Eka Septianingsih
Jl. Bong Cina No. 13 Sumpiuh, Banyumas, Indonesia 53144

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EKSPLOITASI EKONOMI DAN SEKSUAL PARA PENARI LENGGER Septianingsih, Eka
Jurnal Komunitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Jurnal Komunitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Awalnya kesenian lengger digunakan dalam upacara-upacara ritual di pedesaan serta upacara-upacara yang berkaitan dengan kesuburan. Saat ini kesenian lengger lebih mengarah pada fungsi hiburan dan komersial. Hal ini membuat penari lengger rentan terhadap eksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan lengger; bagaimana tanggapan masyarakat terhadap keberadaan penari lengger;  bagaimana bentuk eksploitasi yang dialami oleh penari lengger; dan apa respon penari lengger tentang tindakan eksploitasi itu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan analisis data interpretatif. Lokasi penelitian di desa Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa unsur yang terkait dengan bentuk pertunjukan lengger, yaitu: pemain, gerak, iringan musik, tata rias dan busana, serta tempat pementasan. Citra negatif penari lengger biasanya diasosiakan dengan gerakan tari yang erotis sehingga dapat memancing pelecehan, seperti diraba, dicolek, dipeluk dan dicium oleh para pengibing. Bentuk eksploitasi ekonomi terjadi karena tuntutan ekonomi sehingga mendorong para penari mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.  Perlakuan tidak senonoh dari penonton merupakan bagian dari resiko profesi yang harus dijalani. Fenomena ini diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah untuk melindungi para pelaku kesenian dari tindakan eksploitasi.Originally lengger is performed in ceremonies and rituals in rural ceremonies associated with fertility. Currently the performance of lengger has more entertainment and commercial functions. This makes the dancers vulnerable to exploitation lengger both economically and sexually. The objectiveof this study is to explore the form of lengger show, forms of exploitation experienced by dancers lengger, and the responses of the lengger dancer towards exploitation. Research methods used are qualitative approach, with interpretive data analysis. Research was done in the village Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. The results show that there were some elements associated with this form lengger performances, namely: players, body movement, music, makeup and fashion, as well as staging. The negative image normally rise from lengger dancer’s erotic movements, which are responded by various form,s of abuse, such as touched, poked, hugged and kissed by pengibing. Economic exploitation occurs due to the economic demands so that the dancers exploit her body to get money. Dances of Lengger are very prone to sexual and economic ebuse. This phenomenon should encourage the public and the government to rethink how to to protect the dancers from exploitation.
EKSPLOITASI EKONOMI DAN SEKSUAL PARA PENARI LENGGER Septianingsih, Eka
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2403

Abstract

Awalnya kesenian lengger digunakan dalam upacara-upacara ritual di pedesaan serta upacara-upacara yang berkaitan dengan kesuburan. Saat ini kesenian lengger lebih mengarah pada fungsi hiburan dan komersial. Hal ini membuat penari lengger rentan terhadap eksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan lengger; bagaimana tanggapan masyarakat terhadap keberadaan penari lengger;  bagaimana bentuk eksploitasi yang dialami oleh penari lengger; dan apa respon penari lengger tentang tindakan eksploitasi itu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan analisis data interpretatif. Lokasi penelitian di desa Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa unsur yang terkait dengan bentuk pertunjukan lengger, yaitu: pemain, gerak, iringan musik, tata rias dan busana, serta tempat pementasan. Citra negatif penari lengger biasanya diasosiakan dengan gerakan tari yang erotis sehingga dapat memancing pelecehan, seperti diraba, dicolek, dipeluk dan dicium oleh para pengibing. Bentuk eksploitasi ekonomi terjadi karena tuntutan ekonomi sehingga mendorong para penari mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.  Perlakuan tidak senonoh dari penonton merupakan bagian dari resiko profesi yang harus dijalani. Fenomena ini diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah untuk melindungi para pelaku kesenian dari tindakan eksploitasi.Originally lengger is performed in ceremonies and rituals in rural ceremonies associated with fertility. Currently the performance of lengger has more entertainment and commercial functions. This makes the dancers vulnerable to exploitation lengger both economically and sexually. The objectiveof this study is to explore the form of lengger show, forms of exploitation experienced by dancers lengger, and the responses of the lengger dancer towards exploitation. Research methods used are qualitative approach, with interpretive data analysis. Research was done in the village Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. The results show that there were some elements associated with this form lengger performances, namely: players, body movement, music, makeup and fashion, as well as staging. The negative image normally rise from lengger dancer’s erotic movements, which are responded by various form,s of abuse, such as touched, poked, hugged and kissed by pengibing. Economic exploitation occurs due to the economic demands so that the dancers exploit her body to get money. Dances of Lengger are very prone to sexual and economic ebuse. This phenomenon should encourage the public and the government to rethink how to to protect the dancers from exploitation.
EKSPLOITASI EKONOMI DAN SEKSUAL PARA PENARI LENGGER Septianingsih, Eka
Komunitas Vol 4, No 2 (2012): September 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2403

Abstract

Awalnya kesenian lengger digunakan dalam upacara-upacara ritual di pedesaan serta upacara-upacara yang berkaitan dengan kesuburan. Saat ini kesenian lengger lebih mengarah pada fungsi hiburan dan komersial. Hal ini membuat penari lengger rentan terhadap eksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan lengger; bagaimana tanggapan masyarakat terhadap keberadaan penari lengger;  bagaimana bentuk eksploitasi yang dialami oleh penari lengger; dan apa respon penari lengger tentang tindakan eksploitasi itu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan analisis data interpretatif. Lokasi penelitian di desa Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa unsur yang terkait dengan bentuk pertunjukan lengger, yaitu: pemain, gerak, iringan musik, tata rias dan busana, serta tempat pementasan. Citra negatif penari lengger biasanya diasosiakan dengan gerakan tari yang erotis sehingga dapat memancing pelecehan, seperti diraba, dicolek, dipeluk dan dicium oleh para pengibing. Bentuk eksploitasi ekonomi terjadi karena tuntutan ekonomi sehingga mendorong para penari mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.  Perlakuan tidak senonoh dari penonton merupakan bagian dari resiko profesi yang harus dijalani. Fenomena ini diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah untuk melindungi para pelaku kesenian dari tindakan eksploitasi.Originally lengger is performed in ceremonies and rituals in rural ceremonies associated with fertility. Currently the performance of lengger has more entertainment and commercial functions. This makes the dancers vulnerable to exploitation lengger both economically and sexually. The objectiveof this study is to explore the form of lengger show, forms of exploitation experienced by dancers lengger, and the responses of the lengger dancer towards exploitation. Research methods used are qualitative approach, with interpretive data analysis. Research was done in the village Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. The results show that there were some elements associated with this form lengger performances, namely: players, body movement, music, makeup and fashion, as well as staging. The negative image normally rise from lengger dancer’s erotic movements, which are responded by various form,s of abuse, such as touched, poked, hugged and kissed by pengibing. Economic exploitation occurs due to the economic demands so that the dancers exploit her body to get money. Dances of Lengger are very prone to sexual and economic ebuse. This phenomenon should encourage the public and the government to rethink how to to protect the dancers from exploitation.