Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Mencari Arah Baru Dialog dengan Agama Lain Setyawan, Heri Setyawan
Jurnal Kawistara Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.889 KB)

Abstract

Cara pandang penganutagamatertentu tentang dirinya dan penganutagama lain menentukan terjalinnya relasiantarumat beragama di masyarakat yangplural. Sebagai hasil penelitian langsungmelalui Focus Group Discussion (FGD) yangmelibatkan 150 orang dari agama Kristendan Islam di Surakarta, Jawa Tengah,dilaksanakan tahun 2009-2010, buku inimenyajikan data penting dan terkini tentangwacana relasi antarumat beragama diIndonesia. Analisis penulis yang didasarkanpada Analisis Wacana Kritis (CriticalDiscourse Analysis/CDA) juga memberikancara pembacaan baru dalam melihat relasiantarumat beragama di Indonesia.
Mencari Arah Baru Dialog dengan Agama Lain Heri Setyawan Setyawan
Jurnal Kawistara Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.889 KB) | DOI: 10.22146/kawistara.5675

Abstract

Cara pandang penganutagamatertentu tentang dirinya dan penganutagama lain menentukan terjalinnya relasiantarumat beragama di masyarakat yangplural. Sebagai hasil penelitian langsungmelalui Focus Group Discussion (FGD) yangmelibatkan 150 orang dari agama Kristendan Islam di Surakarta, Jawa Tengah,dilaksanakan tahun 2009-2010, buku inimenyajikan data penting dan terkini tentangwacana relasi antarumat beragama diIndonesia. Analisis penulis yang didasarkanpada Analisis Wacana Kritis (CriticalDiscourse Analysis/CDA) juga memberikancara pembacaan baru dalam melihat relasiantarumat beragama di Indonesia.
Nurturing Religious and Humanistic Values to Young Generations in Gulen and Jesuit Schools in Indonesia Heri Setyawan
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 6 No. 1 (2016): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.776 KB) | DOI: 10.15642/religio.v6i1.608

Abstract

Komunitas agama memainkan peranan penting dalam mendukung pendidikan di dalam masyarakat. Sejarah mencatat, organisasi keagamaan mempunyai peran penting dalam membina dan membentuk generasi muda agar menjadi pribadi yang kuat. Fondasi keagamaan dalam sebuah lembaga pendidikan dapat menjadi sumber untuk mendidik murid dalam hal pembelajaran nilai-nilai moral. Artikel ini mencoba memahami dua komunitas agama dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan di Indonesia. Dua kelompok itu adalah Hizmet Movement yang terinspirasi dari tokoh Fethullah Gulen di Turki dan Serikat Jesus (SJ), kelompok imam/biarawan Katolik. Hizmet Movement di Indonesia bekerja sama dengan institusi di Indonesia mendirikan sekolah-sekolah. Serikat Jesus atau Jesuit telah lama mendirikan sekolah-sekolah di Indonesia dan menjadi pionir dalam layanan pendidikan dalam sejarah Indonesia. Artikel ini akan menganalisis visi antropologi pendidikan Gulen-Inspired Schools dan sekolah Jesuit di Indonesia dalam mendidik orang-orang muda dengan pendidikan nilai. Artikel ini juga melihat program pendidikan sebagai cara untuk mengembangkan nilai-nilai pada para peserta didik.
Redefining the Role of Religion in Contemporary Society: Pope Francis and Sheikh Ahmad Muhammad al-Tayyeb Heri Setyawan
JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jsw.2019.3.2.4023

Abstract

This paper discusses the position of religion in contemporary society by examining the religious thoughts of two prominent religious leaders: Pope Francis from the Catholic Church and Sheikh Ahmad Muhammad al-Tayyeb from Al-Azhar University, Egypt. The meeting between Pope Francis and Sheikh Ahmad Muhammad al-Tayyeb in Abu Dhabi (February 2019) is a starting point for understanding the process by which the two religious leaders redefined the role of religion in society. Moreover, their responses to contemporary social issues such as terrorism, ecological crisis, war, and social injustices also show how they redefined the role of religion. While each religious leader formulates theological account into its religious tradition, it is obvious that the role of religion for social transformation and humanity is shown to be the central concern of the two religious’ leaders. The two religious traditions go further to put religion as a fundamental agent for society transformation.
NATIONALISM FOR CONTEMPORARY INDONESIA: A STUDY ON Y.B. MANGUNWIJAYA’S DURGA UMAYI AND BURUNG-BURUNG RANTAU Elisabeth Oseanita Pukan; Heri Setyawan
Sintesis Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v16i1.4608

Abstract

Literary works have the potential to function as a social document, outlining social history. Because of that, social picture can be abstracted from literature. This research delves into Mangunwijaya's novels “Durga Umayi” and “Burung-Burung Rantau” to examine the concepts of nationalism. The textual analysis of the narratives is done through identification of symbols and allusion, and the stories are perceived as national allegories. Theories of symbol, allusion, and allegory by Johnson Arp and Harmon Holman are utilized in the textual analysis. To draw the abstraction about nationalism, the researchers refer to Benedict Anderson’s theory. In the “Durga Umayi”, through the character of Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida, Mangunwijaya shows in achieving independence of the country, individuals involved are vulnerable. They can turn bitter and lose their purpose, even sell their own nation. Meanwhile, in “Burung-Burung Rantau”, Mangunwijaya shows the different characters in engaging to nationalism. The protagonist, Neti, exemplifies the idea of nationalism through her critical outlook on her own tradition. She opens herself to global values and derive from it good practices to be applied in her own country, Indonesia. The two narratives suggest that people must have a sense of allegiance to their nation while being critical, and they must understand their duties on the world stage. Additionally, that sense of nationalism must be shown through solidarity with one's fellow citizens, particularly the impoverished one.
Mencari Arah Baru Dialog dengan Agama Lain Heri Setyawan Setyawan
Jurnal Kawistara Vol 4, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.5675

Abstract

Cara pandang penganutagamatertentu tentang dirinya dan penganutagama lain menentukan terjalinnya relasiantarumat beragama di masyarakat yangplural. Sebagai hasil penelitian langsungmelalui Focus Group Discussion (FGD) yangmelibatkan 150 orang dari agama Kristendan Islam di Surakarta, Jawa Tengah,dilaksanakan tahun 2009-2010, buku inimenyajikan data penting dan terkini tentangwacana relasi antarumat beragama diIndonesia. Analisis penulis yang didasarkanpada Analisis Wacana Kritis (CriticalDiscourse Analysis/CDA) juga memberikancara pembacaan baru dalam melihat relasiantarumat beragama di Indonesia.
Bahasa Inggris Setyawan, Heri
Jurnal Adabiyah Vol 25 No 1 (2025): June (Islamic Humanities)
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jad.v25i1a8

Abstract

This study explores Said Nursi’s thoughts on interreligious dialogue as articulated in his monumental work, Risale-i Nur, within the socio-political context of Turkey in the 1920s, a period marked by the transition from the Ottoman Caliphate to the secular Republic. Amid tensions between Western modernization and Islamic tradition, Nursi developed a theological and socio-political thoughts that underscored the necessity of interreligious dialogue for the sake of peace, moral integrity, and mutual progress. In particular, The Words and The Letters, sections within Risale-I Nur, reveal Nursi’s understanding that interreligious dialogue arises from a faith-based commitment to truth, compassion, and justice. Nursi argues that ethical solidarity among the Abrahamic faiths, Islam, Christianity, and Judaism, constitutes a share responsibility before humanity and God. Exploration on interreligious dialogue within historical contexts of Turkey, provides an important contribution to finding a model of interfaith dialogue that resists secularist assumptions and remains profoundly relevant to the pursuit of religious harmony in today’s pluralistic world. الملخص تتناول هذه الورقة البحثية أفكار سعيد النورسي حول الحوار بين الأديان، كما عبّر عنها في عمله الرائد "رسائل النور"، وذلك في السياق الاجتماعي والسياسي لتركيا في عشرينيات القرن الماضي، وهي فترة اتسمت بالانتقال من الخلافة العثمانية إلى الجمهورية العلمانية. في خضمّ التوتر بين التحديث الغربي والتقاليد الإسلامية، طوّر النورسي فكرًا لاهوتيًا واجتماعيًا وسياسيًا أكّد على ضرورة الحوار بين الأديان من أجل السلام والنزاهة الأخلاقية والتقدم المشترك. ويكشف كتابا "الكلمات والحروف"، وهما جزء من "رسائل النور"، عن فهم النورسي بأن الحوار بين الأديان ينبع من التزام إيماني بالحق والرحمة والعدالة. وجادل النورسي بأن التضامن الأخلاقي بين الديانات الإبراهيمية - الإسلام والمسيحية واليهودية - مسؤولية مشتركة أمام البشرية والله. إن استكشاف الحوار بين الأديان في سياق التاريخ التركي يساهم بشكل مهم في إيجاد نموذج للحوار بين الأديان يرفض الافتراضات العلمانية ويظل وثيق الصلة بالسعي إلى تحقيق الانسجام الديني في المجتمع التعددي اليوم. Abstrak Penelitian ini mengkaji pemikiran Said Nursi tentang dialog antaragama sebagaimana disampaikan dalam karya monumentalnya, Risale-i Nur, dalam konteks sosial-politik Turki pada tahun 1920-an, periode yang ditandai oleh transisi dari Kekhalifahan Ottoman ke Republik sekuler. Di tengah ketegangan antara modernisasi Barat dan tradisi Islam, Nursi mengembangkan pemikiran teologis dan sosial-politik yang menggarisbawahi perlunya dialog antaragama demi perdamaian, integritas moral, dan kemajuan bersama. Secara khusus, The Words and The Letters, bagian dalam Risale-i Nur, mengungkapkan pemahaman Nursi bahwa dialog antaragama muncul dari komitmen iman terhadap kebenaran, kasih sayang, dan keadilan. Nursi berpendapat bahwa solidaritas etis di antara agama-agama Abrahamik—Islam, Kristen, dan Yahudi—merupakan tanggung jawab bersama di hadapan manusia dan Tuhan. Eksplorasi dialog antaragama dalam konteks sejarah Turki memberikan kontribusi penting untuk menemukan model dialog antaragama yang menolak asumsi sekuler dan tetap relevan secara mendalam terhadap upaya mencapai kerukunan umat beragama di masyarakat plural sekarang ini.