This Author published in this journals
All Journal Missio Ecclesiae
Rafles Rudi Laua
Institut Injil Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POLA PEMBINAAN BERDASARKAN EFESUS 5 : 22- 33 BAGI PERNIKAHAN DINI WARGA JEMAAT MASA KINI Rafles Rudi Laua
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.89

Abstract

Berdasarkan acuan pada kajian teoritik dan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sesuai fokus dan subfokus peneliti mengenai exegese Kitab Efesus 5:22-33 sebagai pola pembinaan bagi pernikahan, maka ditemukan sebab-sebab lemahnya penerapan pola pembinaan bagi pernikahan di Gereja Bala Keselamatan Desa Pani’i dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa. Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan. Kedua menurut penulis pola pembinaan dalam pernikahan merupakan suatu metode yang paling efektif dalam memberikan pembekalan kehidupan suami istri melalui konseling pranikah dimulai dari pengertian tentang hakekat pernikahan kristen, mengetahui pernikahan itu adalah rencana dan rancangan Allah dalam hidup manusia, dan pentingnya pola diterapkan pada setiap pelayanan diharapkan dapat membuat pelayanan menjadi berkualitas. Setiap gereja memiliki pola yang menjadi ciri dalam pelayanannya, bukan hanya sekedar untuk membuat pelayanan kelihatan aktivitasnya namun untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, pola pembinaan pernikahan Kristen yang telah menjadi bagian dari pelayanan gereja ini sejak lama tidak diterapkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan ibadah yang mengedepankan pembinaan pemuda dalam menghadapi pergaulan dan perencanaan masa depan memlalui rencana penikahan yang ada pada dasarnya memiliki pola pengajaran yang sama. Hanya disebagian ibadah ketegorial yang memiliki sedikit perbedaan. Penyebabnya adalah hamba Tuhan tidak dapat melihat tanda-tanda perubahan zaman dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi jemaat yang juga berubah. Hasilnya jemaat menjadi kurang peduli pentingnya pembinaan pernikahan Keempat, pola pembinaan pernikahan tidak mendapat perhatian dari hamba Tuhan dan kurangnya pemahaman dari hamba Tuhan mengenai pola pembinaan disebabkan kurangnya pengalaman dalam pembinaan, dalam hal ini hamba Tuhan harus terus meningkatkan dan memperlengkapi diri melalui buku-buku serta perlunya berelasi dengan gereja lain atau hamba Tuhan baik dari denominasi yang sama maupun dari denominasi gereja yang berbeda. Kelima, pembinaan melalui koseling merupakan pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membentuk pasangan suami istri sampai akhirnya mereka memahmi benar arti sebuah pernikahan Kristen dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Hamba Tuhan harus menerapkan pola yang dapat membuat pasangan suami istri merasa dewasa dalam menjalani kehidupan berumah tidak kehilangan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dalam penerapan pola ini, pemberitaa melalui firman Tuhan didaarkan pada kitab Efesus 5:22-33. Pola itu, sesungguhnya di zaman ini sangat diperlukan dikarenakan pengaruh-pengaruh sekuler yang begitu cepat mempengaruhi prilaku hidup dalam pernikahan yang dipengaruhi oleh: (1) Kekuatan Teknologi yang cepat sehingga antara kebutuhan dan keinginan tidak sesuai; (2) Komunikasi yang tidak harus dibangun ,justru membuat keretakan hidup suami istri dengan adanya perselingkuhan; dan (3) Tayangan-tayangan yang tidak lagi terbatas dapat disaksikan sehingga membentuk pola kehidupan yang tidak lagi mengutamakan kesucian hidup. Lemahnya pelayanan ini juga disebabkan: (a) Karena gereja kurang peduli akan pentingnya pembinaan sejak awal arti pernikahan Kristen (b) Gereja terlalu sibuk mengurusi hal-hal kegiatan gereja saja dan mulai meninggalkan perhatian kepada kehidupan keluarga. (c) Gereja tidak melaksanakan pola pembinaan sejak muda kepada pemuda-pemudi gereja untuk mempersiapkan hidup dalam berumah tangga (d) Karena kurang memperlengkapi diri, gereja tidak dapat menerapkan pola yang ada dalam Alkitab, sesungguhnya ada pola yang sangat ideal yang dapat diterapkan dalam pelayanan.