi Religiositas Masyarakat Sekitar Kuningan Jawa Barat Selu Margaretha Kushendrawati
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v20i02.549

Abstract

Sèrèn Taon merupakan sebuah fenomen religius yang dinyatakan melaluiupaca khas masyarakat Sunda yakni ucapan terima kasih kepada Tuhan yang telahmemberi panen melimpah. Masyarakat percaya bahwa panen yang baik datang dariTuhan namun Tuhan yang dimaksud bukanlah Tuhan yang diajarkan dalam Kitab-Kitab Suci. Tuhan bagi mereka adalah pemberi hasil panen dan Tuhan yang merekaalami dalam kehidupan sehari-hari dalam tradisi mereka. Sèrèn Taon merupakansebuah ungkapan identitas komunitas yang dapat ditingkatkan menjadi identitasnasional berdasarkan kesadaran religius yang hidupa dalam masyarakat dan budayabangsa. Sèrèn Taon sesungguhnya adalah ajaran etika daripada doktrin agama yangmengajak para pengikutnya untuk peduli pada masalah kemanusiaan menurutkeyakinan komunitas bahwa kebaikan yang Tuhan itu nyata sebagaimana yang dialamidalam kehidupan sehar-hari hidup sebagai masyarakat sebuah bangsa. Sèrèn Taon is a religious phenemenon shown through a Sundanese ritualof thanks-giving to God who provides abundant harvests to men. People believe thatgood harvests come from God but it is not the God of the Holy Qur’an or the God ofthe Bible. It is the God of the believers who live their everyday life as they believe in thetradition of their community. Sèrèn Taon is an expression of community identity andcan be developed into a national identity whose members are responsible to developthe nation based on natural relgion and national culture. Sèrèn Taon is mainly an ethicsrather than relgion which attracts its members to respect humanity on the basis of communitynotion of the good as it is expressed in everyday life of the people of a nation.
Bhagavad-Gita: Dialog Krishna - Arjuna (Sebuah Roman Epik di Dalam Kitab Mahabharata) Selu Margaretha Kushendrawati
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.754

Abstract

Bhagavad-Gita yang biasa disingkat Gita berarti “Nyanyian Ilahi”. Gita adalah kitab suci Hindu yang terdiri atas 700 bait serta merupakan bagian dari roman epik Mahabharata. Gita yang ditulis pada abad ke-5 SM setelah penerbitan Upanishad ditulis dalam bentuk naratif dan berisi dialog antara seorang pangeran Pandawa yang bernama Arjuna dan pemandunya Krishna yang merupakan dewaraja. Menghadapi tugas untuk membunuh saudara-saudaranya, Arjuna dinasihati Krishna agar memenuhi kesatriaannya sebagai prajurit dan membunuh. Kesatriaan dan kepahlawanan dilukiskan dalam bentuk dialog antara sikap yang berbeda-beda tentang metode mencapai pembebasan (moksha). Bhagavagita merupakan sintesis tentang konsep Brahmana tentang dharma, bhakti ilahi, dan moksha melalui karma.