This Author published in this journals
All Journal Missio Ecclesiae
Jeny Marlin
Institut Injil Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBINAAN WARGA GEREJA DEWASA MENURUT SURAT EFESUS 4:11-16 Jeny Marlin
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.56

Abstract

Berdasarkan hasil analisa dan eksegese Surat Efesus 4:11-16 yaitu bahwa Kristus memperlengkapi orang-orang kudus dengan berbagai karunia adalah merupakan wujud dari pembinaan yang dilakukan-Nya sendiri. Keperbedaan karunia-karunia tersebut semuanya mengarah kepada pemberitaan Injil, sehingga Tubuh Kristus dapat bertumbuh mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Jemaat Efesus merupakan jemaat yang sudah percaya kepada Kristus, akan tetapi Kristus menginginkan agar keberadaan orang percaya yang telah diselamatkan itu dapat hidup berpadanan dengan panggilannya sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan dikuduskan Allah. Oleh karena itu setiap gereja atau orang-orang yang telah dikuduskan Allah adalah anggota Tubuh Kristus, di mana Kristus sebagai Kepala. Tubuh membutuhkan suatu pertumbuhan agar mencapai kedewasaaan, sehinggga bukan lagi seperti anak-anak, akan tetapi bertumbuh menjadi dewasa, yaitu memiliki pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, serta bertumbuh di dalam Kristus. Adapun wujud pemberian Allah adalah rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar, menunjuk kepada tugas yang Tuhan berikan kepada seorang anggota jemaat. Oleh karena itu seseorang yang memperoleh jabatan khusus itu, berarti bahwa ia dipilih Tuhan untuk suatu pekerjaan khusus dalam jemaat-Nya. Keberagaman karunia ini bukan untuk mempertentangkan antara karunia yang satu dengan yang lainnya, demikian pula bukan sesuatu yang harus dibangga-banggakan karena karunia-karunia tersebut tidak ada yang lebih tinggi/rendah, melainkan masing-masing diberikan oleh Kristus untuk suatu maksud atau tujuan yang khusus, memperlengkapi dan memberi sarana orang-orang percaya bagi pembangunan Tubuh Kristus, sehingga gereja dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang yang dipanggil Allah/rekan sekerja-Nya yaitu memberitakan Injil sesuai dengan karunia masing-masing. Paulus sebagai rasul Kristus melakukan pembinaan bagi murid-muridnya, bahkan kepada seluruh jemaat di Efesus melalui berbagai macam cara/ metode pembinaan yaitu: melalui persekutuan-persekutuan, khotbah-khotbah, pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, doa, bahkan melalui sarana pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari usaha Paulus dengan menyewa sebuah ruang kuliah dan setiap hari ia berbicara, penyampaian pengajaran-pengajaran tentang Kristus di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19). Paulus memberikan pembinaan bagi setiap penatua, dan diaken yang ada di Efesus melalui doa dan nasihat-nasihat, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan yaitu menggembalakan jemaat dengan melengkapi/ mempersiapkan orang-orang percaya lainnya (sebagai anggota Tubuh Kristus) untuk lebih produktif, yaitu siap melayani Tuhan dan aktif turut membangun Tubuh Kristus (Kis. 20). Tugas panggilan gereja tidak pernah berubah. Tetapi bentuk-bentuk penerapannya tidak selalu sama dari tempat ke tempat, dan dari jaman ke jaman. Strategi pelayanan bagi orang dewasa disesuaikan dengan fungsi perkembangan, serta dengan isu penting di sekitar usia tersebut.[1] Rancangan program pembinaan di jemaat harus disesuaikan dengan pergumulan individu maupun kelompok. [1] Samuel Sidjabat, Pendewasaan ...., 39
KUALIFIKASI PEMIMPIN MENURUT RASUL PAULUS (STUDI EKSEGETIS SURAT TITUS 1:5-9) Jeny Marlin
Missio Ecclesiae Vol. 6 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v6i2.74

Abstract

Dari hasil analisa eksegetis Titus 1:5-9, penulis menyimpulkan bahwa: Titus bukan orang Yahudi, namun menjadi satu tim dalam pelayanan Rasul Paulus, dan ditugaskan di Pulau Kreta untuk memelihara jemaat di sana. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Titus, bermaksud mendorong dan menghimbau Titus, tentang betapa pentingnya mengatur kembali agar lebih baik lagi apa yang masih perlu/kurang/seharusnya diatur, yaitu menetapkan para pemimpin rohani yaitu para penatua yang ditempatkan atau ditugaskan sebagai ketua gereja atau pemimpin bagi jemaat. yang terdapat di tiap-tiap kota. 1) Pemimpin yang sedang dan terus-menerus tidak tercela” di antara para jemaat dan suami dari seorang/satu istri saja; 2) Pemimpin yang mempunyai anak-anak yang beriman, yang memiliki pola hidup anak-anak seorang pemimpin rohani, tidak hidup dalam tuduhan/tidak hidup dalam kekacauan/hidup tidak liar, tidak punya malu, bukan tidak bermoral, atau anak-anak yang bukan tak mau patuh, tidak durhaka dan bukan pemberontak. Sebaliknya anak-anak seorang pemimpin rohani adalah anak-anak yang hidup tertib, tahu malu, bermoral, patuh, menjaga nama baik keluarga dan menghormati orang tua; 3) Seorang pemimpin rohani adalah pengawas jemaat yang sedang dan terus-menerus hidup suci dan tidak bercela, tetapi dia juga menjadi sedang dan terus-menerus menjadi (must be above reproach as God's steward), artinya “harus sempurna seperti pelayan Tuhan” atau is entrusted with God's work artinya “dipercayakan pekerjaan Tuhan; 4) Seorang pemimpin rohani adalah “bukan seorang yang memuaskan diri sendiri, bukan seorang yang keras kepala dan bukan seorang yang angkuh.” Hal ini identik terlihat jelas dengan karakter atau temperamen seseorang dalam memimpin demi kepentingan orang banyak, yang bersedia menerima kritik atau teguran dan yang rendah hati atau tidak sombong; 5) Pemimpin rohani adalah bukan seorang pemimpin yang dikuasai kemarahan/pemarah, berdarah panas dan cepat marah, tetapi pemimpin yang mampu menundukkan kemarahan, panjang sabar, dan lemah-lembut; 6) Seorang pemimpin rohani hidupnya tidak mengkomsumsi minuman keras seperti anggur yang membuat dia mabuk, karena akan kecanduan, sehingga hidupnya dikuasai oleh kemabukan. Tetapi sebaliknya seorang pemimpin rohani memiliki hidup yang senantiasa menjaga tubuhnya dalam kesucian dan kekudusan; 7) Seorang pemimpin rohani adalah seorang yang tidak suka berkelahi, tidak pemarah dan seorang yang tidak kejam, melainkan seorang yang suka damai, pembawa damai, lemah-lembut atau baik; 8) Seorang pemimpin rohani adalah seorang yang jujur atau tidak tamak akan uang dan tidak berlaku curang atau serakah; 9) Pemimpin rohani ialah seorang yang ramah, penuh kasih dan kebaikan dan yang mencintai kebaikan serta suka akan hal-hal yang baik dalam masa kepemimpinannya; dan10) Seorang pemimpin rohani ialah seorang yang bijaksana, tertata, masuk akal, seorang yang taat terhadap hukum, tegak lurus, benar, adil dan seorang yang tulus, memuaskan ke Tuhan, taat, bermoral dan yang kudus.