Kearifan lokal (local wisdom) etnik Jawa yang berupa ajaran budi pekerti luhur antara lain terdapatdalam tembang macapat. Kearifan lokal tersebut berkembang di kalangan masyarakat melalui tradisi lisanyang berupa kebiasaan melantunkan tembang macapat baik secara perorangan maupun kolektif. Salah satupakar tembang mengatakan bahwa tembang bisa dipakai sebagai sarana membangun kehalusan budi dancita rasa keindahan. Karena itu, jika di dalam larik-larik tembang itu disisipkan ajaran-ajaran budi pekertiyang luhur, maka dengan mudah dapat diingat-ingat dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Keindahantembang ketika dilantunkan juga bisa menyebabkan orang-orang terpesona. Dengan melantunkan tembangotomatis masyarakat juga menjadi hafal akan ajaran-ajaran yang terselip di dalamnya. Kearifan lokal etnikJawa tersebut antara lain terdapat dalam Tripama, Wulangreh, dan Kalatidha karya Mangkunagara IV,Pakubuwana IV, dan Ranggawarsita. Pesan penulis tembang tersebut berupa piwulang (ajaran) budi pekertiluhur yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, negara (raja), danmanusia lainnya. Sebagai contoh, yaitu ajaran tentang sikap kapahlawanan, nasionalisme, berperilaku positifdan upaya menghindari perilaku negative, cara mengelola pemerintahan yang harus selalu eling ingat danwaspada agar tidak terseret arus zaman edan. Pendidikan budi pekerti luhur melalui media tembang sepertitelah dilakukan oleh etnik Jawa tersebut kiranya dapat dimanfaatkan dalam pendidikan budi pekerti luhurbagi bangsa Indonesia.Kata kunci: tembang macapat, budi pekerti luhur, kearifan lokal etnik Jawa