Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Pencapaian Kompetensi Perekam Medis Dan Informasi Kesehatan Di Rumah Sakit Kota Yogyakarta Berdasarkan Metode Self Assessment Nuryati Nuryati; Nur Rokhman; Linia Riski Andriyani
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 3, No 1 (2018): Mei
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.29594

Abstract

Latar Belakang: Perekam medis dalam memberikan pelayanan harus sesuai dengan kompetensi, berdasarkan pendidikan dan pelatihan serta berkewajiban memenuhi Standar Profesi Perekam Medis. Khususnya di rumah sakit wilayah Kota Yogyakarta belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pencapaian kompetensi perekam medis dan informasi kesehatan.Tujuan: Memberikan gambaran mengenai pencapaian serta sumber kompetensi kerja perekam medis berdasarkan self assessment di rumah sakit wilayah Kota Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian adalah observasi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan cross sectional. Sampel terdiri dari 101 Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) di RS Kota Yogyakarta. Teknik pengambilan data dengan studi dokumentasi dan kuisioner. Analisis data menggunakan analisis univariate.Hasil: Tingkat pencapaian kompetensi PMIK di RS Kota Yogyakarta sebesar 75,11%, pencapaian tertinggi pada kompetensi Profesionalisme yang luhur sebesar 81%, sedangkan tingkat pencapaian kompetensi PMIK terendah di rumah sakit Kota Yogyakarta yaitu pada kompetensi Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan sebesar 72%. Berdasarkan masa dinas tingkat pencapaian tertinggi yaitu pada masa dinas 16-20 tahun sebesar 83% dan pencapaian terendah pada masa dinas >20 tahun yaitu sebesar 52%. Sumber perolehan kompetensi PMIK di RS Kota Yogyakarta yaitu 36% berasal dari kuliah, 9% dari pelatihan dan 55% dari kerja. Sedangkan sesuai dengan masa dinas sumber perolehan kompetensi terbanyak pada kuliah yaitu 41% pada masa dinas 6-10 tahun, pelatihan 33% pada masa dinas >16 tahun, dan kerja 86% pada masa dinas 11-15 tahun.Kesimpulan: Tingkat pencapaian kompetensi PMIK di RS Kota Yogyakarta sebesar 75,11% dengan sumber perolehan kompetensi sebanyak 55% berasal dari kerja.
Literatur Review: Pengembangan Instrumen Uji Kompetensi Pada Mahasiswa Bidang Kesehatan Nuryati Nuryati; Angga Eko Pramono
Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrmik.v8i1.12350

Abstract

Uji kompetensi wajib diikuti oleh mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa studi dengan metode exit exam. Maknanya wisuda mahasiswa setelah lulus uji kompetensi.  Sampai saat ini metode uji kompetensi secara nasional untuk mahasiswa D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) maupun Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) secara nasional dalam bentuk multiple-choice question dengan computer-based test (CBT). Sedangkan uji kompetensi metode Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dilaksanakan pada tingkat lokal beberapa perguruan tinggi.  Mengacu pada kelulusan uji kompetensi tahun 2023, prosentase kelulusan mahasiswa sarjana terapan belum mencapai 80%. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2023 terkait evaluasi pelaksanaan uji kompetensi dari 116 dosen RMIK-MIK, perlu dilakukan pelatihan pembuatan soal uji kompetensi (94%). Selain menjadi kewajiban dalam akhir masa studi, uji kompetensi CBT maupun OSCE juga merupakan prasayarat dalam pencapaian status akreditasi Unggul Prodi RMIK dan MIK, sehingga perlu dilakukan pengembangan instrumen uji kompetensi yang secara obyektif menilai kemampuan, keterampilan dan sikap mahasiswa RMIK-MIK sesuai dengan kebutuhan profesi PMIK.Metode penelitian yang digunakan adalah literatur review dengan menggunakan pencarian melalui google scholar, pubmed, sciencedirect, Cochrane library dan portal garuda. Penelitian diawali dengan mencari artikel dengan menggunakan keyword pengembangan, instrumen, uji kompetensi, mahasiswa kesehatan. Kriteria inklusi yang diterapkan adalah artikel terbit 2017-2024, fulltext, dan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.Dari 22 literatur yang terpilih, terdapat lima langkah dalam pengembangan instrumen uji kompetensi mahasiswa bidang kesehatan: pengembangan awal instrumen dengan melakukan identifikasi pemangku kepentingan, identifikasi domain kompetensi dan kerangka kerja yang dilakukan melalui tinjauan literatur, wawancara, FGD, teknik delphi, brainstorming dengan melibatkan pakar atau ahli. Langkah kedua adalah pengembangan instrumen dan uji validitas melalui konsultasi dengan pakar atau ahli. Langkah ketiga adalah pengujian instrumen dan reliabilitas melalui uji coba dan uji statistik, selanjutnya dilakukan modifikasi dan penyempurnaan berdasarkan umpan balik uji coba. Langkah terakhir adalah implementasi instrumen untuk mengukur kompetensi mahasiswa bidang kesehatan. Pengembangan sistematis ini memastikan instrumen uji kompetensi yang dihasilkan relevan dan efektif, serta membekali lulusan dengan keterampilan yang diperlukan untuk peran profesional mereka.