This Author published in this journals
All Journal Missio Ecclesiae
Rini Wulandari
Institut Injil Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELAYANAN PASTORAL BAGI ISTRI YANG BERDUKA DAN SIGNIFIKANSINYA TERHADAP PROSES PENEMUAN MAKNA HIDUP JEMAAT GEREJA KRISTEN JAWA KISMOREJO KARANGANYAR Rini Wulandari
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.93

Abstract

Pelayanan pastoral merupakan pelayanan penggembalaan dan pendampingan kepada jemaat yang didalamnya ada kegiatan kemitraan, bahu-membahu, menemani, dan berbagi dengan tujuan saling menumbuhkan, menguatkan dan mendukung. Demikian halnya pelayanan pastoral kepada orang yang berduka seharusnya berisikan kegiatan-kegiatan di atas. Melalui kegiatan bahu-membahu, menemani atau berbagi tersebut, diharapkan jemaat yang berduka dapat bertumbuh secara rohani. Dengan pertumbuhan rohani yang baik, jemaat yang berduka diharapkan bisa menemukan arti hidup melalui penderitaan atau krisis yang sedang dihadapinya. Hal itu bisa dicapai bukan hanya melalui kunjungan pada saat ibadah penghiburan saja, tetapi bisa melalui percakapan pastoral dan kunjungan yang rutin. Percakapan pastoral meski singkat atau biasa namun bila dikerjakan dalam kesungguhan dan ketulusan, akan membantu jemaat yang berduka untuk mengungkapkan persoalan-persoalan yang muncul akibat kehilangan yang dideritanya. Para pelayan Tuhan dapat melihat fakta-fakta yang dialami dan dihadapi jemaatnya yang berduka sehingga bisa memberikan pertolongan yang tepat sasaran. Kunjungan rutin dapat menguatkan dan menghibur jemaat sehingga tidak merasa sendiri. Selain itu dalam kunjungan rutin juga bisa dilakukan percakapan pastoral yang mendalam. Pola pelayanan pastoral dengan cara memberikan bantuan praktis berkaitan dengan persiapan penguburan, pelayanan doa dan pemberitaan Firman di kebaktian penghiburan dan pemakaman tidaklah salah hanya saja kurang efektif. Pola pelayanan seperti ini kurang bisa menyentuh dan menyelesaikan perasaan-perasaan problematis akibat kedukaan. Berdasarkan penelitian Penulis, adanya ketidakefektifan pelayanan pastoral dapat terjadi karena kurangnya pemahaman tentang hakekat pelayanan pastoral di antara pelayan Tuhan. Berhubung kurangnya pemahaman tersebut maka mereka tidak memprioritaskan waktu untuk melakukan bentuk pelayanan pastoral yang lain (seperti kunjungan, telepon dan percakapan pastoral), ditambah lagi dengan banyaknya kegiatan gerejawi yang menyita banyak waktu. Bila kendala ini tidak dicarikan jalan keluarnya atau diselesaikan, maka pelayanan pastoral akan sulit untuk menyentuh kehidupan pribadi jemaat.
IMPLEMENTASI KECERDASAN SPIRITUAL BAGI PENDIDIKAN Fredi Purwanto; Rini Wulandari
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.107

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi kecerdasan spiritual yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Studi ini dapat dianggap sebagai sebuah signifikansi dari sudut pandang bahwa individu yang cerdas secara spiritual dapat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif mereka. Studi ini dapat memunculkan fakta bahwa kelompok individu semacam itu memang ada. Dalam studi ini digunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk meneliti sekelompok manusia yang berhubungan dengan kondisi atau situasi tertentu untuk memperoleh data sesuai dengan fakta saat ini. Metode deskrptif juga juga merupakan metode untuk mencari fakta dengan intepretasi yang tepat. Dalam kajian penulis, ditemukan bahwa kecerdasan spiritual sangatlah penting dalam keberadaan manusia.Pemecahan masalah dan aplikasi untuk pengambilan keputusan dan situasi kehidupan adalah indikator kecerdasan spiritual. Hal tersebut juga dibuktikan dengan perilaku yang memancarkan “buah Roh” dan sikap melayani. Pada akhirnya, tujuan dan ekspresi kecerdasan spiritual yang paling memuaskan adalah relasi yang penuh kasih dalam persekutuan dan dengan Tuhan.Penolakan untuk bersekutu dengan Tuhan memiliki efek menggelapkan hati dan pikiran. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual melibatkan lebih dari sekadar persepsi (ketajaman), refleksi, asimilasi, pemahaman, dan bahkan pengetahuan akan firman atau teologi. Hal-hal seperti berlatih disiplin rohani, menyelaraskan perilaku dengan pengetahuan, serta mengintegrasikan umpan balik dan pertobatan sebagai lingkaran pembelajaran yang kritis akan memaksimalkan kecerdasan spiritual. Roh Allah, sebagai Pribadi yang menyatakan kebenaran tentulah memiliki peran yang sangat sentral penting di sini. Selain itu, kepekaan untuk mengemban sebuah tanggung jawab dengan baik dikembangkan melalui refleksi pada panggilan Tuhan.