This Author published in this journals
All Journal Missio Ecclesiae
Robert Calvin Wagey
Institut Injil Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARUNIA ROH MENURUT PENGAJARAN RASUL PAULUS: SUATU KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP PANDANGAN NEO-PENTAKOSTA TENTANG KARUNIA SPEKTAKULAR Robert Calvin Wagey
Missio Ecclesiae Vol. 1 No. 1 (2012): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v1i1.20

Abstract

Menurut Rasul Paulus, yang dimaksud dengan karunia Roh adalah suatu kesanggupan khusus yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya sesuai kehendak-Nya guna dipakai bagi kepentingan jemaat sebagai tubuh Kristus. Pemberian ini dimungkinkan karena karya keselamatan Kristus di atas kayu salib. Dasar pemberian karunia Roh adalah semata-mata karena kasih dan anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia atau sebagai suatu pahala atas jasa manusia. Karunia Roh berbeda dengan talenta. Karunia Roh diberikan Allah kepada orang percaya untuk kemuliaan Allah. Talenta adalah bakat atau kesanggupan khusus pembawaan seseorang sejak lahir, digunakan untuk kepentingan umum manusia. Setiap talenta/bakat dapat dipakai dan diubah-Nya sebagai karunia Roh pada saat orang tersebut percaya kepada-Nya. Berdasarkan pengertian bahwa karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada jemaat untuk pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus, maka setiap anggota jemaat atau orang percaya mempunyai tanggung jawab di dalam pelayanan jemaat. Tanggungjawab itu tidak dapat diwakilkan dan dimonopoli orang lain, secara khusus oleh para pelayan jemaat. Para pelayan jemaat bertanggung jawab untuk memperlengkapi dan mempersiapkan setiap anggota jemaat bagi pelayanan dan pembangunan jemaat, sebagai tubuh Kristus. Jemaat dengan segala karunianya merupakan potensi yang amat besar bagi perkembangan dan pertumbuhan tubuh Kristus. Melalaikan potensi ini berarti kehilangan kesempatan bahkan dapat menghalangi pertumbuhan jemaat. Sebaliknya, melibatkan setiap anggota jemaat, sesuai dengan karunianya, dalam Pelayanan Kesaksian (Marturia), Pelayanan Persekutuan (Koinonia), Pelayanan Sosial (Diakonia) akan berakibat pada pertumbuhan jemaat secara kualitatif dan kuantitatif. Karena itulah tujuan Allah memberikan karunia-karunia Roh kepada jemaat-Nya. Karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya beranekaragam dan berbeda-beda. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan atau diistimewakan melainkan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain, agar seluruh orang percaya sampai kepada kesempurnaan Kristus. Setiap karunia tidak lebih penting dan istimewa daripada karunia-karunia yang lain. Semua sama penting dan sama kualitasnya karena bersumber dari Allah yang sama. Pandangan yang menganggap karunia-karunia Roh yang bersifat spektakular lebih penting daripada karunia-karunia Roh yang lain, tidak benar. Demikian juga, memutlakkan karunia berkata-kata dengan bahasa roh bagi setiap orang percaya tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Setiap orang percaya menerima karunia yang berbeda-beda, sesuai dengan kehendak Allah. Karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada setiap orang percaya, pada saat percaya kepada Kristus dan dibaptis di dalam nama-Nya. Pengalaman orang percaya menerima karunia-karunia Roh berlangsung secara simultan. Saat seseorang percaya kepada Kristus dan dibaptis dalam nama-Nya, pada saat itu secara simultan ia menerima keselamatan, menjadi anggota tubuh Kristus, menerima Roh Kudus dan karunia-karunia Roh. Dan menurut Paulus, inilah yang dimaksud dengan dibaptis dengan Roh Kudus. Oleh karena itu, pandangan yang menyatakan pengalaman tersebut berbeda, tidak simultan dengan kelahiran baru melainkan merupakan pengalaman kedua atau second blessing dan karena itu hanya merupakan pengalaman beberapa orang percaya tertentu saja adalah tidak benar.
MODEL PENYELESAIAN KONFLIK DALAM PEMILIHAN PEMIMPIN DI SINODE GEREJA KRISTEN INJILI NUSANTARA (GKIN) Adieli Halawa; Robert Calvin Wagey
Missio Ecclesiae Vol. 11 No. 1 (2022): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v11i1.146

Abstract

Pada masa kini, konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pemahaman tentang konflik secara komprehensif baik teori umum maupun Alkitab merupakan bagian yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pemimpin Kristen khususnya para pemimpin di Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN). Tujuan penelitian dalam tulisan ini adalah:(1) Untuk mengetahui teori umum dan pandangan Alkitab tentang konflik. (2) Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. (3) Untuk menemukan model penyelesaian konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. Observasi serta penelitian yang dilakukan peneliti dalam proses pemilihan pemimpin di sinode GKIN mengerucut pada satu bukti dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa terjadi konflik dalam pemilihan pemimpin yang sedang berlangsung di sinode GKIN. Jika dikonstruksikan maka konflik yang terjadi karena: (1) Dukung mendukung calon yang menimbulkan konflik interpersonal, intra grup dan kelompok dalam sinode GKIN. (2) Regulasi yang mengatur tentang pemilihan pemimpin di sinode GKIN belum memadai dan memenuhi kebutuhan organisasi. (3) Karakter para pemimpin di GKIN yang belum bersesuaian dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang berdasarkan Alkitab. (4) Konflik dalam pemilihan pemimpin yang sudah berlangsung lama belum ada upaya terstruktur dan sistemik dalam mengelola potensi konflik tersebut menjadi hal positif bagi organisasi. Sinode GKIN membutuhkan sebuah model pendekatan penyelesaian konflik dengan empat model sesuai dengan konteks di sinode GKIN, yaitu: Model proposal penyelesaian masalah, model dialog terbuka untuk solusi, model solusi komprehensif dan model hikmat Allah.