Marzuki Marzuki
STAIN Malikussaleh Lhokseumawe

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah Suryalaya: Penyebaran dan Pengaruhnya di Aceh Marzuki Marzuki
Nizham Jurnal Studi Keislaman Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Nizham
Publisher : Postgraduate State Islamic Institute (IAIN) Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.169 KB)

Abstract

Tsunami in Aceh in 2004, has made increasingly recognized Aceh in Indonesia and even the world. This opens up opportunities for the inclusion of a wide range of influence on the people of Aceh, including the practice of religion. In 2005, boarding Suryalaya in Tasik Malaya of West Java is one of the boarding school that participated in helping the unfortunate people of Aceh tsunami with Dai and sending volunteers to Aceh. at that moment, the Dai began to introduce the tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah in Aceh. The entry of orders Qadiriyyah Naqsyabandiyyah of Pesantren Suryalaya became a new phenomenon in the practice of the Order of Aceh. because of previous orders are popular and practiced by the majority of the people of Aceh are tarekat Naqsyabandiyyah. This study aims to reveal the existence Qadiriyah Naqsyabandiyyah in Aceh, as well as its influence on the practice of tarekat in Aceh. The results showed that this tarekat since coming to Aceh in 2005 still exist and are followed by the different walks of life in Aceh. The tarekat was able to attract people of Aceh from various circles. Tarekat Qadiryyah Naqasyabandiyyah seem attractive and very easy to be carried out, so it continues to grow, and it has a very significant influence on the development of tarekat in Aceh
Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh: Integritas Nilai-Nilai Agama dan Budaya Marzuki Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.993 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.458

Abstract

Peusijuek is one of the traditions of the people of Aceh are still preserved and practiced. Peusijuek, especially in Aceh moslem society, has been adapted into of Islam pratice. This study is aimed at revealing how peusijuek is believed and practiced  then become one of  religious creed which, originally, is not purely derived from Islamic teaching. This study used content analysis methods. Islam has universalism concept that is able to converge and fuse to various civilizations and culture; this makes Islam accepted in many nations and civilizations. Aceh people believe that Peusijuek is one of the rituals associated with religious belief. Because it is consist of several religious values which must be executed, such as 3 (three) aspects as follow: firstly; the Actor of Peusijuek should have a good understanding of the religion, usually called by the ustadz and ustadzah. Secondly, the moment to do peusijuek is when someone is going for haji, to marry, to be khitanan, and others. Thirdly, prayer of peusijuek are taken from the Quran and Sunnah as well as addressed to Allah SWT. Therefore, considering the three aforementioned aspects, peusijuek is considered to be closely related islam and, so it becomes a public belief.Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan dan dipraktekkan. Peusijuek ini sebagai sebuah budaya yang telah menjadi bagaian dari Islam, khususnya masyarakat Islam di Aceh. Penelitian ini ingin mengungkap bagaimana peusijuek diyakini dan beroperasi menjadi sebuah kepercayaan masyarakat yang secara keagamaan hal tersebut bukan sepenuhnya murni berasal dari ajaran agama. Penelitian ini menggunakan metode content analisis. Islam memiliki konsep universalisme yang mampu menyatu dan melebur dalam berbagai peradaban dan kebudayaan, Islam menyatu dan dapat diterima oleh berbagai bangsa dan peradaban. Peusijuek diyakini oleh masyarakat Aceh sebagai salah satu ritual yang dikaitkan dengan kepercayaan terhadap agama, karena peusijuek tersebut sarat dengan nilai-nilai agama, yang mesti dijalankan. Hal tersebut dapat dilihat dari 3 (tiga) unsur, yaitu pertama; Pelaku Peusijuek, biasanya dilakukan oleh para tengku (ustadz) dan tengku inong (ustadzah), yang paham agama. Kedua, momen peusijuek, dilakukan ketika akan berangkat haji, pernikahan/walimah, dan khitanan, dan lain-lain. Ketiga, doa peusijuek, doa yang dibacakan adalah doa yang ditujukan kepada Allah SWT, dengan menggunakan doa-doa yang dari al Quran dan Sunnah. Melihat ketiga tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peusijuek sangat sarat dengan nilai-nilai keislaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai Islam, sehingga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat.
Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh: Integritas Nilai-Nilai Agama dan Budaya Marzuki Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.458

Abstract

Peusijuek is one of the traditions of the people of Aceh are still preserved and practiced. Peusijuek, especially in Aceh moslem society, has been adapted into of Islam pratice. This study is aimed at revealing how peusijuek is believed and practiced  then become one of  religious creed which, originally, is not purely derived from Islamic teaching. This study used content analysis methods. Islam has universalism concept that is able to converge and fuse to various civilizations and culture; this makes Islam accepted in many nations and civilizations. Aceh people believe that Peusijuek is one of the rituals associated with religious belief. Because it is consist of several religious values which must be executed, such as 3 (three) aspects as follow: firstly; the Actor of Peusijuek should have a good understanding of the religion, usually called by the ustadz and ustadzah. Secondly, the moment to do peusijuek is when someone is going for haji, to marry, to be khitanan, and others. Thirdly, prayer of peusijuek are taken from the Quran and Sunnah as well as addressed to Allah SWT. Therefore, considering the three aforementioned aspects, peusijuek is considered to be closely related islam and, so it becomes a public belief.Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan dan dipraktekkan. Peusijuek ini sebagai sebuah budaya yang telah menjadi bagaian dari Islam, khususnya masyarakat Islam di Aceh. Penelitian ini ingin mengungkap bagaimana peusijuek diyakini dan beroperasi menjadi sebuah kepercayaan masyarakat yang secara keagamaan hal tersebut bukan sepenuhnya murni berasal dari ajaran agama. Penelitian ini menggunakan metode content analisis. Islam memiliki konsep universalisme yang mampu menyatu dan melebur dalam berbagai peradaban dan kebudayaan, Islam menyatu dan dapat diterima oleh berbagai bangsa dan peradaban. Peusijuek diyakini oleh masyarakat Aceh sebagai salah satu ritual yang dikaitkan dengan kepercayaan terhadap agama, karena peusijuek tersebut sarat dengan nilai-nilai agama, yang mesti dijalankan. Hal tersebut dapat dilihat dari 3 (tiga) unsur, yaitu pertama; Pelaku Peusijuek, biasanya dilakukan oleh para tengku (ustadz) dan tengku inong (ustadzah), yang paham agama. Kedua, momen peusijuek, dilakukan ketika akan berangkat haji, pernikahan/walimah, dan khitanan, dan lain-lain. Ketiga, doa peusijuek, doa yang dibacakan adalah doa yang ditujukan kepada Allah SWT, dengan menggunakan doa-doa yang dari al Quran dan Sunnah. Melihat ketiga tinjauan tersebut, dapat disimpulkan bahwa peusijuek sangat sarat dengan nilai-nilai keislaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai Islam, sehingga menjadi sebuah kepercayaan masyarakat.