Kartika Setyawati
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MANTRA PADA KOLEKSI NASKAH MERAPI-MERBABU Kartika Setyawati
Humaniora Vol 18, No 1 (2006)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.042 KB) | DOI: 10.22146/jh.864

Abstract

Mantra may be defined as words full of power. It may be expressed both through words and letters/characters. When expressed through words, it is called mantraksara. As found in Merapi-Merbabu manuscripts, everybody can say or us mantra depending on his or her goals. Mantra is considered a secret and is passed along from one to another in a secret way. Mantra may be used for the purpose of gaining physical and sexual power, obtaining sympathy, love and pity healing sickness, and informing the spirit for various reasons.
Naskah-Naskah Merapi-Merbabu Koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia: Tinjauan Awal Kartika Setyawati
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.916 KB) | DOI: 10.22146/jh.1987

Abstract

Dalam khasanah kesastraan Jawa klasik yang tertuang dalam naskah (manuskrip) ada beberapa jenis/macam aksara yang dipakai untuk menyampatkannya. Secara umum aksara yang digunakan adalah aksara Jawa, Arab (Pagan), Bali (Jawa-Bali). Ada sebuah lagi aksara yang dipakai orang untuk menuliskan naskah (manuskrip) dan belum terlalu dikenal, yaitu yang disebut aksara buda. Pigeaud dalam bukunya Literatur of Jawa, Vol. I (1967) menamakan aksara buda dengan tulisan gunung.....buda, gunung script. Naskah-naskah Merapi- Merbabu memang ditemukan di daerah pegunungan. Pada naskah yang bekolofon menunjukkan tempat penulisannya yaitu di sekitar lereng gunung Merapi dan Merbabu. Dari tempat penulisannya itu, dua sarjana yang telah meneliti naskah beraksara buda menamakan naskah beraksara buda dengan sebutan naskah koleksi Merapi-Merbabu (Witlem van der Molen 1983 dan Kuntara 1990).
KUNTI IBU YANG PERAWAN DALAM EPOS MAHABHARATA Kartika Setyawati
Sintesis Vol 6, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v6i2.2702

Abstract

Tulisan ini akan mengungkapkan parthenogenesis dalam diri Kunti yang terdapat pada Epos Mahabarata. Parthenogenesisi ini tidak dapat dilepaskan dari peran Kunti melahirkan para pahlawan perang Bharatayuddha dan dia sendirilah yang turut andil terhadap terjadinya perang tersebut. Digambarkan bahwa Kunti merupakan ibu Pandawa, sekaligus Karna yang saling berlawanan dalam perang tersebut. Kunti mendampingi Pandawa sampai pada waktunya dilepas ketika Pandawa menemukan pelindungnya yaitu Dropadi. Kunti (dan Dropadi) bukan wanita lemah, dia merupakan salah satu pendorong terjadinya perang Bharatayuddha. Kunti adalah ibu yang perawan, yang menjadi jalan bagi para dewa untuk berinkarnasi ke dunia dalam rangka memulihkan Perthiwi dari para daitya yang menjelma ke dunia. Penghinaan Korawa terhadap Dropadi di balairung kerajaan Hastinapura sangat menyakitkan hati Kunti. Itulah alasan Kunti menginginkan agar perang tidak dibatalkan.KATA KUNCI Kunti, ivirgin birth, parthenogenesis, Mahabharata