Ibrahim Ibrahim
Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SINERGI AKAL DAN WAHYU DALAM FILSAFAT PERIPATETISME ISLAM Ibrahim Ibrahim
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v2i1.3465

Abstract

Persentuhan cendekiawan muslim dengan pemikiran filosof Yunani merupakan salah satu hal yang melatari elaborasi antara pemikiran filosof Yunani dengan pemikiran filosof muslim yang tergolong dalam aliran peripatetisme. Sinergi akal dan wahyu dalam pandanga filsafat peripatetisme menggambarkan bahwa antara akal dan wahyu bagaikan saudara kembar yang saling membutuhkan, akal membutuhkan wahyu sebagai kendali dari kesesatan berfikir. Sebaliknya wahyu membutuhkan akal untuk mengkaji nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Allah Swt. Aliran peripatetisme Islam merupakan sebuah aliran filsafat dalam Islam yang banyak diilhami oleh pemikiran Aristoteles, baik secara epistemologi maupun ontologi. A1iran ini pertama kali diformulasikan oleh al-Farabi dan mencapai puncak kesempunaan pada masa Ibn Sina. Epistemologi peripatetis Islam menerapkan metodologi yang sifatnya diskursif dan rasional dalam mencari solusi menghadapi persoalan-persoalan filsafat. Secara ontologi, paripatetisme Islam menggambarkan bahwa esensi wujud terdiri atas: (1) Alam yang beraneka ragam ini diciptakan oleh Allah Swt. Secara emanasi dengan perantaraan akal, yaitu dari akal pertama sampai akal ke sepuluh; (2) Segala wujud di alam semesta terdiri atas materi dan bentuk. Materi bereksistensi apabila telah diberi bentuk oleh akal faal. Teori emanasi menggarnbarkan proses penciptaan alam yang beraneka ragam ini lahir dan yang Maha Esa. Teori ini menunjukkan pula bahwa Allah Yang Maha Tinggi adalah "wajibul wujud bizatihiā€, sedangkan alam adalah mumkinul wujud gaeri lizatihi.