Cicilia Damayanti
Lecture and doctor candidate in Driyarkara School of Philosophy

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Imajinasi Untuk Merawat Kemanusiaan: Pemikiran Martha Nussbaum Dalam Pendidikan Humaniora Cicilia Damayanti
Studia Philosophica et Theologica Vol 21 No 1 (2021)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v21i1.328

Abstract

Pendidikan Martha Nussbaum membebaskan manusia dari kepicikan dan wawasan sempit. Dia menggunakan imajinasi untuk mewujudkan cita-cita masyarakat demokratis yang setara. Pola berpikir kritis sangat dibutuhkan bagi seseorang untuk lepas dari belenggu tradisi yang tidak manusiawi. Hal ini penting untuk menerima keragaman dan menghormati martabat kemanusiaan setiap orang. Multikulturalisme dan kosmpolitan menjadi bagian penting dalam pendidikan untuk merawat kemanusiaan. Pendidikan demokrasi dalam pandangannya memusatkan pendidikan pada dialog yang membantu seseorang untuk berpikir kritis dan menguji hidupnya. Filsafat berperan penting dalam membantu seseorang mempraktikkan kebijaksanaan dan mengkaji hidupnya. Dia menyatakan bahwa pendekatan kemampuan merupakan kesempatan atau kebebasan yang dimiliki setiap orang untuk bebas menjadi dirinya dan melakukan apa saja yang menjadi pilihannya. Dan hal ini didapat melalui pendidikan yang tepat dan sarana kesehatan yang memadai.
Posisi Perempuan dalam Lingkaran Pengetahuan Cicilia Damayanti
Studia Philosophica et Theologica Vol 21 No 2 (2021)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v21i2.339

Abstract

Peran perempuan di wilayah pengetahuan menjadi tanda tanya tersendiri karena mereka dianggap lebih menggunakan perasaan daripada nalar. Ilmu pengetahuan dipahami sebagai dunia yang membutuhkan nalar yang kuat sehingga perempuan dianggap kurang cakap dalam menggeluti bidang ini. Pandangan ini membuat kaum perempuan dianggap lebih cocok berada di wilayah domestik daripada publik. Hal ini membuat para feminis merasa bahwa kaum perempuan telah diperlakukan tidak adil karena selalu dipojokkan pada bidang perasaan semata. Mereka kemudian melakukan penelitian untuk membongkar paradigma ini dan mencoba menulis kembali sejarahnya. Melalui beberapa penelitian, terlihat bahwa perempuan juga berperan dalam dunia pengetahuan. Di samping itu mereka menemukan bahwa pengetahuan yang terkesan keras tetap membutuhkan segi emosi dalam perkembangannya. Sebab, ilmu pengetahuan akan berdaya guna bila dapat bermanfaat bagi hidup orang banyak dan tetap memperhatikan alam sekitar. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah perlunya kerja sama antara perempuan dan laki-laki dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi kesejahteraan hidup bersama. Hal ini juga dapat membongkar pemikiran bahwa perempuan juga bisa berguna dan bekerja di wilayah publik, bahwa banyak konstruksi budaya yang ada telah membelenggu hidup perempuan.
Kepedulian Dalam Pendidikan Untuk Mencapai Kesetaraan Perempuan Cicilia Damayanti
Studia Philosophica et Theologica Vol 22 No 1 (2022)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v22i1.399

Abstract

Etika kepedulian berhubungan dengan tindakan moral kepada orang lain. Berbicara tentang kesetaraan mempunyai hubungan yang erat dengan para perempuan. Sampai saat ini mereka masih memperjuangkan kesetaraan dalam hidup. Perempuan masih masih sering dianggap sebagai “ahli” dalam ranah domestik. Hal ini menjadikan kepedulian diakui sebagai bagian dalam hidup perempuan. Apakah benar demikian? Melalui pemikiran para tokoh perempuan ditemukan bahwa ternyata pembagian wilayah kepedulian menjadi milik perempuan adalah karena konstruksi budaya semata. Saat ini mulai diperjuangkan suatu perubahan paradigma untuk memberikan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki untuk bekerja sama, termasuk dalam wilayah kepedulian. Sarana yang dipakai adalah pendidikan. Pendidikan membuka banyak kesempatan dan kebebasan bagi setiap orang, termasuk perempuan, untuk mengubah hidupnya. Metode dalam artikel ini adalah analisis teks buku-buku tentang etika kepedulian yang ditulis oleh para pemikir perempuan.
Pengunaan Big Data dan Dampaknya di Dalam Dunia Politik: Munculnya Sikap Hopeful Ignorance Dalam Ragam Relasi Antarmanusia Cicilia Damayanti
Studia Philosophica et Theologica Vol 23 No 1 (2023)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v23i1.482

Abstract

The advent of digital technology has brought significant changes to political life, particularly in the use of big data for election campaigns. However, the use of psychographics in data analysis raises concerns about the manipulation of human behaviour and the potential harm it may cause. This article aims to explore the impact of psychographics on society in the digital era and the need for multiculturalism in computer programming. This study aims to examine the use of psychographics in political campaigns and its impact on society. Additionally, the study aims to highlight the need for multiculturalism in computer programming and the importance of data protection. The research method used in this study is book analysis, focusing on politics, technology, and big data. The study analyses the case of Cambridge Analytica and how it used psychographics to manipulate human behaviour. The study shows that the use of psychographics can lead to the creation of paradigms that promote hopeful ignorance, leading to a homogeneous society that may be vulnerable to societal explosions. Furthermore, the study highlights the importance of multiculturalism in computer programming to avoid bias and the need for data protection through cryptography. The study concludes that the use of psychographics in data analysis must be critically examined to avoid manipulation and harm to society. Furthermore, computer programs must embrace multiculturalism to avoid bias, and data protection must be prioritized to maintain privacy and security. Additionally, political candidates should be investigated thoroughly to reveal their authenticity beyond their ethos.