Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA DISFAGIA Pandaleke, Jenny J. C.; Sengkey, Lidwina S.; Angliadi, Engeline
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6321

Abstract

Abstract: Dysphagia is a common symptom in clinical pratice, suffered by all age groups, and associated with multiple systemic disorders, inter alia: diabetes mellitus, hyperthyroidism, lupus erythematosus, dermatomyositis, stroke, as well as Parkinson’s and Alzheimer’s diseases. The diagnosis of dysphagia is based on anamnesis, physical examination (including examination of the patient during eating or drinking), and supporting examination, such as videofluorographic swallowing study (VFSS) and fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES). The management of dysphagia in the medical rehabilitation field requires a teamwork consisting of a physical therapist, a speech therapist, an occupational therapist, rehabilitation nurses, as well as a nutritionist and several other specialists. The occurence of dysphagia is closely connected with malnutrition, dehydration, respiratory tract infections, duration of hospitalization, and even death. Therefore, early diagnosis and treatment are very important in the management of dysphagia.Keywords: dysphagia, rehabilitationAbstrak: Disfagia sering ditemukan dalam praktek klinik, dan bisa diderita oleh semua kelompok usia dan berhubungan dengan multiple systemic disorders, antara lain diabetes melitus, hipertiroidisme, lupus eritematosus, dermatomiositis, stroke, serta penyakit Parkinson dan Alzheimer. Diagnosis disfagia ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik (termasuk pemeriksaan saat penderita makan atau minum), dan pemeriksaan penunjang seperti videofluroskopi dan fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES). Penanganan dalam bidang rehabilitasi medik membutuhkan kerjasama tim yang terdiri dari seorang dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, ahli terapi bicara, ahli terapi okupasi, perawat rehabilitasi, dan juga membutuhkan kerjasama dengan seorang ahli gizi dan beberapa bidang spesialisasi yang lain. Disfagia sangat berhubungan dengan terjadinya malnutrisi, infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, bertambahnya jumlah hari rawat, dan bahkan kematian. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan dini sangat dibutuhkan dalam penatalaksanaan disfagia.Kata kunci: disfagia, rehabilitasi
HUBUNGAN POSISI DAN LAMA DUDUK DENGAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (NPB) MEKANIK KRONIK PADA KARYAWAN BANK Pirade, Aron; Angliadi, Engeline; Sengkey, Lidwina S.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2628

Abstract

Abstract: Low Back Pain (LBP) is the most frequent musculosceletal issue found in daily work. Extenuating physical positions comprise 80-85% of the caues of  LBP. In the medical world, a lot of causes of LBP do not identify the pathoanatomical disorders. These factors are e.g.: body in static position while working and the working body position leaning heavily on the vertebra (for example: sitting in a hunched position, sitting upright without back support, or working for unsually long periods of time). Until now in Manado no study has been carried out to show the correlation between LBP and the sitting position, or the duration of work. This study aimed to find out the correlation between chronic LBP and the sitting position or the duration of work among bank employees in one of the goverment banks in Manado. The results showed that there were 69 respondents involved in this study. Chronic LBP was found in 62 respondents (90%). Up stright position while sitting was the most frequent position that caused chronic LBP in 28 respondents. The average time used for working with sitting position was 7-8 hours which caused chronic LBP among 31 respondents of the group with the work time from 11.00-13.59. A P-value of 0.000 (<0.05) showed that there was a strong correlation between sitting position and chronic LBP. Duration of work also showed a strong correlation with chronic LBP with a P-value of 0.000. Conclusion: There were strong correlations beween chronic low back pain with sitting position while working and duration of work. Keywords: chronic LBP chronic, sitting position, duration of work, bank employees.   Abstrak:Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan gangguan muskuloskeletal yang paling sering dijumpai dalam aktivitas kerja. Faktor mekanik mencakup 80-85% dari keseluruhan penyebaNPB. Patoanatomi sering tidak dapat memberikan ketepatan diagnosis NPB oleh proses mekanik. Faktor mekanik yang mempercepat terjadinya gangguan NPB antara lain posisi badan yang cenderung statis, posisi badan yang cenderung memperberat kerja tulang-tulang vertebra seperti posisi badan membungkuk, tegak tanpa sandaran, dan waktu bekerja yang lama saat duduk. Hubungan NPB dengan posisi dan lama duduk belum pernah dilaporkan di Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan posisi dan lama duduk saat bekerja yang dapat menimbulkan NPB mekanik kronik pada karyawan bank. Hasil penelitian memperlihatkan dari keseluruhan responden yang berjumlah 69 orang, didapatkan 62 responden (90%) yang mengalami NPB mekanik kronik. Posisi duduk tegak tanpa sandaran merupakan posisi terbanyak menimbulkan NPB mekanik kronik pada 28 responden. Rata-rata lama duduk bekerja 7-8 jam menyebabkan NPB pada kelompok pukul 11.00-13.59 sebanyak 31 responden. Analisis statistik menggunakan uji chi-square memperlihatkan adanya korelasi yang kuat (P = 0,000) antara posisi duduk dan NBP mekanik kronik Lama duduk juga berkorelasi kuat dengan NBP mekanik kronik (P = 0,000). Simpulan: Terdapat hubungan yang kuat antara NBP mekanik kronik dengan posisi dan lama duduk pada karyawan bank. Kata kunci: NPB mekanik kronik, posisi duduk, lama duduk, karyawan bank.
Pengaruh latihan core-strengthening terhadap stabilitas trunkus dan keseimbangan pasien pasca stroke Wowiling, Paulina E.; Sengkey, Lidwina S.; Lolombulan, Julius H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 1 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.1.2016.12334

Abstract

Abstract: This study aimed to analyze whether core-strengthening exercise could correct trunk stability and increase balance in post stroke patients. This was an experimental study with a pretest – posttest group design. Subjects were trained to perform the core strengthening exercise for 12 sessions. The trunk stability was evaluated with trunk impairment scale (TIS) and the balance was evaluated with Berg balance scale (BBS) and timed up and go test (TUG). Data were analyzed with the paired T-test and the Wilcoxon test. The results showed that there were 23 subjects that met the inclusion criteria. Of the 23 subjects, only 19 subjects completed the 12 sessions of exercise. The statistical analysis showed that there were significant increases of TIS (P <0.0001), BBS (P <0.0001), and TUG (P <0.0001) after the whole exercise. Conclusion: Core-strengthening exercise improved trunk stability as wel as static and dynamic balance in post stroke patients.Keywords: core-strengthening exercise, trunk stability, static and dynamic balanceAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana latihan core-strengthening memperbaiki stabilitas trunkus dan meningkatkan keseimbangan pada pasien pascastroke. Jenis penelitian ini ialah eksperimental dengan pretest–posttest group design. Subjek penelitian ialah 23 pasien pasca stroke yang memenuhi kriteria inklusi. Perlakuan yang diberikan ialah latihan core-strengthening sebanyak12 sesi. Penilaian stabilitas trunkus menggunakan trunk impairment scale (TIS) sedangkan keseimbangan diukur dengan Berg balance scale (BBS) dan timed up and go test (TUG). Data dianalisis menggunakan uji T berpasangan dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian memperlihatkan dari 23 subjek penelitian hanya 19 yang menyelesaian 12 sesi latihan, Analisis statistik menunjukkan bahwa setelah dilakukan latihan penguatan trunkus sebanyak 12 sesi didapatkan peningkatan bermakna dari TIS (P <0,0001), BBS (P <0,0001), dan TUG (P <0,0001). Simpulan: Latihan core-strengthening dapat memperbaiki stabilitas trunkus serta keseimbangan statik dan dinamik pada pasien pasca stroke.Kata kunci: Latihan core-strengthening, stabilitas trunkus, keseimbangan statik dan dinamik
MIRROR THERAPY IN STROKE REHABILITATION Sengkey, Lidwina S.; Pandeiroth, Paola
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5548

Abstract

Abstract: Paralysis in stroke is mainly caused by damage of any kind in internal capsule. Recovering of these damages require neuroplasticity which involves parts of the brain survivors. One kind of therapies that has some beneficial effects on neuroplasticity is mirror therapy. This therapy is used to improve motor function after stroke. Mirror therapy is easy to set up and requires very little training without taxing the patient. Data obtained from several studies show that besides it is simple and cheap, this mirror therapy might have a significant effect on motor function and improve activities of daily living as an adjunct to the rehabilitation for stroke patients. This review aims to demonstrate the benefits of mirror therapy in stroke rehabilitation. Keywords: exercise therapy, mirror therapy, rehabilitation, stroke   Abstrak: Paralisis pada stroke terutama terjadi karena kerusakan di kapsula interna. Kerusakan ini memerlukan neuroplastisitas yang melibatkan sejumlah bagian otak yang selamat untuk memulihkannya. Salah satu terapi yang bermanfaat terhadap neuroplastisitas yaitu terapi cermin. Terapi ini digunakan untuk memperbaiki fungsi motorik pasca stroke. Terapi cermin mudah dilakukan dan hanya membutuhkan latihan yang sangat singkat tanpa membebani pasien. Data yang diperoleh dari beberapa penelitian memperlihatkan bahwa terapi cermin merupakan terapi yang sederhana, murah, dan efektif dalam memperbaiki fungsi motorik (baik ekstremitas atas maupun bawah) dan aktivitas kehidupan sehari-hari, sebagai tambahan untuk rehabilitasi yang umumnya dilakukan pada pasien dengan stroke. Telaah ini bertujuan untuk menunjukkan keuntungan terapi cermin pada rehabilitasi stroke. Kata kunci: terapi latihan, terapi cermin, rehabilitasi, stroke
Pengaruh transfer of motor skill learning dari tangan sehat terhadap peningkatan fungsional tangan paresis pasien stroke subakut ., Elina; Sengkey, Lidwina S.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 8, No 1 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.1.2016.12333

Abstract

Abstract: This study aimed to demonstrate the effect of transfer of motor skill learning from healthy hand on increasing functional paretic’s hand of stroke patient. This was a descriptive study conducted at the Instalation of Medical Rehabilitation, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 26 patients of subacute stroke that fulfilled the inclusion criteria. All subjects were trained for 6 weeks and then were evaluated with nine hole peg test dan Sollerman hand function test. The results showed that of the 26 patients, 15 (57.7%) were males. The highest percentages were as follows: mean of age was 57.58 years old (38.5%), onset of stroke was less than 10 weeks (65.4%), and nonhaemorrhagic stroke (88.5%). The Wilcoxon test showed that there were significant differences of nine hole peg test and Sollerman hand function test scores before and after exercise (P <0.001). Conclusion: Transfer of motor skill learning from healthy hand could increase functional paretic hand of stroke patients.Keywords: stroke, transfer of motor skill, bilateral transfer, mirror neuronAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh transfer of motor skill learning tangan sehat terhadap peningkatan fungsional tangan paresis pasien stroke subakut. Jenis penelitian ini ialah deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Sebanyak 26 orang pasien stroke fase subakut yang memenuhi kriteria inklusi. Semua subyek diberi latihan selama 6 minggu kemudian dilakukan penilaian dengan nine hole peg test dan Sollerman hand function test. Hasil penelitian memperlihatkan dari 26 subjek, persentase tertinggi ialah laki-laki sebanyak 15 orang (57,7%), usia rata-rata ialah 57,58 tahun (38,5%), onset terjadinya stroke kurang dari 10 minggu (65,4%), dan stroke non-hemoragik (88,5%). Hasil uji Wilcoxon menyatakan terdapat perbedaan bermakna pada nilai nine hole peg test dan Sollerman hand function test sebelum (awal) dan sesudah (akhir) perlakuan (p <0,001). Simpulan: Transfer of motor skill learning tangan yang sehat dapat meningkatkan fungsional tangan paresis pasien stroke subakut.Kata kunci: stroke, transfer of motor skill, bilateral transfer, mirror neuron
Diagnosis dan penanganan rehabilitasi medik pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder Susanto, Bayu D.; Sengkey, Lidwina S.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 8, No 3 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.3.2016.14150

Abstract

Abstract: Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is one of the most common childhood disorders and can continue through adolescence and adulthood. The average age of onset is 7 years old. Symptoms in children is characteriterized by inattention, hyperactivity and impulsivity, or a combination of these symptoms, which compromise basic daily functions such as learning to read and making friends. ADHD is a complex disorder of impairment of brain functions, associated with low rates of high-school graduation and completion of postsecondary education as well as poor peer relationships, even when it is appropriately managed, leading to high economic and social burdens. In many cases, it is accompanied by one or more serious psychiatric comorbidities. In practice, the diagnosis is often made in children who meet some but not all of the criteria recommended in DSM-IV. According to National Institute of Mental Health and professional organizations such as AACAP, the management of children with ADHD is a comprehensive, multidisciplinary and multimodal approach. The managerial team of children with ADHD involves medical rehabilitation specialists, physiatrists with occupational therapiests, psychologists, social workers, parents, teachers, care givers, and environment.Keywords: ADHD, inattention, hyperactivity, impulsivity, rehabilitation medicineAbstrak: Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah adanya pola menetap dari inatensi yang disertai hiperaktifitas dan impulsivitas, umumnya terjadi pada anak usia dini dan usia sekolah. Gejala dapat diketahui sebelum usia 7 tahun dan dapat menetap sampai masa remaja dan dewasa. ADHD dapat mengganggu fungsi dasar seorang anak, permasalahan dalam hal belajar, dan kesulitan membina hubungan dengan teman. ADHD merupakan gangguan yang kompleks dari fungsi otak yang menimbulkan masalah dalam pendidikan dan sosial serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Pada banyak kasus disertai oleh 1 atau lebih masalah psikiatri yang serius. Kriteria diagnosis didasarkan pada Diagnostic and Statistic Manual IV (DSM-IV). Sampai saat ini belum ada satu jenis terapi yang dapat diakui untuk menyembuhkan anak dengan ADHD secara total. Berdasarkan National Institute of Mental Health serta organisasi profesi lainnya di dunia seperti AACAP penanganan anak dengan ADHD ialah dengan pendekatan komprehensif yang multidisiplin dan multimodal. Penanganan pada anak dengan ADHD melibatkan multidisipliner ilmu termasuk dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi bersama tim termasuk psikolog, okupasi terapi, sosial medik, orang tua, guru, care giver dan lingkungan.Kata kunci: ADHD, inattention, hyperactivity, impulsivity, rehabilitation medicine