Agus Suryo Jarot Yudhono
Institut Injil Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELAYANAN KONSELING KRISTEN KEPADA PASANGAN SUAMI ISTERI DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK KELUARGA Agus Suryo Jarot Yudhono
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.100

Abstract

Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga adalah langkah penting yang harus segera dilakukan oleh setiap pelaku gereja (hamba Tuhan) yang berperan sebagai konselor. Sebab ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bahwa pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik adalah penting dan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Pelayanan konseling Kristen sebagai representatif Tuhan Yesus Kristus, Sang Konselor Agung, seharusnya pelayanan konseling Kristen dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sebagai bentuk meneladani figure Tuhan Yesus dalam melakukan konseling kepada umat manusia. Sehingga peran pelayanan konseling Kristen kepada jemaat khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga memberikan dampak yang besar secara rohani, dimana setiap jemaat dan keluarga Kristen tetap kokoh di dalam iman dan mampu menyelesaikan konflik keluarga dengan baik sesuai prinsip-prinsip Alkitabiah; (2) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga perlu mendapat perhatian khusus bagi gembala jemaat, gembala bertanggungjawab untuk memperhatikan langsung kegiatan pelayanan konseling Kristen tersebut karena seluruh pembinaan kerohanian jemaat, termasuk pelayanan konseling Kristen menjadi tanggung jawab seorang gembala jemaat. Jika gembala jemaat tidak aktif ada di tempat, maka pendelegasian kepada para pengerja gereja yang telah ditunjuk oleh gembala jemaat untuk melayani konseling Kristen kepada jemaat bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab; (3) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga menjadisolusi yang tepat di tengah-tengah perubahan dan perkembangan jaman yang semakin kompleks. Sekaligus persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga juga semakin kompleks sehingga dengan adanya pelayanan konseling Kristen mampu membantu memberikan jawaban dan jalan keluar bagi keluarga yang menghadapi konflik keluarga; (4) Bentuk keseriusan pelayanan konseling Kristen terhadap keluarga dalam menyelesaikan konflik perlu diwujudkan dengan proaktif. Sehingga gereja sebagai pelaku/konselor dari pelayanan konseling Kristen dapat berkontribusi dan berdampak terhadap keluarga yang sedang dalam menghadapi konflik sehingga keutuhan dan keharmonisan keluarga bisa tetap terjaga dengan baik; dan (5) Diperlukan kerjasama yang baik antara pihak gereja (gembala dan para pengerja) dengan seluruh jemaat, khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga untuk aktif melakukan konseling Kristen jika memerlukan konseling dalam menyelesaikan permasalahan maupun konflik keluarga yang tidak dapat terselesaikan secara pribadi. Maka pasangan suami-isteri perlu melibatkan pihak gereja untuk melakukan konseling Kristen dalam menyelesaikan permasalahan atau konflik keluarga.
Analisis Kritis Kisah Para Rasul 26: 14 Mengenai Panggilan Allah bagi Pemimpin Gereja dalam Konteks Masyarakat Postmodern (God’s calling for Church Leaders) Agus Suryo Jarot Yudhono
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.528

Abstract

Paper ini bertujuan untuk menemukan alasan yang mendasar mengenai panggilan Allah bagi pemimpin gereja sebagai mitra ditengah-tengah masyarakat postmodern untuk memperlengkapi gereja-Nya sehingga menjadi satu kesatuan utuh bagi pembangunan tubuh Kristus. Tujuan ini tidak terlihat pada pemimpin gereja di era postmodern yang telah kehilangan visi Allah (God’s Vision) terhadap panggilan bagi gereja-Nya, namun telah bergeser pada visi pribadi (Personal’s Vision) yang fokusnya pada money oriented, hedonisme dan popularitas diri. Untuk mengatasi masalah ini dan agar tercapainya tujuan paper ini, maka kajian artikel ini lebih tepat menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kritis literatur secara ekspositoris. Dari hasil penelitian ini akan melahirkan suatu paradigma baru sehingga terbentuk new frame bagi pemimpin gereja yang sesuai dengan visi Allah terhadap panggilannya. Alasan yang mendasar tersebut berdasarkan pada God’s Calling Purpose (GCP) yang dapat dirumuskan dalam bentuk akronim 3D: Dipanggil (Called), Dipilih (Chosen) dan Diperlengkapi (Equipped). Temuan ini sebagai kontribusi dalam mengatasi pergeseran tujuan awal panggilan Allah terhadap pemimpin gereja dari kepentingan pribadi kepada kepentingan Allah supaya kembali pada misi Allah bagi keselamatan jiwa-jiwa melalui gereja-Nya.