Robiana Modjo
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Pada Lima Fasilitas Layanan Kesehatan di Provinsi Gorontalo Sari Tua Roy Nababan; Robiana Modjo; Riskiyana Sukandhi Putra; Syarif Potutu; Meilisa Rahmadani
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 11, No 4 (2021): November 2021
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/2trik11403

Abstract

 The spread of the SARS-CoV-2 virus is still happening all over the world, including in Indonesia. Various policies have been carried out by the government to prevent and control transmission, but the high interaction and mobility of the community is still a contributing factor resulting in new cases every day. The workplace is one of the locations that has the potential to cause transmission due to the close interaction and very high mobility of workers. One of such workplaces deemed at high risk of COVID-19 transmission is healthcare facilities (Fasyankes) such as hospitals and public health centers (puskesmas). The government through the Ministry of Health issued a Decree of the Minister of Health (KMK) of the Republic of Indonesia Number HK.01.07/MENKES/413/2020 concerning Guidelines for the Prevention and Control of COVID-19. This research is intended to see the extent to which Fasyankes have made efforts to prevent and control COVID-19 in accordance with the Decree of the Minister of Health. This research was conducted through a cross sectional survey with a mixed method of qualitative and quantitative approach in five Fasyankes in Gorontalo Province consisting of class B hospitals, class C hospitals, class D hospitals, outpatient puskesmas and inpatient puskesmas. From the research conducted, it was found that there are elements of prevention and control of COVID-19 in Fasyankes that have been carried out well, but some elements are still need to be improved. Among the three hospitals surveyed, class B hospitals are Fasyankes with the best fulfillment of elements, reaching 85%, followed by class D hospitals at 80%, while class C hospitals have the lowest fulfillment rate, which is 46%. In the category of puskesmas, outpatient puskesmas had 72% fulfillment while inpatient puskesmas had 51%. In general, it can be seen that there is still a lot of room to improve the efforts to prevent and control COVID-19 in the workplace, especially the Fasyankes. The prevention and control of COVID-19 in Fasyankes cannot be done in just one or two ways, but must be done comprehensively through intervention from various aspects. The effectiveness of the prevention and control of COVID-19 at Fasyankes will be able to reduce the number of COVID-19 transmissions in these workplaces in particular and in the community of Gorontalo Province and eventually in Indonesia.Keywords: COVID-19 case; COVID-19 prevention; healthcare facilitiesABSTRAK Penyebaran virus SARS-CoV-2 hingga saat ini masih terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Berbagai kebijakan telah dilakukan pemerintah untuk mencegah dan mengendalikan penularan, namun tingginya interaksi dan mobilitas masyarakat masih menjadi faktor yang berkontribusi mengakibatkan adanya kasus baru setiap harinya. Tempat kerja merupakan salah satu lokasi yang berpotensi mengakibatkan penularan dikarenakan interaksi dan mobilitas pekerja yang sangat tinggi. Sektor tempat kerja yang termasuk dalam risiko tinggi penularan COVID-19 adalah fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) seperti rumah sakit dan puskesmas. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19. Penelitian ini ditujukan untuk melihat sejauh mana Fasyankes melakukan upaya pencegahan dan pengendalian COVID-19 sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tersebut. Penelitian ini dilakukan melalui survei cross sectional dengan pendekatan mixed method kualitatif dan kuantitaif pada lima Fasyankes di Provinsi Gorontalo yang terdiri dari rumah sakit kelas B, rumah sakit kelas C, rumah sakit kelas D, puskesmas rawat jalan dan puskesmas rawat inap. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa terdapat elemen-elemen pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Fasyankes yang sudah dilakukan dengan baik, namun beberapa elemen di antaranya masih perlu ditingkatkan. Di antara ketiga rumah sakit yang disurvei, rumah sakit kelas B merupakan Fasyankes dengan pemenuhan elemen paling baik yakni mencapai 85%, disusul rumah sakit kelas D sebesar 80%, sedangkan rumah sakit kelas C yang paling rendah pemenuhannya yakni sebesar 46%. Dalam kategori puskesmas, maka puskesmas rawat jalan memiliki pemenuhan sebesar 72% sedangkan puskesmas rawat inap sebesar 51%. Secara umum dapat dilihat bahwa masih terdapat banyak ruang untuk melakukan peningkatan dan perbaikan upaya pencegahan dan pengendalian COVID-19 di tempat kerja, khususnya Fasyankes. Pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Fasyankes tidak dapat dilakukan hanya dengan satu atau dua cara saja, melainkan harus dilakukan secara komprehensif melalui intervensi dari berbagai aspek. Efektifitas pencegahan dan pengendalian COVID-19 di Fasyankes akan mampu menekan angka penularan COVID-19 di instansi tersebut secara khusus dan di masyarakat dalam Provinsi Gorontalo bahkan di Indonesia.Kata kunci: kasus COVID-19; pencegahan COVID-19; fasilitas layanan kesehatan 
FAKTOR RISIKO TERKAIT STRES KERJA DI INDUSTRI KONSTRUKSI: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Resty Wulandari; Robiana Modjo
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15135

Abstract

Di industri konstruksi, stres kerja merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Stres kerja tidak hanya memberikan dampak negatif pada pekerja, namun juga pada perusahaan tempat mereka bekerja. Stres dapat memberikan efek negatif pada tubuh, mengganggu kerja sistem dalam tubuh, mempengaruhi kondisi mental, menyebabkan unsafe action, penurunan produktivitas, dan penurunan kepuasan kerja. Hal ini menuntut perhatian berbagai pihak untuk mengatasinya. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk melihat secara sistematis kumpulan pengetahuan yang ada tentang faktor risiko terkait stres kerja (stresor) dalam proyek konstruksi. Artikel ini mengulas 18 artikel yang diterbitkan antara tahun 2014-2023. Artikel dipilih dari berbagai jurnal terakreditasi. Hasil penelitian mengidentifikasi 30 stresor di industri konstruksi. 5 penyebab stres teratas adalah "beban kerja berlebih" (7 artikel), "jam kerja panjang" (6 artikel), "konflik pekerjaan-keluarga" (6 artikel), "kompensasi/ penghargaan tidak sesuai" (5 artikel), dan "konflik peran” (5 artikel). Berdasarkan model stres kerja Davidson dan Cooper (1981), 4 dari 5 stresor berasal dari arena kerja dan 1 stresor berasal dari arena rumah. Semua stresor tersebut dapat mempengaruhi munculnya stres secara langsung maupun tidak langsung. Dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor risiko terkait stres kerja di industri konstruksi. Faktor risiko tersebut dapat berasal dari dalam lingkungan kerja maupun dari luar lingkungan kerja. Untuk mengendalikan stres kerja secara efektif dan efisien, diperlukan informasi tentang faktor risiko terkait stres kerja dan kerjasama berbagai pihak.