AbstractThe poem "Diponegoro" by Chairil Anwar and Wiji Thukul's poem "Bunga dan Tembok" are poemswhich talk about struggle. In this study, the researcher tries to find out the relationship of one toanother between two literary works from two different generations through an intertextualapproach. The method used is descriptive qualitative method which applies hermeneutic thinkingstrategy. Based on the results of the analysis, the poem "Diponegoro" by Chairil Anwar and thepoem “Bunga dan Tembok" by Wiji Thukul show the similarity of themes and messages. Thesimilarity reveals the struggle of people who were oppressed by the government. While thedifferences of both poems are the purpose of their struggle. In the poem "Diponegoro", the poetcalls for resistance against other nations which colonized Indonesia. While in the poem "Bungadan Tembok”, the poet invites the reader to fight his own government because it was consideredthat it had implemented an unjust governmental system. AbstrakPuisi “Diponegoro” karya Chairil Anwar dengan puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukulmerupakan puisi yang berbicara tentang perjuangan. Dalam penelitian ini, penulis berupayamenemukan hubungan antara karya satu dan yang lainnya dari dua generasi yang berbedamelalui pendekatan intertekstual. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatifdengan strategi berpikir hermeneutik. Berdasarkan hasil analisis, Puisi “Diponegoro” karya ChairilAnwar dengan puisi “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul menunjukan kesamaan tema danpesan. Persamaan tersebut mengungkap perjuangan seorang rakyat kecil yang tertindas akanpenguasa yang zalim. Sementara itu perbedaan yang tampak dalam kedua puisi tersebut adalahtujuan perjuangan yang mereka lakukan. Pada puisi “Diponegoro”, pengarang menyerukanperlawanan terhadap bangsa lain yang menjajah Indonesia. Sedangkan pada puisi “Bunga danTembok”, pengarang mengajak pembaca untuk melawan pemerintahnya sendiri karena dianggaptelah menerapkan sistem pemerintahan yang tidak adil.