Taufik Rahayu
Universitas Padjadjaran

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM CERPEN SUNDA KAWUNG RATU KARYA WAHYU WIBISANA KAJIAN EKOKRITIK Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2834

Abstract

Humans and the natural environment should have a mutually beneficial and mutually beneficial symbiotic relationship. Humans need the natural environment to survive, as well as the natural environment requires humans to maintain their habitat. But in fact, humans actually take advantage of the natural environment and over-exploit it with greed, causing environmental damage. Humans tend to think of themselves as anthropocentric, which then backfires on themselves, because nature is corrupted and humans become miserable. In a Sundanese short story entitled "“Kawung Ratu”" by Wahyu Wibasana, it is described how the human relationship with nature is so close and friendly. Nature and the environment are represented by kawung / aren / enau trees. There is a symbiotic relationship between mutualism that occurs in the main character (human) and the kawung tree (plant) which can then be interpreted as one of the ways the Sundanese are so close to nature. In the short story, the presence of nature and the environment is not to be overexploited but to be used as partners and friends in life. The research method used is a qualitative descriptive method, with a focus on ecocritical ethical studies. The results of his research clearly illustrate how the attitude of the main character Aki Sukarma towards the kawung tree which is named “Kawung Ratu” (nature), such as how responsibility, affection, care and caution are so as not to disturb their natural life. Through the short story “Kawung Ratu”, the Sundanese people can be said to be very close to nature and treat nature as well as they treat themselves. AbstrakManusia dan lingkungan alam seharusnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Manusia membutuhkan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Begitu juga lingkungan alam membutuhkan manusia untuk memelihara habitat hidupnya. Namun, pada kenyataanya manusia justru memanfaatkan lingkungan alam dan mengekspolitasinya secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Manusia cenderung menganggap dirinya antroposentris yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena alam rusak hidup manusia menjadi sengsara. Dalam cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Kawung Ratu” karya Wahyu Wibasana, digambarkan bagaimana hubungan manusia dengan alamnya yang begitu dekat dan bersahabat. Alam dan lingkungan diwakili oleh pohon kawung/aren/enau. Ada hubungan simbiosis mutualisme terjadi dalam tokoh utama (manusia) dengan pohon kawung (tumbuhan) yang kemudian dapat dimaknai sebagai salah satu cara orang Sunda bersahabat dengan alam. Dalam cerpen tersebut, kehadiran alam dan lingkungan bukan untuk diekspolitasi secara berlebihan tetapi dijadikan sebagai mitra dan sahabat dalam menempuh hidup. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan fokus kajian etis ekokritik. Hasil penelitiannya tergambar jelas bagaimana sikap dari tokoh utama Aki Sukarma terhadap pohon kawung yang diberi nama “Kawung Ratu”, seperti bagaimana tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian dan kehati-hatiaannya agar tidak mengganggu kehidupan alamnya. Melalui cerpen ““Kawung Ratu””, masyarakat Sunda dapat dikatakan begitu dekat dengan alam dan memperlakukan alam sebaik ia memperlakukan dirinya sendiri.
GAYA KEPENGARANGAN GODI SUWARNA DALAM KUMPULAN CERPEN MURANG-MARING Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.137 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.475

Abstract

This research aims to reveal the style of author Godi Suwarna in the short stories collection buku Murang-Maring. In the universe of Sundanese literature, the Godi’s writing style is a new thing that contradicts the general style of Sundanese literature that is realism. Godi grew up in a rural area, and later as an adult continued in an urban environment. His short stories are the collaboration and mixing between the city and the village, traditional and modern. The ideas that are raised into his work are also mostly reconstruct the traditional stories that already exist, be it from folklore, pantun stories, wayang stories, fairy tales and so forth into a new, more modern form in accordance with the will of the author. Godi and his works are dissected by using expressive studies that focus the discussion to the collection of short stories Murang-Maring and the character of Godi himself. Based on the results of the research, Godi is an author who is upset with the surrounding social circumstances. The clash between rules and freedom also greatly influences Godi's self in his works. Godi's short story works are like a container for aspiration and criticism. In addition, the influence of wayang is very visible in the short stories, either from the stroytelling style or borrowing the characters with his nyeleneh and unique style.AbstrakRiset ini bertujuan untuk mengungkap gaya pengarang Godi Suwarna dalam buku kumpulan cerpen Murang-Maring. Di jagat kesusastraan Sunda, gaya mengarang Godi adalah hal baru yang bertolak belakang dari gaya umum sastra Sunda yang beraliran realis. Godi dibesarkan di lingkungan pedesaan, dan kemudian setelah dewasa berlanjut di lingkungan perkotaan. Cerpen-cerpennya adalah kolaborasi dan percampuran antara kota dan desa, tradisional dan modern. Ide-ide yang diangkat ke dalam karyanya pun kebanyakan merekonstruksi cerita-cerita tradisional yang sudah ada, baik itu dari foklor, cerita pantun, cerita wayang, dongeng, dan sebagainya ke dalam bentuk baru yang lebih modern sesuai dengan kehendak pengarang. Godi dan karyanya dibedah dengan memakai kajian ekspresif yang memfokuskan pembahasan kepada kumpulan cerpen Murang-Maring dan sosok Godi sendiri. Berdasarkan hasil  penelitian, Godi termasuk pengarang yang gundah dengan keadaan sosial di sekitarnya. Benturan antara aturan dan kebebasan juga sangat memengaruhi diri Godi dalam karya-karyanya. Karya cerpen-cerpen Godi juga seperti wadah untuk menyalurkan aspirasi dan kritik. Selain itu, pengaruh wayang sangat kental terlihat dari cerpen-cerpennya, baik itu dari gaya penceritaannya maupun meminjam tokoh-tokoh dengan gayanya yang nyeleneh dan khas.
ANALISIS PROSES KREATIF PENGARANG SUNDA GODI SUWARNA MELALUI WAWANCARA KHUSUS DALAM JURNAL DANGIANG Taufik Rahayu
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 17, No 2 (2022): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v17i2.5206

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana proses kreatif pengarang Sunda Godi Suwarna yang bersumber dari wawancara khusus pengarang dengan Jurnal Dangiang dengan judul tulisan "Menolak Tradisi Bertolak dari Tradisi". Metode yang digunakan dalam riset ini adalah metode deskriptik interpretatif dan kecukupan referensial untuk mengetahui bagaimana proses kreatif pengarang. Adapun tahap-tahap dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis, dan penarikan simpulan yang menjadi faktor pendorong proses kreatif pengarang.Hasil penelitiannya, dalam proses kreatifnya Godi banyak memanfaatkan folklor, dongeng, cerita rakyat, dan cerita wayang dalam proses kepangarangannya, disaat yang sama pengarang antara menolak dan memanfaatkan nilai-nilai tradisi sebagai bagian dari proses kreatifnya. Di lingkungan sastra Sunda Godi adalah pembaharu dari aliran realis menuju surealis. Godi adalah pengarang yang teguh dan konsisten menulis dalam bahasa Sunda sebagai upaya ia yang ikut menjaga hidup kesusastraan Sunda.  AbstractThis article aims to reveal how the creative process of the Sundanese author Godi Suwarna comes from the author's special interview with the Dangiang Journal with the title "Rejecting Tradition from Tradition". The method used in this research is an interpretive descriptive method and referential adequacy to find out how the author's creative process is. The stages in this research are the data collection stage, the analysis stage, and drawing conclusions which are the driving factors for the author's creative process. The results of his research, in his creative process, Godi uses folklore, fairy tales, folklore, and wayang stories in his writing process, at the same time the author refuses and uses traditional values as part of his creative process. In Sundanese literature, Godi is a reformer from the realist to the surrealist school. Godi is a steadfast and consistent writer who writes in Sundanese as an effort to help preserve Sundanese literature.