This Author published in this journals
All Journal Missio Ecclesiae
Purwanto, Fredi
Institut Injil Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Missio Ecclesiae

SOROTAN YOHANES 17:20-23 TENTANG KESATUAN ALLAH DAN MANUSIA TERHADAP MISTIK TOENGGOEL WOELOENG Fredi Purwanto
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.79

Abstract

Bila kita tinjau mistik Toenggoel Woeloeng dalam terang firman Tuhan, secara khusus dari Yoh. 17:20-23, maka jelaslah bahwa konsep Toenggoel Woeloeng mengenai dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana atau Kristus yang kelihatan adalah tidak alkitabiah sehingga tidak dapat dibenarkan karena hal itu merupakan sinkretisme. Hal ini dilatarbelakangi bahwa ia adalah seorang Jawa yang tidak mau meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya yang telah berurat akar dalam masyarakatnya. Ia beranggapan bahwa pelajaran yang diberikannya sesudah ia menjadi seorang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan apa yang diberikannya di lereng Gunung Kelud. Dengan menyebut dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana sebenarnya dapatlah disimpulkan bahwa dia sedang memposisikan dirinya sebagai “manusia sempurna” dalam pengertian mistik Jawa. Itu berarti bahwa dia adalah representasi dari Allah Bapa, atau dengan kata lain ia sedang menyejajarkan dirinya dengan Kristus. Sehingga tidaklah mengherankan kalau dia mengajarkan bahwa setiap bangsa yang menjadi Kristen harus punya pemimpinnya sendiri yang dapat dilihat. Bahwa orang Jawa bergabung dengan penginjil Eropa adalah salah: mereka harus menjadi orang Kristen Jawa dan mencari Kristus-nya “sendiri”. Oleh sebab itu, para murid Toenggoel Woeloeng mengharapkan bahwa Ratu Adil akan datang di sekitar Bondo. Pengajarannya lebih mudah diterima oleh orang Jawa, sehingga pengikutnya banyak, bahkan ia dipuja-puja oleh pengikutnya sebagai kiai dan dianggap sakti serta punya kekuatan magis karena ia punya kesaktian dari pertapaanya di Gunung Kelud.
IMPLEMENTASI KECERDASAN SPIRITUAL BAGI PENDIDIKAN Fredi Purwanto; Rini Wulandari
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.107

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi kecerdasan spiritual yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Studi ini dapat dianggap sebagai sebuah signifikansi dari sudut pandang bahwa individu yang cerdas secara spiritual dapat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif mereka. Studi ini dapat memunculkan fakta bahwa kelompok individu semacam itu memang ada. Dalam studi ini digunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk meneliti sekelompok manusia yang berhubungan dengan kondisi atau situasi tertentu untuk memperoleh data sesuai dengan fakta saat ini. Metode deskrptif juga juga merupakan metode untuk mencari fakta dengan intepretasi yang tepat. Dalam kajian penulis, ditemukan bahwa kecerdasan spiritual sangatlah penting dalam keberadaan manusia.Pemecahan masalah dan aplikasi untuk pengambilan keputusan dan situasi kehidupan adalah indikator kecerdasan spiritual. Hal tersebut juga dibuktikan dengan perilaku yang memancarkan “buah Roh” dan sikap melayani. Pada akhirnya, tujuan dan ekspresi kecerdasan spiritual yang paling memuaskan adalah relasi yang penuh kasih dalam persekutuan dan dengan Tuhan.Penolakan untuk bersekutu dengan Tuhan memiliki efek menggelapkan hati dan pikiran. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual melibatkan lebih dari sekadar persepsi (ketajaman), refleksi, asimilasi, pemahaman, dan bahkan pengetahuan akan firman atau teologi. Hal-hal seperti berlatih disiplin rohani, menyelaraskan perilaku dengan pengetahuan, serta mengintegrasikan umpan balik dan pertobatan sebagai lingkaran pembelajaran yang kritis akan memaksimalkan kecerdasan spiritual. Roh Allah, sebagai Pribadi yang menyatakan kebenaran tentulah memiliki peran yang sangat sentral penting di sini. Selain itu, kepekaan untuk mengemban sebuah tanggung jawab dengan baik dikembangkan melalui refleksi pada panggilan Tuhan.